fbpx
LOGO

Manfaat Kesehatan dan Bahaya Tersembunyi Singkong

October 20, 2020
IMG

Singkong termasuk dalam keluarga umbi-umbian yang berasal dari Amerika Selatan, dan banyak dikonsumsi sebagai makanan pokok di beberapa negara. Singkong merupakan sumber utama karbohidrat, kalori, dan beberapa nutrisi lainnya, termasuk serat, vitamin, dan mineral.

 

Singkong tinggi akan pati resisten, bentuk karbohidrat kompleks yang mudah dicerna dan bersifat seperti serat. Pati resisten memiliki banyak manfaat kesehatan, seperti membantu mengurangi peradangan, meningkatkan kesehatan pencernaan dan proses metabolisme, mengurangi risiko obesitas dan diabetes tipe 2, serta mengontrol gula darah.

 

Pati resisten juga dapat membantu untuk menurunkan berat badan dengan mengurangi nafsu makan dan memperpanjang rasa kenyang (1, 2).

 

Namun, beberapa metode pengolahan dapat mengurangi kandungan pati resisten. Produk yang terbuat dari singkong, seperti tepung, cenderung lebih rendah pati resisten daripada akar singkong yang telah dimasak dan kemudian didinginkan dalam bentuk utuh.

 

Singkong juga merupakan sumber kalori dan lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran akar lainnya, termasuk ubi jalar dan buah bit. Namun, mengonsumsi makanan berkalori tinggi dikaitkan dengan penambahan berat badan dan obesitas.

 

Disarankan untuk mengonsumsi singkong dalam batas wajar. Ukuran penyajian yang tepat adalah sekitar 73 – 113 gram.

 

Salah satu kelemahan singkong adalah kandungan antinutrien yang mampu menghambat penyerapan vitamin dan mineral dalam tubuh. Bagi peserta diet yang berfokus pada kacang dan biji-bijian serta singkong, hal ini dapat menyebabkan defisiensi nutrisi.

 

Selama Anda hanya mengonsumsi singkong sesekali, antinutrien tidak akan menjadi penyebab utama yang perlu dikhawatirkan. Bahkan, dalam beberapa keadaan, antinutrien seperti tanin dan saponin memiliki efek kesehatan yang bermanfaat (3, 4).

 

 

 

Mengolah dan mengonsumsi singkong

 

Bagian singkong yang paling sering dikonsumsi adalah akarnya, yang sering diolah dengan diparut atau ditumbuk menjadi tepung. Singkong juga bisa dimakan langsung, namun harus dimasak terlebih dahulu. 

 

Mengonsumsi singkong secara langsung tanpa proses memasak sangat tidak disarankan karena singkong mengandung sianogen glikosida, yang dapat melepaskan sianida dalam tubuh ketika dikonsumsi. Keracunan sianida dapat merusak fungsi tiroid dan saraf yang berujung pada kelumpuhan, kerusakan organ hingga mengakibatkan kematian.

 

Adapun ketika melewati banyak proses pengolahan, sebagian besar kandungan nutrisi pada singkong akan berkurang bahkan hilang. Mengolah singkong dengan mengupas, mencincang dan memasaknya akan menghancurkan banyak vitamin, mineral, serat, dan pati resisten.

 

Untuk pengolahannya, disarankan untuk merebus atau mengukus singkong untuk mempertahankan sebagian besar nutrisi yang terkandung. 

 

Berikut cara aman mengolah dan mengonsumsi singkong:

 

1. Kupas kulit singkong, karena kulitnya mengandung sebagian besar senyawa penghasil sianida.

 

2. Rendam dalam air selama 48-60 jam sebelum dimasak dan dimakan. Cara ini dapat mengurangi jumlah bahan kimia berbahaya yang dikandungnya.

 

3. Masak dengan cara direbus, dipanggan, atau ditumbuh dan diolah menjadi roti.

 

4. Kombinasikan konsumsi dengan protein, karena protein membantu membersihkan tubuh dari sianida beracun.

 

5. Pertahankan diet seimbang. Jangan jadikan singkong sebagai satu-satunya sumber nutrisi pada menu Anda.

 

 

Referensi

Elliot B. (2017). Cassava: Benefits and dangers. Healthline. Diakses pada 25 Oktober 2019.

Birt DF, Boylston T, Hendrich S, et al. Resistant starch: promise for improving human health. Adv Nutr. (2013). 

Bodinham CL, Frost GS, Robertson MD. Acute ingestion of resistant starch reduces food intake in healthy adults. Br J Nutr. (2010). 

Podolak I, Galanty A, Sobolewska D. Saponins as cytotoxic agents: A review. Phytochem Rev. (2010). 

Marrelli M, Conforti F, Araniti F, Statti GA. Effects of saponins on lipid metabolism: A review of potential health benefits in the treatment of obesity. Molecules. (2016).


Tags: