fbpx
LOGO

Manfaat PABA (Para-aminobenzoic Acid) untuk Kesehatan Kulit

August 7, 2020
IMG

Asam para-aminobenzoic (PABA) adalah senyawa kimia yang terkandung dalam vitamin B kompleks dan beberapa makanan, termasuk biji-bijian, telur, susu, dan daging. PABA sangat diperlukan bagi tubuh, karena berfungsi sebagai prebiotik atau makanan yang dibutuhkan bakteri baik usus (probiotik) untuk tetap hidup dan menjalankan aktivitasnya.

 

Saat ini, PABA sedang dipelajari sebagai radiosensitizer atau zat yang membuat sel-sel tumor lebih sensitif terhadap terapi radiasi dan pengobatan gangguan kulit tertentu. Mengaplikasikan PABA pada kulit diketahui dapat berfungsi sebagai tabir surya. Suplementasinya juga digunakan untuk kondisi kulit termasuk vitiligo, pemfigus, dermatomiositis, morphea, lymphoblastoma cutis, penyakit peyronie, dan scleroderma. 

 

PABA juga digunakan untuk mengobati infertilitas pada wanita, radang sendi, anemia, demam rematik, sembelit, systemic lupus erythematosus (SLE), dan sakit kepala. Bahkan manfaatnya pada rambut termasuk menghitamkan rambut serta mencegah rambut rontok. 

 

Saat ini, penggunaan PABA tidak sesering sebelumnya karena banyak pihak yang mempertanyakan efektivitas dan efek sampingnya bagi kesehatan.

 

 

Manfaat

 

1. Sebagai Tabir Surya

FDA atau Food and Drug Administration AS menyetujui penggunaan PABA sebagai tabir surya. Meski begitu, efektivitas PABA tampaknya hilang ketika digunakan berenang, dan masih baik-baik saja dalam kondisi berkeringat. 

 

2. Membantu Mengobati Penyakit Peyronie

FDA telah menyetujui penggunaan PABA untuk pengobatan peyronie. Peyronie adalah suatu kondisi dimana penis menjadi bengkok karena akumulasi plak fibrosa. Beberapa penelitian terdahulu mendukung penggunaan PABA untuk penyakit peyronie.

 

Sebuah penelitian awal menggunakan PABA sebagai pengobatan pada 21 partisipan pria yang menderita penyakit peyronie. Setelah mengonsumsi PABA 12 gram perhari, seluruh partisipan melaporkan rasa nyeri berkurang, 82% mengatakan kelengkungan penis meningkat, dan 76% mengalami pengurangan ukuran plak (1).

 

Sebuah studi plasebo-terkontrol double-blind meneliti efek pengobatan menggunakan PABA pada 103 pria dengan penyakit peyronie. Setelah satu tahun penelitian menunjukkan bahwa penggunaan PABA dengan dosis 4×3 gram per hari secara signifikan memperlambat perkembangan penyakit peyronie, namun tidak mengurangi plak yang sudah ada sebelumnya (2).

 

3. Membantu Mengobati Scleroderma

Scloderma adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan pengerasan dan penebalan kulit dan masalah pada organ dalam tubuh. Meskipun FDA menyetujui penggunaan PABA untuk mengatasi scleroderma, namun dibutuhkan lebih banyak penelitian untuk mendukung efektivitasnya.

 

4. Membantu Mengobati Vitiligo 

Penggunaan PABA telah disetujui FDA untuk mengobati vitiligo. Vitiligo adalah penyakit yang menyebabkan warna kulit memudar membentuk bercak-bercak putih pada kulit. Akan tetapi, hanya sedikit penelitian yang membuktikan efektivitas PABA dalam mengobati vitiligo.

 

Berdasarkan penelitian kecil era Perang Dunia II, PABA telah disarankan untuk mengobati infertilitas pria dan juga vitiligo. Namun, penelitian ini tidak memiliki kelompok kontrol, sehingga hasilnya dikatakan tidak dapat dipercaya. Ironisnya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa dosis tinggi PABA dapat menyebabkan vitiligo (2).

 

 

 

Sumber Makanan

 

PABA dapat ditemukan di dalam:

Biji-bijian

Telur

Susu

Daging

 

 

Dosis Pemakaian

 

Mengobati penyakit peyronie: Konsumsi 12 gram per hari dalam 4 dosis terbagi, dengan dosis maksimum per hari adalah 20 gram.

 

Sebagai tabir surya: Anak-anak dan dewasa dapat mengaplikasikan tabir surya dengan kandungan 1% hingga 15% PABA.

 

 

Efek Samping

 

Konsumsi PABA dalam dosis tinggi dapat menyebabkan efek samping seperti:

Sakit perut

Mual

Muntah

Nafsu makan berkurang

Demam

Ruam

Vitiligo

Masalah hati dan ginjal

Masalah pendarahan

 

 

Kontraindikasi

 

Anak-anak: Tidak disarankan mengonsumsi PABA dosis tinggi yaitu 220 mg/kg berat badan per hari.

 

Wanita hamil dan menyusui: Tidak disarankan untuk mengonsumsi PABA.

 

Penyakit ginjal: Tidak disarankan untuk mengonsumsi PABA karena akan memperburuk kondisi kesehatan.

 

Gangguan pendarahan

 

Pasien pra operasi

 

Tidak disarankan mengombinasikan PABA dengan:

Antibiotik (Sulfonamide)

Dapsone (Avlosulfon)

Cortisone (Cortisone Acetate)

Antikoagulan

 

 

Referensi

WebMD. (2018). Para-aminobenzoic acid (Paba). WebMD. Diakses pada 23 Juli 2019.

National Cancer Institute. (2019). Para-aminobenzoic acid. National Cancer Institute. Diakses pada 23 Juli 2019.

Medicine Health. (2019). Para-aminobenzoic acid (Paba). WebMD. Diakses dari pada 23 Juli 2019.

Lipshultz, Larry. (2019). Can paba treat peyronie’s disease?.  Prostate.net. Diakses pada 23 Juli 2019.

Zarafonetis CJ, Horrax TM. Treatment of peyronie’s disease with potassium para-aminobenzoate (potaba). J Urol. (1959). 

Childbirtth, H. C. (2019). Paba (para-aminobenzoic acid). Winchester Hospital. Diakses pada 23 Juli 2019. 


Tags: ,