fbpx
LOGO

Manfaat L- Glutamin Sebagai Nootropik

October 9, 2020
IMG

L-glutamin adalah asam amino esensial dan senyawa yang membantu produksi glutamat dan asam gamma-aminobutirat (GABA). Kadar glutamin dan glutamat yang seimbang sangat penting untuk fungsi otak yang optimal.

 

Suplementasi L-glutamin populer di kalangan atlet dan binaragawan karena efeknya pada hormon pertumbuhan manusia (HGH – Human Growth Hormone) dan pemulihan otot setelah latihan.

 

L-glutamin juga merupakan salah satu obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tidak menghasilkan efek samping yang signifikan. 

 

Sebagai contoh, sayur bayam mengandung L-glutamin yang mampu meningkatkan hormon pertumbuhan manusia (human growth hormone) dan mengoptimalkan fungsi otak di waktu bersamaan. Efek yang lebih bisa didapat melalui suplementasi L-glutamin, tanpa perlu mengonsumsi sayur bayam.

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

Sebagai nootropik, L-glutamin meningkatkan efektivitas dan aktivitas neurotransmiter. Suplementasinya membantu meningkatkan fokus, energi, kognisi, retensi ketika belajar, mengatasi stres, dan menciptakan kualitas tidur yang lebih baik.

 

L-glutamin juga berfungsi untuk menangkal radikal bebas dan stres oksidatif. 

 

 

Manfaat

 

1. Mengoptimalkan fungsi otak

L-glutamin adalah prekursor glutamat dan GABA di otak. Keseimbangan glutamin dan glutamat sangat penting untuk otak yang sehat dan optimal. Siklus normal glutamin dan glutamat membutuhkan banyak energi di otak.

 

Selain itu, L-glutamin bekerja sebagai neurotransmiter yang berkaitan dengan kondisi waspada, peningkatan fokus dan konsentrasi, daya ingat, serta suasana hati.

 

Glutamat kemudian diubah menjadi GABA. Siklus Gln/Gly (GABA) diketahui menyumbang 80% konsumsi glukosa serebral. Gangguan pada siklus tersebut akan menyebabkan banyak masalah kesehatan, termasuk sindrom Reye, epilepsi, gangguan bipolar, skizofrenia, kecemasan, depresi, dan kecanduan alkohol (1).

 

2. Menjaga kesehatan otak

Disfungsi mitokondria dikaitkan dengan penurunan fungsi otak pada penyakit neurodegeneratif dan penuaan. Hal ini juga akan mengakibatkan peningkatan abnormal pada kadar glutamat. Terganggunya siklus Glu/Gln dan peningkatan kadar glutamat yang abnormal dapat mengakibatkan kerusakan otak (2, 3).

 

L-glutamin juga membantu meningkatkan respon kekebalan tubuh, melindungi tubuh dari patogen seperti virus dan bakteri. Dalam menjaga kesehatan otak, L-glutamin membantu otak melakukan detoksifikasi dari kadar amonia yang berlebih.

 

3. Meningkatkan hormon pertumbuhan manusia (HGH)

Binaragawan dan atlet menggunakan L-glutamin untuk membantu memperbaiki dan membangun otot. Beberapa penelitian juga mendukung klaim bahwa L-glutamin meningkatkan hormon pertumbuhan manusia (HGH – Human Growt Hormone).

 

Mencampurkan 3 gram L-glutamin dalam minuman soda terbukti meningkatkan kadar L-glutamin dan hormon pertumbuhan manusia secara signifikan. Hal ini membuktikan konsumsi L-glutamin dalam dosis kecil sudah dapat meningkatkan hormon pertumbuhan (4).

 

Dewasa sehat berusia 40-76 tahun yang mengonsumsi suplemen dosis 5 gram dengan kandungan glisin, L-glutamin, dan niasin dua kali sehari selama 3 minggu juga memperlihatkan peningkatan dalam HGH 70%. Kombinasi glisin, glutamin, dan niasin dapat meningkatkan sekresi GH (Growth Hormone) pada pasien paruh baya dan lanjut usia yang sehat (5).

 

HGH juga berkaitan dengan BDNF (Brain Derived Neuotrophic Factor) atau faktor neurotropik yang berasal dari otak. BDNF terlibat dalam proses potensiasi dan memori jangka panjang. Hal ini menandakan bahwa secara tidak langsung, HGH juga memiliki efek terhadap kesehatan dan fungsi kognisi.

 

 

 

Sumber Makanan

 

L-glutamin dapat ditemukan secara alami pada:

Daging sapi

Ikan

Telur

Susu dan produk susu

Gandum

Kembang kol

Kacang

Bayam

Peterseli

Buah bit

 

 

Dosis Rekomendasi

 

Dosis harian L-glutamin yang direkomendasikan adalah 2 hingga 5 gram per hari.

 

 

Interaksi Sinergi

 

L- glutamin dapat dikombinasikan dengan:

Vitamin B3 (Niasin): Membantu meningkatkan memori dan konsentrasi

• Glisin dan glutamin: Meningkatkan sekresi GH (Growth Hormone) pada paruh baya dan lansia

 

 

Defisiensi

 

Kadar L-glutamin yang rendah dapat meningkatkan perasaan takut, kecemasan, kelelahan berpikir, depresi (6), menjadi sering telat berfikir, dan sulit mengelola daya ingat.

 

 

Efek Samping

 

Pusing

Depresi

Insomnia

Peningkatan keringat atau keringat berlebih

 

 

Kontraindikasi

 

Kondisi dibawah ini disarankan menghindari atau membatasi suplementasi L-glutamin:

Alergi atau sensitif terhadap MSG (Monosodium glutamat)

Pasien kanker

Penderita sirosis hati

Penderita penyakit hati kronik

Pasien gangguan mental berat, termasuk mania atau memiliki riwayat kejang

 

Berhati-hati dalam mengombinasikan L-glutamin dengan laktulosa, obat kanker atau kemoterapi, dan antikonvulsan.

 

 

Referensi:

Tomen D. (2016). L-glutamine. Nootropics Expert. Diakses pada 12 September 2019.

WebMD. (2018).  Glutamine. WebMD. Diakses pada 12 September 2019.

De Witte P. Imbalance between neuroexcitatory and neuroinhibitory amino acids causes craving for ethanol. Addict Behav. (2004). 

Zhou Y, Kierans A, Kenul D, Ge Y, Rath J, Reaume J, Grossman RI, Lui YW. Mild traumatic brain injury: Longitudinal regional brain volume changes. Radiology. (2013). 

Lin MT, Beal MF. Mitochondrial dysfunction and oxidative stress in neurodegenerative diseases. Nature. (2006).

Welbourne TC. Increased plasma bicarbonate and growth hormone after an oral glutamine load. Am J Clin Nutr. (1995). 

Arwert LI, Deijen JB, Drent ML. Effects of an oral mixture containing glycine, glutamine and niacin on memory, GH and IGF-I secretion in middle-aged and elderly subjects. Nutr Neurosci. (2003). 

Lee Y, Son H, et al. Glutamine deficiency in the prefrontal cortex increases depressive-like behaviours in male mice. J Psychiatry Neurosci. (2013). 


Tags: ,