fbpx
LOGO

Manfaat Karnosin (L-Carnosine) Sebagai Nootropik

October 8, 2020
IMG

L-Carnosine atau karnosin (β-alanyl-L-histidine) adalah dipeptida dari asam amino beta-alanin dan histidin. Karnosin ditemukan di seluruh tubuh, dan konsentrasi tertinggi berada pada area permintaan energi tinggi seperti otak, jantung, dan otot. Karnosin merupakan salah satu antioksidan dan suplemen anti-aging terkuat.

 

Karnosin juga merupakan salah satu obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tidak menghasilkan efek samping yang signifikan. 

 

Sebagai contoh, daging merah mengandung karnosin yang mampu menjaga otak dan meningkatkan fungsi kognitif pada waktu bersamaan. Efek yang sama bahkan lebih baik dapat diperoleh melalui suplementasi L-Carnosine, tanpa mengonsumsi daging merah.

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

Sebagai nootropik, karnosin terlibat dalam transmisi sinyal antar neuron, mengikat dan membantu menghilangkan AGEs (senyawa penanda penuaan akibat penyakit degeneratif), membantu dalam perawatan pasien dengan Alzheimer, dan mendukung proses detoksifikasi racun pada tubuh

 

Selain itu otak juga menggunakan L-Carnosine untuk memperbaiki jaringan dan meningkatkan output energi mitokondria. Nootropik ini menekan respon kekebalan berlebih ketika sistem kekebalan terlalu kuat, dan merangsang respons kekebalan jika Anda mengalami penurunan sistem imunitas. L-Carnosine bahkan memiliki kemampuan untuk menormalkan gelombang otak.

 

 

Manfaat Karnosin Sebagai Nootropik

 

1. Menjaga kesehatan otak

Aktivitas antioksidan, neuroprotektif, chelating (pengikatan suatu atom logam dengan senyawa organiknya), dan anti-glikasi pada L-Carnosine berguna untuk mengoptimalkan kesehatan dan fungsi otak serta mencegah dan mengobati penyakit pada indera mata (1).

 

Karnosin terbukti menurunkan stres oksidatif dan glikemik yang berdampak pada penurunan peradangan. L-Carnosine juga mampu mengurangi akumulasi plak β-amiloid yang menyebabkan terjadinya disfungsi kognitif serta Alzheimer melalui proses detoksifikasi logam berat (2, 3).

 

2. Meningkatkan fungsi kognitif

Kadar karnosin yang cukup berkaitan dengan mitokondria yang sehat. Mitokondria memompa energi dalam bentuk ATP (adenosine triphosphate). Selama produksi energi, proses glikasi akan menurunkan fungsionalitas dan efisiensi mitokondria, serta dapat menyebabkan apoptosis.

 

Produksi akhir glikasi (AGE’s) dapat menyebabkan Alzheimer, penuaan pada kulit, pengerasan pembuluh darah, dan mengurangi fungsi sebagian besar organ utama, termasuk fungsi otak. Penelitian menemukan bahwa L-Carnosine mampu mencegah produksi AGE yang berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif (4, 5).

 

Sebuah penelitian yang melibatkan 75 penderita skizofrenia diberikan 2 gram L-Carnosine setiap hari selama 3 bulan. Hasilnya terdapat peningkatan fungsi eksekutif dan kognisi yang lebih baik daripada kelompok penerima plasebo (6).

 

3. Meningkatkan gejala autisme pada anak

Karnosin berperan dalam meningkatkan fungsi lobus frontal di otak, dan bertindak sebagai pelindung saraf. Bila dikombinasikan dengan nootropik GABA, akan menghasilkan efek antikonvulsif atau anti-kejang.

 

Pemberian 800 mg L-Carnosine setiap hari pada anak autis mampu meningkatkan skor perilaku, kemampuan bersosialisasi, komunikasi dan kosa kata. Para peneliti menyimpulkan bahwa karnosin meningkatkan fungsi neurologis pada anak-anak dengan autisme (7).

 

4. Sebagai anti-aging

L-Carnosine memperlambat kematian sel atau apoptosis dengan mencegah penumpukan produk akhir glikasi (AGE’s).

 

Manfaat ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan Sydney Laboratory, Australia. Para peneliti menemukan bahwa karnosin memperpanjang usia sel lansia dalam percobaan pada cawan petri.

 

Setelah pemberian, usia sel mengalami peremajaan dan kembali menjadi usia sel yang lebih muda. Eskperimen diuji coba berulang kali pada laboratorium berbeda di seluruh dunia dan mendapat hasil yang serupa (8).

 

Sejak hasil penelitian diterbitkan, L-Carnosine disebut sebagai anti-penuaan terbaik dibanding dengan suplemen lainnya.

 

 

 

Sumber Makanan

 

L-Carnosine diproduksi secara alami di dalam tubuh dan bisa didapatkan melalui sumber makanan yakni daging merah dan daging unggas.

 

Namun, karnosin yang didapatkan dari sumber makanan hanya sebanyak 250 mg dan tidak dapat bertahan lama di dalam tubuh, karena dengan cepat terdegradasi oleh enzim karnosinase. Untuk mendapatkan manfaat optimal dari karnosin, ada baiknya untuk mengonsumsi suplemen L-Carnosine.

 

 

Dosis

 

Total dosis L-Carnosine yang disarankan adalah 1 gram per hari terbagi menjadi dua kali sehari. Jangan konsumsi karnosine sebelum tidur karena akan menyebabkan insomnia.

 

 

Interaksi Sinergi

 

L-Carnosine aman dikombinasikan dengan:

DMAE dan Acetyl-L-carnitine (ALCAR): Membantu membuang limbah lipofusin dari otak dan tubuh.

GABA: Menghasilkan efek anti-konvulsan.

 

 

Efek Samping

 

Insomnia

Perasaan lelah

Mimpi yang terasa nyata (vivid dream)

Ruam atau gatal

Mulut kering

Perubahan nafsu makan

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil atau menyusui

Tekanan darah rendah (hipotensi)

 

 

Referensi:

Tomen D. (2016). L-carnosine. Nootropics Expert. Diakses pada 11 September 2019.

WebMD. (2018).  Carnosine. WebMD. Diakses pada 11 September 2019. 

Budzeń S, Rymaszewska J. The biological role of carnosine and its possible applications in medicine. Adv Clin Exp Med. (2013).

Kohen R, Yamamoto Y, Cundy KC, Ames BC. Antioxidant activity of carnosine, homocarnosine, and anserine present in muscle and brain. Proc. NatI. Acad. Sci. USA. (1998).

Brown CE, Antholine WE. Chelation chemistry of carnosine. Evidence that mixed complexes may occur in vivo. J. Phys. Chem. (1979). 

Spauwen PJ, van Eupen MG, et al. Associations of advanced glycation end-products with cognitive functions in individuals with and without type 2 diabetes: the maastricht study. J Clin Endocrinol Metab. (2015).

Pepper ED, Farrell MJ, Nord G, Finkel SE. Antiglycation effects of carnosine and other compounds on the long-term survival of Escherichia coli. Appl Environ Microbiol. (2010).

Chengappa KN, Turkin SR, et al. A preliminary, randomized, double-blind, placebo-controlled trial of L-carnosine to improve cognition in schizophrenia. Schizophr Res. (2012).

Chez MG, Buchanan CP, et al. Double-blind, placebo-controlled study of L-carnosine supplementation in children with autistic spectrum disorders. J Child Neurol. (2002). 

McFarland GA, Holliday R. Further evidence for the rejuvenating effects of the dipeptide L-carnosine on cultured human diploid fibroblasts. Exp Gerontol. (1999). 


Tags: ,