fbpx
LOGO

Manfaat Senyawa Kurkumin pada Kunyit

July 16, 2020
IMG

Kunyit (Curcuma longa) adalah rempah dasar berwarna kuning yang umum digunakan sebagai penambah rasa atau pewarna alami pada makanan. Kunyit banyak dibudidayakan di negara India serta Asia Tenggara, termasuk Indonesia. 

 

Kunyit memiliki berbagai senyawa aktif, salah satunya yang populer adalah kurkumin (Curcumin). Kurkumin memiliki sifat anti-inflamasi dan menjadikan kunyit sebagai makanan fungsional, yang memiliki efek positif yang potensial terhadap kesehatan tubuh. Karena manfaatnya yang sangat baik bagi kesehatan, kunyit menjadi ramuan obat yang banyak disebutkan dalam semua ilmu pengetahuan, terutama dalam pengobatan tradisional India, Ayurvedic.

 

 

Manfaat Kurkumin

 

1. Meningkatkan Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah

Disfungsi endotelium atau lapisan dalam pembuluh darah, merupakan penyebab utama penyakit jantung yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk mengatur tekanan darah, mencegah terjadinya pembekuan darah, dan berbagai faktor pencetus gangguan jantung dan pembuluh darah lainnya (1).

 

Kurkumin bermanfaat dalam meningkatkan fungsi endotelium dan membantu menurunkan terjadinya risiko penyakit jantung pada berbagai penelitian  dengan hewan coba maupun kepada manusia (2). Sebuah penelitian menemukan bahwa kurkumin sama efektifnya dengan olahraga dan bekerja sebaik obat Atorvastatin, salah satu obat untuk kolesterol (3, 4).

 

Sebuah studi secara acak melibatkan 121 orang yang menjalani operasi bypass arteri koroner. Pada kelompok intevensi diberikan 4 gram kurkumin per hari dan kelompok kontrol diberikan plasebo pada beberapa hari sebelum dan sesudah operasi. Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang menerima kurkumin mengalami penurunan risiko 65% terkena serangan jantung selama perawatan di rumah sakit (5).

 

2. Mencegah dan Mengobati Kanker

Berbagai penelitian menunjukkan kurkumin mampu mencegah dan mengobati berbagai macam jenis kanker, termasuk mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan penyebaran kanker pada tingkat molekuler (6, 7). 

 

Otoritas global Cancer Research UK menyatakan bahwa kurkumin dalam kunyit memiliki efek antikanker, mampu membunuh sel kanker serta mencegah penyebaran sel kanker pada organ lain. Kurkumin diketahui memiliki efek yang sangat efektif pada sel kanker payudara, kanker usus, kanker lambung dan sel kanker kulit (8).

 

Sebuah penelitian dengan hewan yang dilakukan oleh para peneliti di Baylor Scott & White Research Institute menemukan bahwa kurkumin bahkan mungkin dapat melawan kondisi resistensi atau kebal terhadap obat-obatan kemoterapi pada pasien dengan jenis kanker adenokarsinoma duktus pankreas (PDAC). Kanker ini merupakan bentuk kanker pankreas yang agresif (9).

 

Dalam penelitian yang dilakukan selama 30 hari pada 44 pria dengan lesi di usus besar yang dapat beresiko menjadi sel kanker, konsumsi 4 gram kurkumin per hari mampu mengurangi jumlah lesi sebesar 40% (10).

 

3. Sebagai Agen Anti-Inflamasi 

Kurkumin memiliki anti-inflamasi yang sangat kuat, dan dapat dikombinasikan dengan obat anti-inflamasi lain tanpa menimbulkan efek samping. Anti-inflamasi sendiri berperan dalam melindungi tubuh dari berbagai penyakit kronis, seperti penyakit jantung, kanker, sindrom metabolik, Alzheimer dan berbagai kondisi degeneratif lainnya (11, 12, 13, 14).

 

Kurkumin bekerja dengan memblokir NF-kB, molekul yang bergerak ke inti sel dan mengaktifkan gen yang terkait dengan peradangan. NF-kB diyakini memainkan peran utama dalam banyak penyakit kronis (15, 16).

 

Alzheimer merupakan sebuah penyakit neurodegeneratif yang terjadi akibat adanya stres oksidatif dan peradangan pada sel otak, sehingga terjadilah mekanisme neurotoksis yang menyebabkan timbulnya plak amiloid dan terjadilah penurunan berbagai kemampuan kognitif secara gradual.

 

Sebuah penelitian in vivo dilaksanakan pada tikus dengan penyakit Alzheimer. Tikus diberikan suplementasi kurkumin sebesar 7.5mg/kg berat badan perhari selama satu minggu. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak kurkumin mampu menembus penghalang darah di otak, menurunkan luas plak amiloid, sehingga menekan mekanisme toksisitas Alzheimer. Studi ini menunjukkan kurkumin pada kunyit sangat potensial dalam mengobati gejala Alzheimer secara klinis (17). 

 

Kurkumin dalam kunyit juga diketahui efektif dalam mengatasi berbagai gejala rheumatoid artritis (RA) atau radang pada persendian yang banyak disebabkan oleh autoimun. Sebuah metaanalisis terhadap 8 penelitian terhadap pemberian ekstrak kunyit (kurkumin) dengan dosis 1000 miligram per hari menunjukkan hasil yang positif efektif terhadap artriris (18).

 

Fakta tersebut juga didukung dengan hasil dari sebuah penelitian pada 45 orang pasien dengan RA, pemberian kurkumin diketahui lebih signifikan dalam memperbaiki prognosis penyakit dibandingkan dengan pemberian sodium diklofenak, obat RA umum yang efektif namun tinggi resiko komplikasi terhadap gangguan pencernaan. Pemberian kurkumin juga diketahui aman dan sangat rendah terhadap efek samping (19).

 

 

 

4. Meningkatkan Kadar Antioksidan dalam Tubuh

Kurkumin adalah antioksidan kuat yang dapat menetralkan radikal bebas serta meningkatkan aktivitas enzim antioksidan dalam tubuh. Kurkumin bekerja dengan cara memblokir radikal bebas dan stres oksidatif serta merangsang tubuh untuk meningkatkan produksi antioksidan yang penting dalam sistem pertahanan tubuh melawan berbagai macam penyakit (20, 21).

 

Manfaatnya dalam meningkatkan kadar antioksidan dalam tubuh juga menyebabkan kurkumin mampu mengoptimalkan proses detoksifikasi racun dan bahan berbahaya dalam tubuh oleh organ hati, serta menekan efek karsinogenik dari berbagai faktor eksternal (22).

 

5. Meningkatkan Fungsi Otak dan Kognitif

Kurkumin dapat meningkatkan hormon BDNF (brain-derived neurotrophic factor), yakni sebuah protein berkaitan dengan hormon pertumbuhan, menjadi penanda faktor pertumbuhan sel persarafan baru di otak. Rendahnya hormon BDNF dikaitkan dengan berbagai gangguan otak, termasuk depresi dan penyakit Alzheimer (23, 24).

 

Mekanisme kurkumin dalam meningkatkan produksi hormon tersebut akan menyebabkan munculnya pertumbuhan neuron baru sehingga  menekan berbagai proses degeneratif di otak, termasuk menunda atau membalikkan banyak penyakit otak dan penurunan fungsi otak yang disebabkan oleh faktor usia (25, 26, 27). 

 

6. Mencegah Depresi

Jurnal Phytotherapy Research menerbitkan hasil penelitian inovatif pada tahun 2014. Dalam penelitian tersebut, 60 sukarelawan yang didiagnosis dengan gangguan depresi mayor dibagi kelompok untuk mendapatkan pengobatan dengan kurkumin, fluoxetine, dan kombinasi keduanya.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok yang menerima kurkumin dengan dosis 1000 miligram per hari selama 6 minggu memiliki efektivitas yang sama dengan fluoxetine sebesar 20 miligram dalam mengelola depresi (28).

 

7. Meningkatkan Kesehatan Kulit

Kunyit sangat kaya akan manfaatnya bagi kesehatan kulit. Sebuah review sistematis terhadap manfaat kurkumin baik dikonsumsi oral maupun dioleskan pada kulit berhasil menemukan fakta bahwa terdapat 10 dari 18 penelitian yang berhasil membuktikan bahwa kunyit secara signifikan meningkatkan kesehatan kulit.

 

Adapun beberapa manfaatnya pada kesehatan kulit antara lain memberikan efek mencerahkan dan bercahaya, mempercepat penyembuhan luka, meredakan jerawat dan menyamarkan luka bekas jerawat, serta menekan kekambuhan penyakit psoriasis (29)

 

Kunyit dalam bentuk krim juga diketahui efektif dalam mengatasi infeksi parasit pada kulit. Sebuah penelitian melibatkan 814 penderita skabies, dilaksanakan pemberian krim kunyit selama 3 hingga 15 hari. Setelah evaluasi dilaksanakan, sebanyak 97% kasus dinyatakan sembuh dari skabies. Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa kunyit merupakan obat skabies yang paling mudah didapatkan, selain juga memiliki harga yang terjangkau oleh setiap kalangan masyarakat (30).  

 

8. Membantu dalam Regulasi Diabetes dan Melawan Obesitas 

Kurkumin diketahui 400 kali lebih potensial dalam mengaktivasi enzim AMPK (activated protein kinase) dibandingkan dengan penggunaan metformin, obat diabetes oral. AMPK merupakan enzim yang berperan penting dalam regulasi atau pengaturan metabolisme glukosa dan lemak dalam tubuh manusia. Enzim ini bertugas menurunkan kadar gula darah dan kolesterol jahat dalam hati (31). 

 

Pada penelitian dengan hewan coba, suplementasi kurkumin sebesar 50 mg/Kg berat badan/hari menurunkan terjadinya komplikasi neuropati atau kematian saraf yang juga dapat mengarah kepada kegagalan pada organ ginjal (nefropati) (32, 33). Kurkumin merupakan senyawa yang sangat potensial untuk dikembangkan dan menjadi alternatif dalam pengobatan diabetes mellitus. 

 

Kurkumin juga diketahui sangat efektif untuk menurunkan berat badan akibat obesitas. Hal ini berkaitan dengan kemampuan kurkumin dalam menekan proliferasi atau pertumbuhan sel lemak dalam jaringan adiposa. Kurkumin juga diketahui menghambat infiltrasi atau penurunan jumlah makrofag dan aktivasi NF-kB yang dapat menyebabkan peradangan serta berbagai penyakit metabolik lain akibat penumpukan lemak (33)

 

 

Sumber Makanan

 

Akar tanaman kunyit

 

 

Dosis Pemakaian

 

Kunyit merupakan rempah yang banyak digunakan dalam masakan khas Indonesia. Sediaannya dapat berupa akar kunyit segar, bubuk kunyit, minyak esensial, serta tersedia dalam bentuk suplemen kurkumin. Kandungan kurkumin yang dapat terserap oleh tubuh dalam akar kunyit segar atau bubuk kunyit hanya berkisar 3%.

 

Sangat dianjurkan untuk mengonsumsi suplemen atau pil kurkuminoid sebelum tidur, untuk efek yang lebih optimal bagi kesehatan. Dosis suplemen kurkumin untuk dewasa:

 

Rinitis alergi: Konsumsi 500 mg kurkumin per hari.

 

Depresi: Konsumsi 500 mg kurkumin dua kali sehari, secara tunggal atau dapat dikonsumsi bersama dengan 20 mg fluoxetine setiap hari, selama 6-8 minggu.

 

Kolesterol tinggi: Konsumsi 1400 mg ekstrak kunyit dalam dua dosis terbagi setiap hari.

 

Gatal-gatal pada kulit (pruritus): Konsumsi 1500 mg kunyit dalam tiga dosis terbagi setiap hari.

 

Dosis kombinasi:

Piperine: Konsumsi 1.500 mg curcumin dan 60 mg piperine per hari, untuk meningkatkan penyerapan kurkumin oleh tubuh. 

 

BCM-95® : Merupakan merk paten untuk kombinasi kurkumin dengan minyak esensial. Dapat dikonsumsi dengan dosis 500 mg dua kali sehari. 

 

Meriva®: Merupakan merk paten untuk kombinasi kurkumin dengan lesitin kedelai, baik dikonsumsi dengan dosis 200-500 mg, dua kali sehari.

 

Dosis untuk anak-anak:

Kolesterol tinggi: Konsumsi 1.4 gram ekstrak kunyit dalam dua dosis terbagi setiap hari selama 3 bulan untuk anak minimal berusia 15 tahun.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Kurkumin memiliki bioavailibitas yang rendah jika dikonsumsi secara tunggal, sehingga harus dikombinasikan dengan herbal atau formula yang lain untuk meningkatkan penyerapannya dalam tubuh.

 

Piperin: Merupakan senyawa aktif yang terkandung dalam lada hitam. Kombinasi piperin dengan kunyit terbukti secara efektif dapat meningkatkan penyerapan kurkumin dalam tubuh. Tersedia merk paten Bioperin® yang mengklaim dapat meningkatkan penyerapan kurkumin dalam tubuh hingga 2000%. 

 

Lemak (BCM95® dan Meriva®): Merupakan merk kombinasi paten kurkumin dengan lemak untuk meningkatkan penyerapan kurkumin dalam tubuh. 

 

Genistein dan isoflavon: Kombinasi kurkumin dengan kedua senyawa tersebut menurunkan resiko terjadinya kanker prostat. 

 

Minyak ikan atau DHA: Kombinasi kurkumin dengan minyak ikan menurunkan resiko terjadinya kanker payudara. 

 

Garnisol (senyawa dalam Garnicia indica/kokam): Menurunkan resiko keganasan sel atau kanker. 

 

 

Efikasi

 

Suplementasi kurkumin selama 6 minggu efektif dalam mengelola depresi

 

 

Kontraindikasi

 

Kehamilan dan menyusui: Pada kondisi ini, kurkumin lebih aman jika dikonsumsi dalam bentuk telah dicampur sebagai bumbu dalam suatu makanan. Suplementasi kurkumin tidak disarankan karena dapat memicu kontraksi rahim dan meningkatkan risiko keguguran.

 

Masalah pada kantong empedu: Kunyit dapat memperburuk berbagai masalah pada kantong empedu. Hindari konsumsi kurkumin jika Anda memiliki riwayat batu empedu atau obstruksi saluran empedu.

 

Gangguan pembekuan perdarahan: Mengonsumsi kunyit dapat memperlambat pembekuan darah. Ini mungkin meningkatkan risiko memar dan pendarahan pada orang dengan gangguan pendarahan. Termasuk hindari konsumsi kunyit dengan obat-obatan jenis antikoagulan/anti pembekuan darah seperti aspirin, clopidogrel (Plavix), diclofenac (Voltaren, Cataflam, lainnya), ibuprofen (Advil, Motrin, lainnya), naproxen (Anaprox, Naprosyn, lainnya), dalteparin (Fragmin), enoxaparin (Lovenox), heparin, warfarin (Coumadin), dan lainnya. Mengkombinasikan keduanya dapat memperlambat pembekuan darah serta meningkatkan kemungkinan memar dan pendarahan. 

 

Diabetes: Kurkumin dapat menurunkan gula darah pada penderita diabetes. Gunakan dengan hati-hati pada penderita diabetes karena mungkin membuat gula darah terlalu rendah.

 

Gangguan refluks lambung (GERD – gastroesophageal reflux disease): kunyit dapat menyebabkan sakit perut pada beberapa orang. Hindari mengonsumsi kunyit karena akan memperburuk gejala GERD.

 

Kondisi sensitif-hormon seperti kanker payudara, kanker rahim, kanker ovarium, endometriosis, atau fibroid rahim: kurkumin dapat bertindak seperti hormon estrogen. Beberapa penelitian mengatakan kunyit dapat mengurangi efek estrogen pada beberapa sel kanker sensitif hormon, tapi secara teori, kunyit dapat memperburuk kondisi hormon-sensitif. Disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.

 

Infertilitas: Kunyit dapat menurunkan kadar testosteron dan menurunkan pergerakan sperma saat diminum oleh pria. Ini mungkin mengurangi kesuburan. Kunyit harus digunakan dengan hati-hati oleh orang yang sedang menjalani program kehamilan.

 

Kekurangan zat besi: Mengonsumsi kunyit dalam jumlah banyak dapat mencegah penyerapan zat besi. Sebaiknya berhati-hati dengan efek tersebut.

 

Pembedahan: Kunyit dapat memperlambat pembekuan darah. Pada proses operasi konsumsi kurkumin dapat menyebabkan perdarahan ekstra selama dan setelah operasi. Hentikan penggunaan kunyit setidaknya 2 minggu sebelum operasi dijadwalkan.

 

 

Efek Samping

 

Aman dikonsumsi atau dioleskan ke kulit secara langsung hingga 8 bulan.

 

Aman bila digunakan sebagai enema atau obat kumur dalam jangka pendek.

 

Beberapa orang dapat mengalami sakit perut, mual, pusing, atau diare.

 

Dosis tinggi dalam jangka panjang dapat meningkatkan resiko efek samping perdarahan, peningkatan hasil uji lab fungsi hati, dapat menyebabkan tekanan darah rendah (hipotensi), kontraksi kandung kemih yang berlebihan sehingga menyebabkan sering berkemih, meningkatkan kontraksi rahim pada wanita hamil, serta dapat menambah volume perdarahan pada wanita yang sedang menstruasi. 

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2015). Curcumin. Examine. Diakses pada 03 Juli 2019.

Axe, Josh. (2019). Turmeric and curcumin benefits: Can this herb really combat disease. Dr Axe. Diakses pada 03 Juli 2019.

Gunnars, Kris. (2018). Top 10 evidence-based health benefits of turmeric and curcumin. Healthline. Diakses pada 03 Juli 2019.

WebMD. (2018). Turmeric. WebMD. Diakses pada 03 Juli 2019.

Toborek M, Kaiser S. Endothelial cell functions. Relationship to atherogenesis. Basic Res Cardiol. (1999). 

Wongcharoen W, Phrommintikul A. The protective role of curcumin in cardiovascular diseases. Int J Cardiol. (2009).

Akazawa N, Choi Y, Miyaki A, et al. Curcumin ingestion and exercise training improve vascular endothelial function in postmenopausal women. Nutr Res. (2012). 

Usharani P, Mateen AA, Naidu MU, Raju YS, Chandra N. Effect of NCB-02, atorvastatin and placebo on endothelial function, oxidative stress and inflammatory markers in patients with type 2 diabetes mellitus: a randomized, parallel-group, placebo-controlled, 8-week study. Drugs R D. (2008). 

Wongcharoen W, Jai-Aue S, Phrommintikul A, et al. Effects of curcuminoids on frequency of acute myocardial infarction after coronary artery bypass grafting. Am J Cardiol. (2012).

Anand P, Sundaram C, Jhurani S, Kunnumakkara AB, Aggarwal BB. Curcumin and cancer: an “old-age” disease with an “age-old” solution. Cancer Lett. (2008). 

Aggarwal BB, Kumar A, Bharti AC. Anticancer potential of curcumin: preclinical and clinical studies. Anticancer Res. (2003).

Cancer Research UK. (2018). Turmeric. Dangoor Education. Diakses pada 03 Juli 2019. 

Yoshida K, Toden S, Ravindranathan P, Han H, Goel A. Curcumin sensitizes pancreatic cancer cells to gemcitabine by attenuating PRC2 subunit EZH2, and the lncRNA PVT1 expression. Carcinogenesis. (2017). 

Carroll RE, Benya RV, Turgeon DK, et al. Phase IIa clinical trial of curcumin for the prevention of colorectal neoplasia [published correction appears in Cancer Prev Res (Phila). 2012 Dec;5(12):1407. Dosage error in article text]. Cancer Prev Res (Phila). (2011). 

Jurenka JS. Anti-inflammatory properties of curcumin, a major constituent of Curcuma longa: a review of preclinical and clinical research [published correction appears in Altern Med Rev. 2009 Sep;14(3):277]. Altern Med Rev. (2009).

Libby P. Inflammation in atherosclerosis. Nature. (2002).

Coussens LM, Werb Z. Inflammation and cancer. Nature. (2002). 

Lumeng CN, Saltiel AR. Inflammatory links between obesity and metabolic disease. J Clin Invest. (2011).

Singh S, Aggarwal BB. Activation of transcription factor NF-κB is suppressed by curcumin (diferuloylmethane). Journal of Biological Chemistry. (1995). 

Marín YE, Wall BA, Wang S, et al. Curcumin downregulates the constitutive activity of NF-kappaB and induces apoptosis in novel mouse melanoma cells. Melanoma Res. (2007). 

Garcia‐Alloza M, Borrelli LA, Rozkalne A, Hyman BT, Bacskai BJ. Curcumin labels amyloid pathology in vivo , disrupts existing plaques, and partially restores distorted neurites in an Alzheimer mouse model. Journal of Neurochemistry. (2007).

Daily JW, Yang M, Park S. Efficacy of turmeric extracts and curcumin for alleviating the symptoms of joint arthritis: A systematic review and meta-analysis of randomized clinical trials. J Med Food. (2016). 

Chandran B, Goel A. A randomized, pilot study to assess the efficacy and safety of curcumin in patients with active rheumatoid arthritis. Phytother Res. (2012).

Menon VP, Sudheer AR. Antioxidant and anti-inflammatory properties of curcumin. Adv Exp Med Biol. (2007). 

Biswas SK, McClure D, Jimenez LA, Megson IL, Rahman I. Curcumin induces glutathione biosynthesis and inhibits NF-kappaB activation and interleukin-8 release in alveolar epithelial cells: mechanism of free radical scavenging activity. Antioxid Redox Signal. (2005). 

Goud VK, Polasa K, Krishnaswamy K. Effect of turmeric on xenobiotic metabolising enzymes. Plant Food Hum Nutr 44, 87–92 (1993).

Shimizu E, Hashimoto K, Okamura N, et al. Alterations of serum levels of brain-derived neurotrophic factor (BDNF) in depressed patients with or without antidepressants. Biological Psychiatri. (2003).

Phillips HS, Hanis JM, Armaini M, Laramee GR, Johnson SA, Winslow JW. BDNF mRNA is decreased in the hippocampus of individuals with Alzheimer’s disease. Neuron. (1991).

Xu Y, Ku B, Tie L, Yao H, Jiang W, Ma X, Li X. Curcumin reverses the effects of chronic stress on behavior, the HPA axis, BDNF expression and phosphorylation of CREB. Brain Research. (2006).

Hurley LL, Akinfirisoye L, Nwulia A, Kamiya A, Kulkarni AA, Tizabi Y. Antidepressant-like effects of curcumin in WKY rat model of depression is associated with an increase in hippocampal BDNF. Behavioral Brain Research. (2013). 

Dong S, Zeng Q, Mitchell ES, et al. Curcumin enhances neurogenesis and cognition in aged rats: implications for transcriptional interactions related to growth and synaptic plasticity. PLoS One. (2012). 

Sanmukhani J, Satodia V, Trivedi J, et al. Efficacy and safety of curcumin in major depressive disorder: a randomized controlled trial. Phytother Res. (2014).

Vaughn AR, Branum A, Sivamani RK. Effects of turmeric (curcuma longa) on skin health: A systematic review of the clinical evidence. Phytother Res. (2016).

Charles V, Charles SX. The use and efficacy of azadirachta indica ADR (‘neem’) and curcuma longa (‘turmeric’) in scabies. A pilot study. Tropical and Geographical Medicine. (1992). 

Kim T, Davis J, Zhang AJ, He X, Mathews ST. Curcumin activates AMPK and suppresses gluconeogenic gene expression in hepatoma cells. Biochem Biophys Res Commun. (2009). 

Banafshe HR, Hamidi GA, Noureddini M, Mirhashemi SM, Mokhtari R, Shoferpour M. Effect of curcumin on diabetic peripheral neuropathic pain: possible involvement of opioid system. Eur J Pharmacol. (2014).

Wu W, Geng H, Liu Z, Li H, Zhu Z. Effect of curcumin on rats/mice with diabetic nephropathy: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of Traditional Medicine. (2014). 

Bradford PG. Curcumin and obesity. Biofactors. (2013).

 


Tags: , , , , , , , , , , ,