fbpx
LOGO

Manfaat Feniletilamin (PEA) Sebagai Nootropik

September 15, 2020
IMG

Feniletilamin (PEA) adalah hasil asam amino yang disintesis dari fenilalanin di otak. PEA merupakan amfetamin alami endogen di otak, dan strukturnya merupakan dasar bagi obat-obatan berbasis amfetamin termasuk adderall (amfetamin), obat penekan nafsu makan, dekongestan, antidepresan, dan psikedelik seperti MDMA (Metilendioksimetamfetamina) dan mescaline.

 

Feniletilamin berfungsi sebagai nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tanpa menghasilkan efek samping yang signifikan. 

 

Sebagai contoh, Feniletilamin yang terkandung di dalam telur menyebabkan suasana hati lebih baik dan mampu meningkatkan memori di waktu bersamaan. Efek yang sama bahkan lebih baik bisa didapat melalui suplementasi Feniletilamin, tanpa mengkonsumsi artichoke. 

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

PEA mengaktifkan reseptor TAAR1 dan TAAR2 yang berfungsi mencegah penyerapan dan meningkatkan pelepasan neurotransmitter serotonin dan dopamin. PEA memiliki waktu paruh yang sangat singkat karena terdegradasi oleh monoamine oxidase-B. 

 

 

Manfaat

 

1. Sebagai antidepresan

Feniletilamin secara alami meningkatkan neurotransmitter dopamin dan serotonin di otak Anda. Penelitian telah menunjukkan bahwa pasien yang depresi memiliki kadar feniletilamin yang lebih rendah. Bahkan, beberapa peneliti menyatakan bahwa kekurangan feniletilamin mungkin menjadi penyebab depresi (1).

 

Kombinasi suplementasi 60 mg feniletilamin (PEA) dan 10 mg selegilin (L-Deprenyl) setiap hari selama 50 minggu terbukti efektif mengurangi depresi yang berkelanjutan pada sejumlah besar pasien, termasuk beberapa yang tidak responsif terhadap perawatan standar.

 

Feniletilamin memperbaiki suasana hati secepat amfetamin tetapi tidak menghasilkan toleransi, dan terbukti lebih aman dibandingkan dengan SSRI, pengobatan depresi pada umumnya (2, 3).

 

2. Membantu mengobati ADHD

Sebuah hasil penelitian menunjukkan bahwa anak-anak ADHD (Attention deficit hyperactivity disorder) yang diobati dengan methylphenidate (Ritalin) menghasilkan kadar PEA yang lebih tinggi secara signifikan (4).

 

Feniletilamin berikatan dengan reseptor TAAR1 yang mengubah fungsi transporter monoamina, dan mengarah pada penghambatan serapan kembali dopamin, serotonin, dan norepinefrin. Hal ini akan meningkatkan konsentrasi neurotransmiter tersebut dalam sinapsis neuron (3).

 

Cara kerja obat-obatan seperti methylphenidate yaitu memblokir transporter dopamin secara langsung untuk meningkatkan konsentrasi sinaptik dopamin. Beberapa naturopaths mulai meresepkan Feniletilamin untuk perawatan ADHD daripada stimulan seperti amfetamin atau methylphenidate.

 

3. Sebagai pelindung saraf

Feniletilamin berperan dalam melindungi saraf otak dengan meningkatkan kadar hormon dopamin dan noreponefrin, sehingga mengurangi risiko gejala penyakit neurodegeneratif. Defisiensi kedua hormon tersebut diketahui berkaitan dengan penyakit Parkinson (6).

 

Feniletilamin juga berperan dalam mengontrol pelepasan neurotransmitter dopamin, norepinefrin, dan serotonin di otak. Namun, berbeda dengan obat stimulan lainnya, Feniletilamin hanya melepaskan neurotransmitter tersebut jika telah menerima sinyal pelepasan.

 

Pada akhirnya, hal ini meningkatkan kinerja kognitif, fokus dan kewaspadaan, libido, serta perasaan senang dan sejahtera (3).

 

 

 

Sumber 

 

Feniletilamin dapat ditemukan pada sumber hayati, seperti:

Kakao (coklat)

Telur

Semanggi

Kacang-kacangan

Ganggang 

Jamur dan bakteri 

Natto (makanan fermentasi khas Jepang)

 

 

Dosis

 

Untuk mendapat manfaat nootropik, disarankan untuk mengonsumsi feniletilamin dalam dosis 500 mg hingga 3 kali sehari.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Untuk memperpanjang efek feniletilamin (PEA), aman dikombinasikan dengan:

• Inhibitor MAO-B (selegilin (L-deprenyl)

• Hordenine

• Oat Straw

• Glycyrrhiza uralensis (ekstrak licorice China)

• Phellondendron amurense (kulit pohon gabus Amur)

• Ekstrak Ferula assafoetida (resin)

• Psoralea corylifolia (Gu Gu)

 

 

Efek Samping

 

Mudah tersinggung

Gelisah

Detak jantung cepat

Mual

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil atau menyusui

Anak-anak

Penderita Phenylketonuria (PKU)

 

 

Referensi:

Tomen, David. (2018). Phenylethylamine. Nootropics Expert. Diakses pada 18 September 2019.

Sabelli HC, Javaid JI. Phenylethylamine modulation of affect: therapeutic and diagnostic implications. J Neuropsychiatry Clin Neurosci. (1995).

Sabelli H, Fink P, Fawcett J, Tom C. Sustained antidepressant effect of PEA replacement. J Neuropsychiatry Clin Neurosci. (1996).

Xie Z, Miller GM. β-Phenylethylamine alters monoamine transporter function via trace amine-associated receptor 1: Implication for modulatory roles of trace amines in brain. Journal of Pharmacology and Experimental Therapeutics. (2008).

Kusaga A, Yamashita Y, Koeda T, et al. Increased urine phenylethylamine after methylphenidate treatment in children with ADHD. Ann Neurol. (2002). 

Miller GM. The emerging role of trace amine-associated receptor 1 in the functional regulation of monoamine transporters and dopaminergic activity. J Neurochem. (2011). 


Tags: , , , ,