fbpx
LOGO

Manfaat Triptofan Sebagai Nootropik

September 17, 2020
IMG

Triptofan adalah asam amino esensial dan prekursor (senyawa yang berpartisipasi dalam reaksi kimia yang menghasilkan senyawa lain) tunggal serotonin, melatonin, dan niasin (vitamin B3) dalam tubuh. Peran L-Triptofan dalam sintesis serotonin otak sangat penting untuk suasana hati, perilaku dan kognisi. 

 

Triptofan merupakan salah satu obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tanpa menghasilkan efek samping yang signifikan.

 

Sebagai contoh, Triptofan yang terkandung di dalam pisang menyebabkan suasana hati lebih baik dan meningkatkan memori di waktu bersamaan. Efek yang sama bahkan lebih bisa didapat melalui suplementasi Triptofan, tanpa mengkonsumsi pisang. 

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik? 

 

 

Manfaat Triptofan

 

1. Meningkatkan memori

Mekanisme kerja utama triptofan adalah sebagai prekursor neurotransmitter serotonin. Setelah mengonsumsi triptofan, neurotransmitter lain seperti melatonin dan beta-endorphin akan meningkat (1).

 

Penelitian menunjukkan bahwa triptofan dan serotonin memainkan peran penting dalam pembentukan memori. Peningkatan serotonin otak telah terbukti meningkatkan kinerja kognitif pada hewan maupun manusia, dan penurunan kadar serotonin melalui penipisan triptofan dapat merusak kognisi.

 

Sebuah penelitian yang dilakukan di Pakistan menguji memori pada tikus setelah diberikan triptofan. Pemberian triptofan 50 dan 100 mg / kg berat badan selama 6 minggu terbukti meningkatkan memori tikus (2).

 

2. Meningkatkan suasana hati

Triptofan dapat memiliki efek signifikan pada suasana hati. Tak hanya meningkatkan serotonin, triptofan juga dapat meningkatkan hormon pertumbuhan dan prolaktin.

 

Dalam sebuah penelitian, konsumsi triptofan dosis 5 gram, 7,5 gram, dan 10 gram menghasilkan efek signifikan pada sedasi mental dan fisik tetapi tidak meningkatkan tingkat penenang. Triptofan memberikan efek menenangkan tanpa efek samping walau dengan dosis tinggi (3).

 

3. Membantu mengatasi depresi

Sebagai prekursor langsung untuk serotonin di otak, para peneliti di Cina menganalisis kadar tirosin, triptofan dan serotonin pada pasien dengan gangguan depresi mayor. Temuan mengungkapkan kadar ketiganya menurun pada penderita depresi (4).

 

Penelitian yang dilakukan di Pusat Ketergantungan dan Kesehatan di Toronto menemukan bahwa mengombinasikan 20 mg fluoxetine dengan 2 g triptofan aman untuk mengatasi depresi.

 

Pasien terbukti mengalami penurunan yang lebih cepat dalam gejala depresi, dan kombinasi tersebut memiliki efek perlindungan pada pola tidur. Perlu dicatat bahwa kombinasi tersebut harus dibawah resep dokter atau profesional (5).

 

3. Meringankan gejala Seasonal Affective Disorder (SAD)

Seasonal Affective Disorder (SAD) adalah bentuk depresi musiman yang umumnya dialami oleh banyak orang selama bulan-bulan musim dingin. Gejalanya termasuk kesulitan bangun, penurunan energi, kenaikan berat badan, mengidam karbohidrat, kesulitan berkonsentrasi, penurunan libido, penarikan, kecemasan, depresi dan mudah marah.

 

Umumnya, perawatan yang dilakukan adalah terapi cahaya. Tetapi terapi cahaya menghasilkan efek samping mutasi pada gen melanopsin dan jalur pensinyalan terkait antara retina dan kelenjar pineal. 

 

Kelenjar pineal di otak adalah sumber melatonin yang memengaruhi siklus tidur. Melatonin disintesis dari serotonin yang berasal dari Triptofan. Melengkapi perawatan dengan triptofan untuk merangsang produksi serotonin dan melatonin mungkin bisa efektif untuk mengatasi SAD.

 

Para peneliti di University of British Columbia di Vancouver, Kanada melakukan penelitian untuk mengetahui efek triptofan dalam mengangani gangguan tersebut. Pasien dirawat selama 2 minggu menggunakan terapi cahaya. Mereka yang tidak menanggapi terapi cahaya diberi tambahan 1 gram triptofan 3 kali sehari.

 

Pemberian triptofan menghasilkan penurunan yang signifikan dalam depresi. 64% pasien dalam penelitian ini menunjukkan respons klinis yang sangat baik terhadap pengobatan kombinasi dengan efek samping minimal (6).

 

 

 

Sumber Alami Tripofan

 

Selain tersedia dalam bentuk suplemen, triptofan juga terkandung pada beberapa makanan ataupun minuman berikut:

Gandum

Pisang

Susu

Tuna

• Keju

Roti

Ayam

Kacang tanah 

Cokelat 

Kalkun 

Plum kering

 

 

Rekomendasi Dosis

 

Dosis triptofan yang disarankan adalah 500 – 1.000 mg per hari. Dosis minum tergantung pada kondisi yang dialami.

 

Untuk mengatasi depresi atau kecemasan: 2 – 6 gram per hari (dengan pengawasan medis).

Untuk mengatasi nyeri kronis atau migrain: 2 – 4 gram per hari dalam dosis terbagi.

Untuk mengatasi gangguan tidur atau susah tidur: 1 – 2 gram menjelang tidur.

 

Mulailah dengan dosis rendah untuk mengetahui reaksinya pada tubuh. Saat pertama kali memulai dengan L-Triptofan, konsumsilah di malam hari untuk menghindari efek samping kantuk.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Dianjurkan mengonsumsi triptofan bersamaan dengan vitamin B kompleks yang mencakup vitamin B3, B6, serta magnesium. Hal ini untuk membantu tubuh mensintesis serotonin dan menghasilkan manfaat yang lebih efektif.

 

 

Efek Samping

 

Kantuk

Nafsu makan berkurang

Kelelahan

Sakit kepala

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil atau menyusui

Eosinofilia

Penyakit hati atau ginjal

 

 

Referensi:

Tomen D. (2017). Tryptophan. Nootropics Expert. Diakses pada 23 September 2019.

WebMD. (2018). L- tryptophan. WebMD. Diakses pada 23 September 2019.

den Boer JA, Westenberg HG. Behavioral, neuroendocrine, and biochemical effects of 5-hydroxytryptophan administration in panic disorder. Psychiatry Res. (1990).

Khaliq S, Haider S, Ahmed SP, Perveen T, Haleem DJ. Relationship of brain tryptophan and serotonin in improving cognitive performance in ratsPak J Pharm Sci. (2006).

Winokur A, Lindberg ND, Lucki I, Phillips J, Amsterdam JD. Hormonal and behavioral effects associated with intravenous L-tryptophan administration. Psychopharmacology (Berl). (1986).

Sa M, Ying L, Tang AG, Xiao LD, Ren YP. Simultaneous determination of tyrosine, tryptophan and 5-hydroxytryptamine in serum of MDD patients by high performance liquid chromatography with fluorescence detection. Clin Chim Acta. (2012).

Levitan RD, Shen JH, Jindal R, Driver HS, Kennedy SH, Shapiro CM. Preliminary randomized double-blind placebo-controlled trial of tryptophan combined with fluoxetine to treat major depressive disorder: antidepressant and hypnotic effects [published correction appears in J Psychiatry Neurosci. 2000 Nov;25(5):439]. J Psychiatry Neurosci. (2000).

Lam RW, Levitan RD, Tam EM, Yatham LN, Lamoureux S, Zis AP. L-tryptophan augmentation of light therapy in patients with seasonal affective disorder. Can J Psychiatry. (1997).


Tags: , ,