fbpx
LOGO

4 Manfaat Seng (Zinc) sebagai Nootropik

September 23, 2020
IMG

Seng (Zinc) adalah elemen yang berperan penting dalam kesehatan dan kognitif manusia secara keseluruhan. Seng (Zinc) diperlukan untuk aktivitas katalitik sekitar 100 enzim, dan terlibat dalam respon imun, sintesis protein, penyembuhan luka, sintesis DNA dan pembelahan sel.

 

Kadar seng yang cukup sangat penting untuk pertumbuhan dan perkembangan di usia muda. Seng juga diperlukan untuk pembentukan memori.

 

Seng (Zinc) merupakan salah satu obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tanpa menghasilkan efek samping yang signifikan.

 

Sebagai contoh, seng (Zinc) yang terkandung di dalam daging ayam mendukung pembentukan memori dan mampu mencegah ADHD di waktu bersamaan. Efek yang sama bahkan lebih bisa didapat melalui suplementasi seng (Zinc), tanpa mengkonsumsi daging ayam. 

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

Kekurangan seng (Zinc) sering terjadi, terutama pada peserta diet vegetarian. Kadar seng yang rendah menyebabkan kelelahan, konsentrasi memburuk, lebih mudah sakit, penyembuhan luka yang lama, dan depresi. Semakin rendah kadar seng dalam tubuh, maka semakin parah depresi yang diderita.  

 

 

Manfaat Seng (Zinc) sebagai Nootropik

 

1. Mengatasi kecemasan dan depresi

Penderita depresi ditemukan memiliki kadar seng yang rendah. Semakin depresi seseorang, maka kadar seng semakin rendah (1). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengonsumsi suplemen seng dengan antidepresan SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor) mampu meningkatkan efektivitas obat antidepresan (2).

 

Dibandingkan dengan mengonsumsi multivitamin secara tunggal, mengombinasikannya dengan 7 mg seng setiap hari efektif menurunkan kemarahan, permusuhan, dan depresi (3).

 

Penelitian lain juga membuktikan suplementasi seng dapat meningkatkan mood pada pasien obesitas dan kelebihan berat badan (4).

 

2. Terlibat dalam proses pembentukan memori

Manfaat dari seng (Zinc) berkaitan dengan plastisitas sinaptik dan BDNF untuk membentuk memori jangka panjang. Kekurangan seng akan merusak pensinyalan BDNF dan berakir pada memori yang buruk (5).

 

Pada salah satu penelitian di Italia, suplementasi seng 10 mg setiap hari selama 30 hari secara signifikan membantu pemulihan neurologis pada pasien stroke (6).

 

Dalam penelitian dengan model hewan, suplementasi seng terbukti meningkatkan ketahanan terhadap cidera otak traumatis atau traumatic brain injury (TBI) dan mengobati kecemasan, depresi, defisit belajar dan memori yang disebabkan oleh TBI (7).

 

3. Meredakan gejala ADHD atau gangguan pemusatan perhatian (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

Seng diperlukan untuk produksi dan modulasi melatonin yang membantu mengatur fungsi dopamin. Karena hal ini, seng diklaim mampu menghasilkan manfaat positif penderita ADHD (8).

 

Dalam percobaan double-blind, kontrol plasebo di Turki dengan 400 anak penderita ADHD, pemberian 150 mg seng sulfat selama 12 minggu lebih unggul daripada plasebo dalam mengurangi gejala hiperaktif, impulsif, dan gangguan sosialisasi pada partisipan (9).

 

Hal ini sejalan dengan hasil penelitian di Kroasia yang menunjukkan bahwa suplementasi dengan seng sulfat 55 mg per hari membantu mengurangi gejala ADHD (10).

 

4. Mencegah autisme

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Biomarker Insights pada tahun 2011 melibatkan 79 penderita autisme, sindrom Asperger, dan PDD-NOS (Pervasive Developmental Disorder – Not Otherwise Specified).

 

Sebelum penelitian, partisipan terlebih dahulu diuji kadar seng, tembaga, dan antioksidan. Kemudian berdasarkan kekurangannya, mereka diberi dosis antioksidan yang sesuai (Vitamin C, E, B6 serta magnesium, dan mangan). Mereka juga diberi seng picolinate setiap hari selama minimal 8 minggu.

 

Pada akhir terapi, partisipan dengan autisme dan PDD-NOS memiliki kadar tembaga yang lebih rendah, dan ketiga kelompok menunjukkan kadar seng yang lebih tinggi.

 

Terapi seng dan vitamin B6 mampu menurunkan keparahan gejala autis yang berhubungan dengan kesadaran, bahasa reseptif, fokus dan perhatian, hiperaktif, berjalan berjingkat, kontak mata, sensitivitas suara, sensitivitas taktil dan kejang (11).

 

 

 

Sumber Makanan

 

Kandungan seng (Zinc) dapat ditemukan pada makanan yang Anda konsumsi sehari-hari seperti:

• Makanan laut, seperti tiram

• Daging merah, seperti sapi atau ayam

• Kacang

• SUsu dan produk olahan susu, seperti keju atau yogurt

 

 

Dosis

 

Dosis yang disarankan adalah 30 mg seng setiap hari, seimbang dengan 2 mg tembaga.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Seng (Zinc) dapat dikombinasikan dengan:

• Antidepresan (SSRI) : Seng meningkatkan efektivitas SSRI untuk mengobati depresi.

• Omega-3 (DHA): Untuk membantu mengatasi gejala ADHD.

 

 

Defisiensi

 

Kekurangan seng (Zinc) akan menyebabkan Anda merasa lelah, konsentrasi memburuk, akan lebih sering sakit, dan penyembuhan luka yang lama.

 

Defisiensi seng (Zinc) juga dapat menyebabkan depresi, agresi, kejang, kekerasan, ADHD, dan masalah dengan pembelajaran dan memori. Semakin rendah kadar Seng (Zinc) dalam tubuh Anda, maka semakin parah depresi yang diderita.  

 

 

Efek Samping

 

Mengonsumsi seng (Zinc) yang tidak sesuai dengan dosis, dapat mengakbatkan beberapa efek samping seperti :

• Sakit kepala

• Kehilangan nafsu makan

• Diare

• Penumpulan kemampuan saraf

 

 

Kontraindikasi

 

Beberapa kondisi yang harus diperhatikan dan harus dihindari untuk mengonsumsi seng (Zinc) yaitu :

Anak-anak

Ibu hamil atau menyusui

Alkoholisme

Diabetes

HIV / AIDS

 

 

Referensi:

Tomen D. (2017). Zinc. Nootropics Expert. Diakses pada 25 September 2019.

WebMD. (2018). Zinc. WebMD. Diakses pada 25 September 2019.

Szewczyk B, Kubera M, Nowak G. The role of zinc in neurodegenerative inflammatory pathways in depression. Prog Neuropsychopharmacol Biol Psychiatry. (2011).

Ranjbar E, Kasaei MS, Mohammad-Shirazi M, Nasrollahzadeh J, Rashidkhani B, Shams J, Mostafavi SA, Mohammadi MR. Effects of zinc supplementation in patients with major depression: a randomized clinical trial. Iran J Psychiatry. (2013). 

Sawada T, Yokoi K. Effect of zinc supplementation on mood states in young women: A pilot study. Eur J Clin Nutr. (2010). 

Solati Z, Jazayeri S, Tehrani-Doost M, Mahmoodianfard S, Gohari MR. Zinc monotherapy increases serum brain-derived neurotrophic factor (BDNF) levels and decreases depressive symptoms in overweight or obese subjects: A double-blind, randomized, placebo-controlled trial. Nutr Neurosci. (2015). 

Mizuno M, Yamada K, He J, Nakajima A, Nabeshima T. Involvement of BDNF receptor TrkB in spatial memory formation. Learn Mem. (2003).

Aquilani R, Baiardi P, Scocchi M, Iadarola P, Verri M, Sessarego P, Boschi F, Pasini E, Pastoris O, Viglio S. Normalization of zinc intake enhances neurological retrieval of patients suffering from ischemic strokes. Nutr Neurosci. (2009). 

Cope EC, Morris DR, Scrimgeour AG, Levenson CW. Use of zinc as a treatment for traumatic brain injury in the rat: Effects on cognitive and behavioral outcomes. Neurorehabil Neural Repair. (2012).

Kirby K, Floriani V, Bernstein H. Diagnosis and management of attention-deficit/ hyperactivity disorder in children. Curr Opin Pediatr. (2001). 

Bilici M, Yildirim F, Kandil S, Bekaroğlu M, Yildirmiş S, Değer O, Ulgen M, Yildiran A, Aksu H. Double-blind, placebo-controlled study of zinc sulfate in the treatment of attention deficit hyperactivity disorder. Prog Neuropsychopharmacol Biol Psychiatry. (2004). 

Dodig-Curković K, Dovhanj J, Curković M, Dodig-Radić J, Degmecić D. Uloga cinka u lijecenju hiperaktivnog poremećaja u djece [The role of zinc in the treatment of hyperactivity disorder in children]. Acta Med Croatica. (2009). 

Russo AJ, Devito R. Analysis of copper and zinc plasma concentration and the efficacy of zinc therapy in individuals with asperger’s syndrome, pervasive developmental disorder not otherwise specified (PDD-NOS) and autism. Biomark Insights. (2011). 


Tags: , , , ,