fbpx
LOGO

Beragam Manfaat Lesitin Kedelai, dari Mengatasi Stres Hingga Kolesterol

July 24, 2020
IMG

Lesitin adalah zat alami yang tersusun atas kumpulan asam lemak. Suplemen lesitin sendiri didapatkan dari berbagai sumber, salah satunya adalah dari tumbuhan kedelai, sehingga disebut lesitin kedelai.

 

Lesitin kedelai diekstrak dari biji kedelai mentah. Proses pertama dalam pembuatan lesitin kedelai adalah dengan mengekstraksi minyak kedelai menggunakan pelarut kimia bernama heksana. Kemudian minyak diproses dalam sebuah proses yang disebut degumming yakni proses pemisahan lesitin dari minyak kedelai lalu dikeringkan. 

 

Di dalam tubuh, lesitin bekerja sebagai pengemulsi, yakni bersifat menahan lemak serta mencegahnya bercampur dengan zat lain. Pada berbagai produk makanan, lesitin kedelai berfungsi mencampur komponen lemak dengan air sehingga menciptakan bentuk makanan yang lembut, mudah dicerna dan tidak meninggalkan noda lemak. Lesitin kedelai juga digunakan sebagai bahan dalam sabun pencuci piring atau spray anti lengket untuk memasak.

 

 

Manfaat Lesitin Kedelai bagi Tubuh

 

1. Membantu Mengobati Kolesterol Tinggi

Lesitin kedelai telah terbukti memiliki kemampuan signifikan untuk menurunkan kolesterol jahat (LDL – Low Density Lipoprotein) dan kolesterol total.

 

Pada sebuah penelitian tahun 2010 membuktikan bahwa pemberian suplemen lesitin kedelai sebesar 500 miligram setiap hari dapat menurunkan total kolesterol sebanyak 42 % dan kolesterol jahat (LDL) sebanyak 56% pada pasien hiperkolesterolemia (tinggi kadar kolesterol dalam darah) selama dua bulan pemakaian (1).

 

Sedangkan dalam sebuah penelitian pada hewan, pemberian lesitin kedelai memberikan efek yang sama, dimana lesitin kedelai secara signifikan menurunkan kolesterol jahat (LDL) tanpa mengurangi kolesterol baik (HDL – High Density Lipoprotein) (2).

 

2. Membantu Melawan Gejala Demensia

Kolin yang terkandung di dalam lesitin kedelai dapat membantu melawan gejala demensia atau penurunan daya ingat (pikun) serta meningkatkan kemampuan berpikir. Sebuah penelitian klinis menunjukkan bahwa diet  kaya kolin dapat membantu mempertajam ingatan dan membantu pasien dengan Alzheimer memiliki kualitas kognitif lebih baik (3).

 

Alzheimer merupakan salah satu jenis penyakit demensia yang ditandai dengan penurunan kemampuan berpikir dan mengingat secara kronis akibat pengecilan otak dan penumpukan plak beta amiloid pada jaringan otak.

 

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Advances in Therapy mengevaluasi efek positif suplementasi lesitin kedelain. Penelitian ini berlangsung selama 3 bulan dan melibatkan pasien lansia non-depresi dengan masalah memori, dan Alzheimer. Keduanya terbagi dalam kelompok penerima suplemen dan plasebo.

 

Setelah tiga bulan penelitan, pasien lansia non-depresi yang mengonsumsi lesitin kedelai menunjukkan peningkatan daya ingat dan tercegah dari terjadinya gangguan afektif musiman (SAD) dibandingkan kelompok yang menerima plasebo.

 

Sementara itu, kelompok pasien yang menerima suplemen lesitin kedelai juga melaporkan penurunan fungsi ADL (activity day living) atau kemampuan beraktivitas harian sebesar 3,8 % dan peningkatan stabilitas kemampuan hingga 90,6 %, dimana hasil ini lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok penerima plasebo. 49 % dari kelompok penerima suplemen ini juga memiliki kondisi umum yang lebih baik dibandingkan dengan 26,3 % dari kelompok penerima plasebo.

 

Dapat disimpulkan dari temuan ini bahwa kolin pada lesitin kedelai memiliki efek positif terhadap memori, kognisi dan mood (suasana hati) pada lansia dan penderita gangguan kognitif seperti demensia dan Alzheimer (4).

 

3. Mengatasi Stres Fisik dan Mental

Fosfatidilserin merupakan salah satu senyawa pada lesitin kedelai yang berkontribusi terhadap hormon stres ACTH (Adenocorticotropic hormone) dan kortisol. Fosfatidilserin yang berasal dari otak sapi telah terbukti mengatasi stres fisik pada manusia.

 

Kombinasi PAS (fosfatidilserin kompleks) dari otak sapi bersama dengan 400 mg fosfatidilserin kedelai merupakan dosis yang efektif untuk mengatasi stres, serta menurunkan respon stres fisik maupun psikologis (5).

 

 

 

 

4. Mengurangi Gejala Menopause

Hasil penelitian menyebutkan bahwa suplementasi lesitin kedelai membantu meningkatkan gejala menopause termasuk peningkatan kekuatan dan tingkat tekanan darah. Penelitian yang dilakukan pada tahun 2018 ini melibatkan 96 wanita berusia antara 40 – 60 tahun yang secara acak menerima suplemen lesitin kedelai dosis tinggi (1.200 mg per hari), dosis rendah (600 mg per hari) atau plasebo.

 

Setelah 8 minggu penelitian, ditemukan bahwa kelompok penerima suplemen lesitin kedelai mengalami peningkatan gejala menopause yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok penerima plasebo (6). 

 

5. Sebagai Sumber Kolin

Kolin adalah nutrisi penting yang dapat ditemukan dari berbagai sumber makanan, salah satunya adalah berasal dari lesitin kedelai. Lesitin kedelai mengandung fosfatidilkolin, salah satu bentuk utama kolin, yang memainkan peran penting dalam fungsi hati, pergerakan otot, metabolisme, fungsi saraf, dan perkembangan otak.

 

Kekurangan kolin akan mengakibatkan berbagai disfungsi organ, perlemakan hati (fatty liver), dan kerusakan otot. Para para peneliti di University of Wales Swansea mencatat bahwa bubuk lesitin kedelai atau suplemen yang mengandung kolin memiliki beragam manfaat kesehatan, termasuk mendukung kadar kolesterol, fungsi hati, dan fungsi otak yang sehat (7).

 

6. Mencegah Osteoporosis

Kandungan glikosida dalam kedelai merupakan senyawa yang sangat berperan penting dalam mencegah pengeroposan tulang atau osteoporosis. Sebuah review sistematis menunjukkan berbagai senyawa isoflavon dalam lesitin kedelai memiliki efek estrogenik, tinggi antioksidan, dan memiliki efek modulasi pada sistem imunitas tubuh sehingga membantu menjaga kepadatan tulang, terutama pada wanita yang menghadapi masa menopause maupun lansia pada umumnya (8). 

 

7. Meningkatkan Imunitas Secara Umum

Pada sebuah percobaan dengan tikus, pemberian 2 gram lesitin kedelai setiap hari selama 7 hari menunjukkan peningkatan makrofag fagosit sebesar 29% dan limfosit hingga 92%. Makrofag fagosit merupakan sel darah putih yang bertugas untuk menemukan, menelan, dan menghancurkan benda asing penyebab penyakit seperti mikroba dan berbagai patogen lainnya. Sedangkan limfosit merupakan salah satu jenis sel darah putih yang bertugas menjaga kekebalan tubuh dari virus, bakteri, hingga sel kanker.

 

Meski penelitian ini masih sebatas dilaksanakan pada hewan, namun lesitin kedelai telah menunjukkan manfaat yang sangat potensial bagi peningkatan sistem imunitas tubuh (9). 

 

 

Sumber Makanan

 

Biji kedelai mentah

Beberapa makanan fermentasi dari biji kedelai juga mengandung lesitin kedelai seperti miso, tempe, natto 

 

 

Dosis Pemakaian

 

Dosis lesitin kedelai yang direkomendasikan berkisar antara 500-2.000 mg per hari.

 

Dosis maksimum lesitin yaitu 5.000 mg per hari.

 

• Cek selalu keterangan dalam label makanan, karena beberapa lesitin kedelai diolah dari biji kedelai GMO (Genetically Modified Organism) atau transgenik yang mengalami rekayasa genetik dan memiliki risiko alergi lebih tinggi dibandingkan kedelai organik

 

 

Interaksi Sinergi

 

Boswellia Serrata, Curcumin, Silymarin (dari Milk thistle), ekstrak biji anggur, katekin teh hijau, Resveratrol, dan Naproxen: Mengkombinasikan lesitin kedelai dengan obat dan herbal tersebut dapat membantu meningkatkan efektivitas penyerapan oleh saluran pencernaan.

 

 

Efek Samping

 

Diare

Mual

Pusing

Sakit kepala

Sakit perut

Begah/rasa penuh pada area perut

 

 

Kontraindikasi

 

Orang dengan kondisi dibawah ini diharapkan berhati-hati dan membatasi konsumsi lesitin kedelai:

Ibu hamil dan menyusui

Penderita alergi telur dan kedelai

 

 

Referensi

Patel, Kamal. (2013). Soy lecithin. Examine. Diakses pada 15 Juli 2019.

Axe, Josh. (2018). What is soy lecithin? 8 potential major benefits. Dr Axe. Diakses pada 15 Juli 2019.

Schaefer, Anna. (2019). Is soy lecithin good or bad for me?. Healthline. Diakses pada 15 Juli 2019.

Watson, Kathryn. (2017). Lecithin benefits. Healthline. Diakses pada 15 Juli 2019.

WebMD. (2018). Lecithin. WebMD. Diakses pada 15 Juli 2019.

Mourad AM, de Carvalho Pincinato E, Mazzola PG, Sabha M, Moriel P. Influence of soy lecithin administration on hypercholesterolemia. Cholesterol. (2010).

Wilson TA, Meservey CM, Nicolosi RJ. Soy lecithin reduces plasma lipoprotein cholesterol and early atherogenesis in hypercholesterolemic monkeys and hamsters: Beyond linoleate. Atherosclerosis. (1998).

Poly C, Massaro JM, Seshadri S, et al. The relation of dietary choline to cognitive performance and white-matter hyperintensity in the Framingham Offspring Cohort. Am J Clin Nutr. (2011). 

Moré MI, Freitas U, Rutenberg D. Positive effects of soy lecithin-derived phosphatidylserine plus phosphatidic acid on memory, cognition, daily functioning, and mood in elderly patients with Alzheimer’s disease and dementia. Adv Ther. (2014).

Hellhammer J, Fries E, Buss C, et al. Effects of soy lecithin phosphatidic acid and phosphatidylserine complex (PAS) on the endocrine and psychological responses to mental stress. Stress. (2004).

Hirose A, Terauchi M, Osaka Y, Akiyoshi M, Kato K, Miyasaka N. Effect of soy lecithin on fatigue and menopausal symptoms in middle-aged women: a randomized, double-blind, placebo-controlled study. Nutr J. (2018). 

Jäger R, Purpura M, Kingsley M. Phospholipids and sports performance. J Int Soc Sports Nutr. (2007).

Zheng X, Lee SK, Chun OK. Soy isoflavones and osteoporotic bone loss: A review with an emphasis on modulation of bone remodeling. J Med Food. (2016). 

Miranda DT, Batista VG, Grando FC, et al. Soy lecithin supplementation alters macrophage phagocytosis and lymphocyte response to concanavalin A: a study in alloxan-induced diabetic rats. Cell Biochem Funct. (2008).


Tags: , , , , ,