fbpx
LOGO

Manfaat Diet Keju untuk Kesehatan Jantung

October 30, 2020
IMG

Keju adalah produk olahan susu yang juga merupakan sumber protein dan kalsium yang baik. Keju dapat dijadikan cemilan, hidangan pembuka, atau tambahan saus, sup, kue kering dan banyak hidangan lainnya.

 

Terdapat berbagai macam jenis keju, diantaranya adalah keju susu murni, keju non-susu, keju rendah lemak, dan lainnya. Keju dapat terbuat dari susu sapi, domba, maupun kambing.

 

Beberapa orang menghindari keju yang terbuat dari susu karena mengalami alergi atau intoleransi laktosa. Sebagian besar keju juga tinggi natrium dan lemak jenuh yang dijauhi ketika menjalani diet vegan.

 

Padahal, keju memiliki manfaat yang sangat besar.

 

Produk olahan susu (dairy products) adalah contoh sumber lemak yang baik. Sebagian besar penelitian tidak menunjukkan adanya hubungan antara risiko penyakit kardiovaskular dan asupan keju. Penelitian menunjukkan bahwa tidak dijumpai adanya efek berbahaya yang muncul pada lipid darah ketika meningkatkan asupan lemak dari keju.

 

Beberapa rekomendasi resmi menyarankan untuk membatasi asupan lemak jenuh demi menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Namun bukti terbaru menunjukkan bahwa keduanya tidak berkaitan sama sekali (1).

 

 

Manfaat keju untuk kesehatan jantung

 

Sebuah uji coba crossover acak menganalisa perbandingan pengaruh lemak pada keju dan daging dengan karbohidrat pada penanda risiko kardiovaskular. Penelitian ini melibatkan wanita postmenopause sehat yang kelebihan berat badan.

 

Mereka diberikan tiga diet berat badan yang sangat terkontrol selama dua minggu yaitu diet keju, diet daging, dan diet tinggi karbohidrat. Masing-masing menu berbeda dalam komposisi sumber utama lemak makanan, yaitu keju vs daging.

 

Hasil penelitian menunjukkan diet keju dan diet daging menghasilkan profil lipid darah yang lebih menguntungkan daripada diet tinggi karbohidrat, dan menghasilkan ekskresi lemak dan empedu yang lebih besar.

 

Diet keju juga memiliki risiko paling rendah terhadap masalah kardiovaskular, disusul dengan diet daging dan diet tinggi karbohidrat. 

 

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa diet tinggi lemak (35% vs 25%) dan rendah karbohidrat (50% vs 60%) memiliki dampak yang menguntungkan pada lipid darah ketika rasio asam lemak jenuh, asam lemak tak jenuh tunggal, asam lemak tak jenuh jamak, serta protein, serat, gula, kolesterol, dan natrium dijaga konstan.

 

 

Mengganti daging dengan keju mungkin memiliki manfaat tambahan yang dimediasi melalui faktor-faktor seperti peningkatan asupan kalsium (2).

 

Adapun manfaat lain keju seperti menjaga kesehatan gigi, meningkatkan kesehatan pencernaan, sebagai sumber asam lemak omega-3, serta menunjang sel-sel yang sehat (3, 4). 

 

 

Referensi

Patel K. (2018). Put down the apple and have some cheddar. Examine. Diakses pada 21 Oktober 2019.

Butler N. (2017). Is cheese good or bad for you?. Medical News Today. Diakses pada 21 Oktober 2019.

Elsevier. (2019). Not all saturated fats are equal when it comes to heart health: Cardiovascular risk of diets rich in saturated fats found in meats and the benefits of plant-based and dairy alternatives, diakses dari www.sciencedaily.com/releases/2019/01/190128105230.htm pada 21 Oktober 2019.

Chowdhury R, Warnakula S, et al. Association of dietary, circulating, and supplement fatty acids with coronary risk: A systematic review and meta-analysis. Annals of Internal Medicine. (2014).

Thorning TK, Raziani F, et al. Diets with high-fat cheese, high-fat meat, or carbohydrate on cardiovascular risk markers in overweight postmenopausal women: a randomized crossover trial. The American Journal of Clinical Nutrition. (2015).

Science Daily. (2013). Cheese may prevent cavities. Science Daily. Diakses pada 21 Oktober 2019.

Zheng H, Yde CC, et al. Metabolomics investigation to shed light on cheese as a possible piece in the french paradox puzzle. ACS Publication. J. Agric. Food Chem. (2015).


Tags: ,