fbpx
LOGO

Bukan Membakar Lemak, Ini 6 Manfaat Utama Mandi Sauna

September 10, 2020
IMG

Sauna atau mandi sauna sebenarnya sudah ada sejak 3.000 tahun yang lalu dan masih populer hingga sekarang. Sauna berupa sebuah ruangan panas dimana orang-orang dibiarkan berkeringat di dalamnya dengan tujuan relaksasi. 

 

Biasanya, suhu ruangan sauna berkisar antara 45 – 90, kelembaban antara 10%-50%, dan waktu bersauna 5 hingga 20 menit.

 

Paparan panas pada ruangan sauna akan menyebabkan hipertermia ringan (peningkatan suhu inti tubuh) yang menginduksi respons termoregulasi yang melibatkan neuroendokrin, kardiovaskular, dan mekanisme sitoprotektif yang bekerja bersama untuk mempertahankan keseimbangan antara panas yang dihasilkan tubuh dan panas yang dikeluarkan.

 

Sauna pertama kali dilakukan oleh suku Maya. Kegiatan ini dianggap mampu membantu orang untuk beristirahan dan bersantai, dan memiliki berbagai manfaat kesehatan, terutama menjaga kesehatan kardiovaskular.

 

 

Manfaat Mandi Sauna

 

Kemampuan seseorang mandi sauna berbeda. Meski memiliki perbedaan dalam suhu ruangan, kelembaban, dan durasi melakukan sauna, manfaat kesehatan yang didapatkan tetaplah sama.

 

Beberapa manfaat kesehatan yang didapatkan dari bersauna diantaranya:

 

1. Meningkatkan kesehatan kardiovaskular

Seperti olahraga, rutin melakukan sauna dalam jangka panjang dapat meningkatkan tekanan darah, fungsi endotel, fungsi ventrikel kiri, dan mengurangi peradangan. Ketika seseorang melakukan sauna, detak jantungnya meningkat hingga 100-150 detak per menit, dan pembuluh darah melebar, sehingga dapat meningkatkan sirukulasi darah. 

 

Studi kohort yang dilakukan oleh Kuopio Ischemic Heart Disease Risk Factor (KIHD) menunjukkan bahwa pria yang menggunakan sauna dua hingga tiga kali per minggu berisiko 27% lebih rendah terkena gangguan kardiovaskular daripada pria yang tidak menggunakan sauna.

 

Mereka juga mengungkapkan bahwa rutin mandi sauna mampu mengurangi risiko pengembangan demensia dan penyakit Alzheimer, menurunkan pengembangan gangguan psikotik, dan status inflamasi.

 

Penggunaan sauna juga dikaitkan dengan tekanan darah rendah dan peningkatan fungsi jantung.

 

2. Menurunkan peradangan berlebih (inflamasi)

Peradangan merupakan respons kekebalan tubuh ketika menghadapi benda asing yang masuk. Peradangan akut terjadi setelah cedera kecil atau infeksi dan ditandai dengan kemerahan, pembengkakan, atau demam lokal.

 

Peradangan kronis terjadi pada tingkat sel sebagai respons terhadap racun atau pemicu stres lainnya dan seringkali tidak terlihat. Peradangan berlebih berkaitan dengan perkembangan banyak penyakit kronis, termasuk kanker, penyakit kardiovaskular, dan diabetes.

 

Protein C-reaktif (CRP), salah satu dari beberapa protein darah, berpartisipasi dalam inflamasi tubuh. Peningkatan CRP dikaitkan dengan perkembangan aterosklerosis, hilangnya elastisitas arteri dan masalah kardiovaskular.

 

Penggunaan sauna diketahui dapat mengurangi kadar CRP dalam darah. Dalam sebuah penelitian terhadap lebih dari 2.000 pria yang tinggal di Finlandia, tingkat CRP berbanding terbalik dengan frekuensi mandi sauna, dimana pria yang sering mandi sauna memiliki tingkat CRP yang lebih rendah.

 

3. Menjaga kesehatan kognitif 

Fungsi kognitif dipengaruhi oleh pasokan darah dan oksigen ke otak dan sistem saraf tepi. Paparan panas pada ruangan sauna meningkatkan produksi BDNF. BDNF (Brain-derived neurothropic factor) adalah protein yang bekerja di otak, yang memodulasi kemampuan jaringan saraf untuk berubah secara struktural maupun fungsional sebagai respon adaptasi (plastisitas neuron).

 

BDNF juga terlibat dalam mengurangi kegelisahan dan depresi efek stres, proses pembelajaran, memori jangka panjang, dan fungsi eksekutif. BDNF juga diproduksi dalam melatih jaringan otot, di mana ia berperan dalam perbaikan otot dan pertumbuhan sel otot baru. 

 

Paparan panas pada sauna juga dikaitkan dengan peningkatan hormon norepinefrin dan hormon prolaktin. Norepinefrin berperan atas fokus dan perhatian. Sedangkan prolaktin meningkatkan pertumbuhan mielin sehingga mempercepat fungsi otak dan perbaikan kerusakan sel saraf.

 

4. Mengatasi depresi

Dalam beberapa penelitian, penggunaan sauna dapat menurunkan depresi pada partisipan dengan depresi. Efek antidepresannya tampak jelas dalam satu minggu perawatan dan bertahan selama enam minggu setelah perawatan.

 

Hal tersebut tampaknya dikaitkan dengan sistem opioid. Penggunaan sauna dapat meningkatkan beta-endorfin, hormon yang merupakan bagian dari sistem penghilang rasa sakit alami tubuh dan bertanggung jawab atas respons “merasa-enak” untuk berolahraga. Penggunaan sauna juga mempromosikan pelepasan dynorphin, hormon yang bertanggung jawab atas rasa tidak nyaman atau ketidakpuasan (disforia). 

 

5. Meningkatkan fungsi hormonal dan metabolik

Penggunaan sauna dikaitkan dengan peningkatan hormon pertumbuhan dan penurunan insulin dan glukosa (1, 2). Sauna mendorong pelepasan hormon pertumbuhan, yang bervariasi sesuai dengan waktu, suhu, dan frekuensi. Pelepasan hormon pertumbuhan semakin meningkat pada penggunaan sauna pada hari ketiga. 

 

Meskipun efek hormon pertumbuhan umumnya bertahan selama beberapa jam pasca sauna. Namun, mengkombinasikan penggunaan sauna dan olahraga dapat secara signifikan meningkatkan hormon pertumbuhan.

 

6. Meningkatkan kinerja

Stres panas akibat menggunakan sauna dapat memodulasi peningkatan kebugaran fisik dan kinerja atletik dengan meningkatkan atau mempertahankan daya tahan dan mempromosikan peningkatan massa otot. Sebuah studi intervensi dalam skala kecil menemukan efek penggunaan sauna berulang pada peningkatan kinerja atletik dan efek fisiologis lainnya pada enam pelari pria (3).

 

Paparan panas melalui penggunaan sauna juga dapat mengurangi jumlah degradasi protein yang terjadi selama tidak digunakan dengan meningkatkan HSP (Heat Shock Protein) yang dapat mencegah kerusakan protein otot dan dapat memperbaiki protein yang rusak, sehingga memastikan protein mempertahankan struktur dan fungsi yang tepat.

 

 

 

Hal yang Harus Diperhatikan Sebelum Mandi Sauna

 

Untuk menghindari dampak negatif kesehatan, berikut hal-hal yang harus diperhatikan dan tindakan pencegahan yang disarankan:

 

Hindari alkohol

Alkohol meningkatkan risiko dehidrasi, hipotensi, aritmia, dan kematian mendadak. 

 

• Batasi waktu yang dihabiskan di sauna

Jangan menghabiskan lebih dari 20 menit pada satu waktu di sauna. Pengguna pertama kali harus menghabiskan maksimal 5 hingga 10 menit. Ketika mereka terbiasa dengan panas, maka waktu sauna perlahan-lahan dapat ditingkatkan menjadi sekitar 20 menit.

 

• Minum banyak air

Sauna akan menyebabkan seseorang kehilangan cairan karena berkeringat. Disarankan untuk minum sekitar dua hingga empat gelas air setelah melakukan mandi sauna.

 

• Hindari penggunaan sauna jika sedang sakit

Orang yang sakit harus menunggu sampai pulih sebelum melakukan mandi sauna. Wanita yang sedang hamil atau mereka yang memiliki kondisi medis tertentu, seperti tekanan darah rendah, harus bertanya kepada dokter mereka sebelum menggunakan sauna.

 

Awasi anak-anak

Orangtua harus mengawasi penggunaan sauna pada anak-anak. Penggunaan sauna pada anak-anak disarankan tidak lebih dari 15 menit.

 

 

Kontraindikasi

 

Meski terlihat aman, mandi sauna ternyata tidak disarankan untuk dilakukan oleh beberapa orang dengan kondisi tertentu. Penggunaan sauna selama kehamilan dapat membawa risiko kesehatan bagi janin yang sedang berkembang, sementara anak-anak yang sehat aman menggunakan sauna saat mencapai usia diatas dua tahun dengan pengawasan orang tua.

 

Mereka yang menggunakan obat apa pun, baik yang diresepkan atau dijual bebas harus berkonsultasi dengan dokter sebelum penggunaan sauna.

 

Orang dengan penyakit akut disertai demam atau kondisi kulit yang meradang, tekanan darah rendah, penyakit ginjal, dan penyakit jantung juga harus menghindari penggunaan sauna. 

 

 

Referensi

Found My Fitness. (2019). Sauna. Found My Fintess. Diakses pada 16 Agustus 2019.

Ranchod Y. (2019). Sauna: Health benefits, risks, and precautions. Medical News Today. Diakses pada 16 Agustus 2019. 

Leppäluoto J, Huttunen P, Hirvonen J, Väänänen A, Tuominen M, Vuori J. Endocrine effects of repeated sauna bathing. Acta Physiologica Scandinavica. (1986).

Kokura S, Adachi S, et al. Whole body hyperthermia improves obesity-induced insulin resistance in diabetic mice. International Journal of Hyperthermia. (2007). 

Scoon GSM, Hopkins WG, Mayhew S, Cotter JD. Effect of post-exercise sauna bathing on the endurance performance of competitive male runners. JSAMS. (2006).


Tags: , ,