fbpx
LOGO

Melakukan Diet Leptin dengan Aman dan Tepat

September 8, 2020
IMG

Leptin adalah hormon yang dibuat dalam lemak tubuh (khususnya lemak putih), dan bertindak sebagai pengirim sinyal ke otak ketika Anda kenyang.

 

Leptin pertama kali ditemukan pada tahun 1994 dan disebut dengan hormon kenyang, yang menahan tubuh untuk tidak makan berlebih. 

 

Dalam beberapa uji coba pada hewan, tikus obesitas tidak memiliki leptin. Berlawanan dengan tikus, manusia dengan obesitas justru menunjukkan kadar leptin yang tinggi, sehingga dapat mengembangkan risiko resistensi leptin (sama halnya dengan resistensi insulin pada pasien diabetes tipe 2). 

 

Menurut Robert H. Lustig, MD, profesor pediatri di University of California, San Francisco dan anggota Gugus Tugas Obesitas Masyarakat Endokrin, menyatakan bahwa ketika seseorang mengalami resistensi leptin, otak tidak bisa melihat bahwa tubuh sedang mengalami kegemukan.

 

Jika berfungsi secara normal, bila tingkat leptin rendah, maka tubuh akan menghargai makanan. Sebaliknya jika tingkat leptin tinggi, bentuk kompensasi yang diberikan otak pada tubuh adalah rasa kenyang. Hal ini menjadikan Anda akan berhenti makan.

 

Orang dengan resistensi leptin tidak dapat melihat sinyal tersebut, sehingga mereka tidak dapat berhenti makan dan mengalami kegemukan.

 

Untungnya, peran leptin dalam pengaturan berat badan dan obesitas telah dipelajari pada hewan dan manusia. Penelitian pada hewan yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Investigation menunjukkan bahwa melakukan diet memiliki efek buruk pada produksi leptin, dan menyebabkan kadar leptin turun.

 

Saat kadar leptin turun, otak merasa dalam bahaya kelaparan, menyebabkan tubuh menyimpan cadangan lemak dan mengurangi pembakaran kalori melalui olahraga. Hal ini berdampak pada peningkatan berat badan karena timbunan lemak dalam tubuh (1).

 

Uji coba hewan lain yang dipimpin oleh para peneliti di University of Cincinnati Metabolic Diseases Institute, menetapkan bahwa kadar leptin tidak mempengaruhi atau menyebabkan obesitas pada tikus.

 

Meski hingga saat ini belum ada bukti nyata penurunan berat badan pada manusia setelah melakukan injeksi leptin, hasil yang ditemui pada studi hewan membawa harapan baru bagi penderita obesitas atau kegemukan.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Leptin dikatakan dapat bersinergi dengan suplemen tertentu, seperti:

 

Melatonin: Mengombinasikan melatonin dengan suplemen leptin dapat meningkatkan produksi kadar leptin.

 

Vitamin B3 (Niasin): Peningkatan sirkulasi leptin telah dicatat dengan suplementasi dosis farmakologis niasin yang diberikan pada subjek dengan sindrom metabolik. 

 

Irvingia gabonensis: Tampaknya dapat menurunkan kadar leptin, tapi efeknya dapat membantu menurunkan berat badan

 

Estrogen juga dianggap mampu meningkatkan respons dari leptin.

 

 

Bagaimana Cara Meningkatkan Kadar Leptin dalam Tubuh?

 

Menurut Lustig, suplemen leptin tidak benar-benar mengandung leptin, sehingga suplementasi tersebut dianggap tidak bermanfaat. Melakukan diet leptin adalah cara paling aman yang dapat dilakukan.

 

Diet leptin memiliki lima aturan, yaitu: 

1. Sarapan dengan makanan yang mengandung 20 hingga 30 gram protein.

 

2. Jangan makan setelah makan malam. Pastikan untuk tidak makan apa pun selama setidaknya tiga jam sebelum tidur.

 

3. Makanlah tiga kali sehari saja, tanpa ada camilan di antaranya. Berikan jarak lima hingga enam jam diantara setiap waktu makan.

 

4. Kurangi asupan karbohidrat.

 

5. Mengontrol porsi pada setiap kali makan. Berhentilah makan sebelum merasa kenyang.

 

 

 

Untuk mengikuti diet ini, Anda harus mengetahui kandungan kalori dalam makanan yang dimakan, tetapi tidak perlu menghitung kalori secara obsesif.

 

Diet ini menekankan pada makanan organik segar, menghindari bahan kimia tambahan, memenuhi kebutuhan protein dan serat. Porsi seimbangnya terdiri dari 40% protein, 30% lemak, dan 30% karbohidrat.

 

Anda dapat mengonsumsi berbagai macam sayuran, buah-buahan, sumber protein (termasuk ikan, daging, ayam, dan kalkun), dan biji-bijian (seperti quinoa, oatmeal, dan lentil).

 

Jauhi pemanis buatan, minuman soda (termasuk soda diet), minuman berenergi, dan produk kedelai dalam bentuk apa pun. 

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2017). Leptin. Examine. Diakses pada 14 Agustus 2019.

Kam, Katherine. (2010). The facts on leptin: Faq. WebMD. Diakses pada 14 Agustus 2019.

Whelan, Corey. (2017). Everything you need to know about the leptin diet. Healthline. Diakses pada 14 Agustus 2019. 

Ahima RS. Revisiting leptin’s role in obesity and weight loss. The Journal of Clinical Investigation. (2008).


Tags: