fbpx
LOGO

Mengenal Melatonin, Hormon yang Mengatur Waktu Tidur

June 26, 2020
IMG

Melatonin (N-acetyl-5-methoxytryptamine) adalah hormon yang diproduksi dalam tubuh, tepatnya diproduksi oleh kelenjar pinel di otak. Hormon ini berfungsi untuk mengatur waktu tidur/ritme sirkadian, sehingga tubuh dapat mengetahui dengan tepat waktu untuk tidur dan terbangun.

 

Produksi melatonin akan meningkat saat malam hari pada pukul 21.00, bertahan selama 12 jam dan kemudian menurun pada pukul 09.00 pagi karena proses produksinya distimulasi oleh kegelapan.

 

Anak-anak memiliki kadar melatonin lebih tinggi daripada orang dewasa. Akan tetapi, olahraga secara rutin dapat membantu meningkatkan kadar melatonin yang lebih tinggi. Mengonsumsi oat, pisang, nanas, gandum, barley, dan kenari juga diketahui dapat meningkatkan kadar melatonin.

 

Konsumsi kafein, tembakau, alkohol, serta terkena paparan sinar biru pada TV, komputer, dan perangkat elektronik lainnya dapat menurunkan kadar melatonin sehingga akan membuat Anda kesulitan tidur. 

 

Mengonsumsi suplemen melatonin tidak memiliki timbal balik negatif, misalnya membuat tubuh memproduksi lebih sedikit hormon. Suplemen melatonin juga tidak menyebabkan kecanduan dan beracun. 

 

 

Manfaat Melatonin

 

1. Memperbaiki Kualitas Tidur

Suplementasi melatonin dipercaya dapat memperbaiki ritme sirkadian yang tidak teratur, seperti pada orang yang bekerja pada shift malam dan orang yang mengalami jet lag. Mengonsumsi melatonin juga dapat membantu pasien skizofrenia dan orang yang memiliki kondisi kronis disertai kadar melatonin yang rendah untuk tidur lebih baik.

 

Penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2012 yang diterbitkan dalam Drugs & Aging menganalisa efek dari melatonin dalam pengobatan insomnia pada pasien yang berusia 55 tahun atau lebih.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dua miligram melatonin berjenis prolonged release (PR), satu atau dua jam sebelum waktu tidur secara signifikan dapat meningkatkan kualitas dan panjang waktu tidur, waktu bangun pagi, dan kualitas hidup (1).

 

Hal tersebut sejalan dengan sebuah penelitian yang dilaksanakan kepada 50 orang penderita insomnia (gangguan tidur) yang diberikan 3 miligram melatonin selama 2 minggu tepat pada pukul 19.00 setiap harinya.

 

Evaluasi dilaksanakan pada hari pertama, hari ketujuh dan hari ke-14, hasil penelitian membuktikan bahwa mengonsumsi suplemen melatonin dua jam sebelum tidur membantu pasien dengan insomnia tidur lebih cepat serta meningkatkan kualitas tidur secara keseluruhan (2).

 

Analisis lain menyebutkan dari 19 studi pada anak-anak dan orang dewasa dengan gangguan tidur menemukan bahwa suplementasi melatonin mampu mengurangi jumlah waktu yang diperlukan untuk tertidur, meningkatkan waktu tidur total dan meningkatkan kualitas tidur (3).

 

Suplementasi melatonin juga diketahui mampu meningkatkan produksi HGH (Human Growth Hormone) yakni hormon yang sangat penting bagi proses pertumbuhan dan regenerasi sel. Pertumbuhan dan regenerasi sel amat dibutuhkan dalam pembentukan dan ketahanan massa otot.

 

Suplementasi melatonin sebesar 0.5 miligram pada delapan orang pria sehat tanpa konsumsi rokok, alkohol, dan aktivitas berat terbukti meningkatkan produksi hormon pertumbuhan selama 24 jam serta mempengaruhi konsentrasi oksitosin dan vasopresin (4). 

 

2. Melindungi Jantung

Banyak penelitian menunjukkan bahwa melatonin memiliki sifat perlindungan pada organ jantung. Melatonin diketahui juga memiliki efek anti-inflamasi dan antioksidan yang berguna untuk membantu menurunkan tekanan darah dan kolesterol. Sifat kardioprotektif melatonin ini berasal dari aktivitas pengambilan radikal bebas secara langsung.

 

Sebuah studi dengan hewan coba tikus memberikan melatonin (50 uM dan 25 uM) ke dalam jaringan jantung tikus yang mengalami kondisi iskemia (penyumbatan aliran darah) atau reperfusi (kerusakan jaringan jantung). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian melatonin dengan dosis 50 uM memberikan efek perlindungan pada jantung (anti-adrenergik) dengan mengurangi produksi AMP siklik (cAMP) di jantung hingga 34% (5).

 

 

 

 

3. Mengobati Refluks Gastroesofagus (GERD)

Melatonin terbukti menghambat sekresi asam lambung dan mengurangi produksi oksida nitrat, suatu senyawa yang dapat melemaskan katup esofagus bagian bawah sehingga menyebabkan naiknya asam lambung ke kerongkongan (GERD) (6).

 

Hasil penelitian yang melibatkan 36 orang penderita GERD menunjukkan bahwa mengonsumsi melatonin baik secara tunggal atau dikombinasikan dengan omeprazole (obat GERD yang umum) terbukti efektif dalam menghilangkan rasa mulas dan ketidaknyamanan pada perut (7).

 

Selain itu, penelitian lain yang melibatkan 351 orang  penderita GERD menemukan fakta bahwa setelah 40 hari pengobatan, seluruh partisipan pada kelompok melatonin melaporkan penurunan gejala GERD sebesar 65,7%  dibandingkan dengan kelompok yang  hanya menggunakan omeprazole (8).

 

4. Mengurangi Gejala Menopause

Sebuah penelitian dengan responden wanita perimenopause dan menopause yang berusia 42 hingga 62 tahun, menyebutkan bahwa kelompok yang mengonsumsi melatonin setiap hari selama enam bulan melaporkan peningkatan mood secara umum dan pengurangan depresi yang signifikan.

 

Hal ini menunjukkan bahwa suplementasi melatonin pada wanita perimenopause dan menopause dapat memulihkan fungsi kelenjar hipofisis dan tiroid yang membantu banyak proses dan fungsi pada tubuh, serta dapat membantu mengurangi gejala perimenopause dan menopause, seperti insomnia atau masalah tidur (5)

 

5. Mengobati Fibromialgia

Sebuah penelitian pada 101 pasien dengan sinrom fibromialgia yang terbagi ke dalam tiga kelompok yakni kelompok intervensi yang menerima melatonin tunggal sebesar 5 miligram per hari, kelompok penerima fluoxetine tunggal 20 miligram per hari serta kelompok yang mendapatkan kedua obat (melatonin 3 dan 5 miligram dan fluoxetine 20 miligram).

 

Obat diberikan dua kali per hari yakni pada pagi dan malam hari. Evaluasi dilaksanakan pada delapan minggu setelah intervensi, dan hasilnya diketahui bahwa kelompok yang mengonsumsi melatonin secara bersamaan dengan antidepresan fluoxetine (Prozac) menunjukkan penurunan gejala fibromialgia yang lebih signifikan dibandingkan mengonsumsi fluoxetine secara tunggal (6).

 

6. Meredakan Disfungsi Kandung Kemih

Reseptor melatonin ditemukan pada kandung kemih dan prostat yang berfungsi untuk mencegah terjadinya peningkatan kadar malondialdehida (penanda terjadinya stres oksidatif).

 

Melatonin memiliki sifat antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari stres oksidatif. Manfaat ini berguna untuk meredakan disfungsi kandung kemih yang disebabkan oleh faktor usia, menurunkan frekuensi kontraksi dan menginduksi relaksasi pada otot kandung kemih yang terlalu aktif.

 

Meskipun mekanisme tersebut belum sepenuhnya dipahami, beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar melatonin yang tidak seimbang dapat berdampak pada disfungsi kandung kemih (7). 

 

Penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2012 menunjukkan bahwa meningkatkan produksi melatonin dalam tubuh dapat membantu meningkatkan kualitas tidur dengan mengurangi kebiasaan buang air kecil setiap malam. Melatonin juga meningkatkan kapasitas kandung kemih dan mengurangi volume urin karena memiliki efek positif pada pengaturan sistem saraf pusat (8).

 

7. Mengobati Tinitus

Tinitus adalah suatu kondisi timbulnya kebisingan atau suara dengung pada telinga. Bagi kebanyakan orang, gejala ini akan hilang dengan sendirinya. Namun, bagi penderita tinitus kronis atau jangka panjang, hal tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan lain seperti kecemasan dan depresi.

 

Sebuah penelitian dilakukan di Eye and Ear Institute Ohio State University melibatkan 61 penderita tinitus yang diberikan intervensi berupa 3 miligram melatonin setiap malam selama 30 hari. Hasilnya diketahui bahwa para partisipan mengalami penurunan gejala tinitus yang jauh lebih signifikan dan mampu meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan tinitus kronis (9).

 

8. Pengobatan Autisme Pada Anak

Sebuah tinjauan ilmiah 2011 yang diterbitkan dalam Kedokteran Perkembangan dan Neurologi Anak mengevaluasi 35 penelitian terkait melatonin dengan gangguan spektrum autisme, termasuk gangguan autistik, sindrom Asperger, sindrom Rett dan gangguan perkembangan umum lainnya.

 

Setelah peninjauan tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa suplementasi melatonin pada anak dengan gangguan tersebut mampu meningkatkan tidur yang lebih baik, meningkatkan perilaku positif pada siang hari, dan tidak memiliki efek samping (10).

 

 

Sumber Makanan

 

Melatonin dapat ditemukan pada:

Tomat

Pisang

Nanas

Strawberry

Anggur

Susu 

Oat

Minyak zaitun

Ceri

Kacang kenari

 

 

Dosis Pemakaian

 

Suplemen melatonin umumnya tersedia dalam bentuk tablet, pil, krim oles/topikal, maupun tersedia dalam bentuk ekstrak cairan. Terdapat perbedaan dosis pemakaian antara anak-anak dan orang dewasa. Adapun dosis yang direkomendasikan baik untuk anak-anak dan orang dewasa, yaitu:

 

Dosis untuk Orang Dewasa

Gangguan tidur pada tunanetra: Dosis rendah 0.5 mg sampai 5 mg melatonin diminum setiap hari sebelum tidur. Adapun dosis tinggi 10 mg diminum satu jam sebelum tidur, dengan batas waktu menggunakan dosis selama 9 minggu.

 

Masalah tidur pada orang dengan gangguan jam tidur: Konsumsi 2-12 mg melatonin sebelum tidur.

 

Insomnia: Konsumsi 2 – 3 mg melatonin sebelum tidur. Dosis yang lebih tinggi hingga 12 mg setiap hari juga telah digunakan untuk jangka waktu yang lebih pendek (hingga 4 minggu).

 

Insomnia yang disebabkan oleh penggunaan obat berjenis beta-blocker: Konsumsi 2.5 mg – 5 mg melatonin setiap hari.

 

Endometriosis: Konsumsi 10 mg melatonin setiap hari.

 

Tekanan darah tinggi: Konsumsi 2-3 mg melatonin.

 

Mengatasi jet lag: Konsumsi 0,5-8 mg melatonin, biasanya diminum pada hari kedatangan di tujuan, berlanjut selama 2 hingga 5 hari selanjutnya. Dosis rendah 0,5-3 mg sering digunakan untuk menghindari efek samping dari dosis yang lebih tinggi.

 

Mengurangi kecemasan sebelum operasi: Konsumsi 3-10 mg melatonin diminum 60-90 menit sebelum operasi. 

 

Pengobatan tumor padat dalam kombinasi dengan terapi konvensional: Kombinasikan 10-40 mg melatonin setiap hari dengan radioterapi, kemoterapi, atau interleukin 2 (IL-2). Mengonsumsi melatonin biasanya dimulai 7 hari sebelum dimulainya kemoterapi dan dilanjutkan sepanjang kursus perawatan penuh.

 

Pencegahan dan pengobatan penurunan sel-sel pembentuk gumpalan (trombositopenia) yang terkait dengan kemoterapi kanker: 20-40 mg melatonin setiap hari dimulai hingga 7 hari sebelum kemoterapi dan berlanjut sepanjang siklus kemoterapi.

 

Pengobatan luka bakar akibat sinar matahari: aplikasikan krim yang mengandung 0,05% hingga 2,5% melatonin, diberikan 15 menit sebelum atau hingga 4 jam setelah paparan sinar matahari.

 

Dosis untuk Anak-anak

Gangguan tidur pada penderita kebutaan: konsumsi 0,5-4 mg melatonin setiap hari.

 

Masalah tidur: konsumsi 1-6 mg melatonin sebelum tidur selama satu bulan.

 

Masalah tidur pada penderita gangguan siklus sirkadian: konsumsi 0,5-12 mg melatonin setiap hari (untuk anak-anak dan remaja berusia 3 bulan hingga 18 tahun).

 

Insomnia primer: konsumsi 5 mg atau 0,05-0,15 mg / kg berat badan, diminum sebelum tidur selama 4 minggu (anak usia 6-12 tahun).

 

Insomnia sekunder akibat kejang: konsumsi 6-9 mg melatonin diminum sebelum tidur selama 4 minggu (anak usia 3-12 tahun).

 

Mengurangi kecemasan sebelum operasi: konsumsi 0,05-0,5 mg / kg berat badan, sebelum anestesi (pada anak usia 1-8 tahun).

 

 

Interaksi Sinergi

 

Fluoxetine: Mengkombinasikan melatonin dengan fluoxetine efektif dalam menurunkan gejala fibromialgia. 

 

Vitamin C: Kombinasi melatonin dengan vitamin C menunjukkan efek proteksi DNA terhadap stres oksidatif dan paparan logam berat (kromium III) dengan lebih baik. 

 

Asam alpha-lipoic: Kombinasi melatonin dengan vitamin C menunjukkan efek proteksi DNA terhadap stres oksidatif akibat paparan logram berat (kromium III) dengan lebih baik. 

 

Resveratrol: Resveratrol merupakan polifenol yang terkandung dalam wine, kombinasi keduanya dalam dosis rendah dapat menimbulkan efek neuroproteksi terutama perlindungan terhadap pigmentasi beta-amiloid sel hipokampus otak (mencegah Alzheimer). 

 

• Aktivitas olahraga: Suplementasi melatonin kemudian ditambbahkan aktivitas fisik dan berolahraga mampu meningkatkan perbaikan sel syaraf terutama setelah terjadi trauma pada sistem saraf.

 

Selenium: Kombinasi selenium dan melatonin menimbulkan efek proteksi terhadap areteri karotis, dan mencegah terjadinya stroke iskemia. 

 

Galantamine: Galatamine merupakan jenis obat kolinergik yang meningkatkan produksi asetilkolin dalam otak. Kombinasi galantamine dengan melatonin dapat bersinergi dan mencegah terjadinya stres oksidatif akibat paparan pestisida atau insektisida berjenis rotenone yang banyak terkandung pada bahan makanan dan sayuran non-organik. 

 

Vitamin E: Vitamin E dapat meningkatkan penyerapan melatonin di dalam tubuh.

 

 

Defisiensi

 

Kekurangan kadar melatonin dapat membuat seseorang susah tidur, karena melatonin berfungsi untuk meregulasi waktu tidur termasuk mengatur kapan waktunya tubuh untuk beristirahat dan berjaga.

 

Kekurangan melatonin juga dikaitkan dengan risiko kanker payudara dan kanker prostat. Dalam penelitian tersebut juga dikatakan bahwa orang yang menderita kanker prostat atau kanker payudara memiliki kadar melatonin yang lebih rendah dibandingkan dengan yang tidak terkena kedua penyakit tersebut.

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil atau menyusui sebaiknya tidak mengonsumsi melatonin.

 

Orang dengan riwayat masalah kesehatan terkait hormon hanya boleh menggunakan melatonin di bawah pengawasan dokter.

 

Penggunaan melatonin jangka panjang tidak disarankan untuk anak-anak dan remaja.

 

Hindari mengonsumsi suplemen melatonin jika sedang menggunakan obat-obatan seperti anti-depresan, flumazenil (Romazicon), pil KB (obat kontrasepsi), fluvoxamine, obat anti-diabetes, imunosupresan, antikoagulan, nifedipine GITS, obat penenang, dan verapamil.

 

Hindari megombinasikan suplemen melatonin dengan kafein.

 

 

Efek Samping

 

Efek samping yang dapat terjadi pada konsumsi melatonin dosis tinggi antara lain:

Mimpi buruk

Pusing dan sakit kepala

Rasa kantuk di siang hari

Perasaan depresi jangka pendek

Kram perut

Mudah marah

Penurunan libido

Ginekomastia (pembesaran payudara pada pria)

Penurunan jumlah sperma (mempengaruhi fertilitas pada pria).

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2014). Melatonin. Examine. Diakses pada 18 Juni 2019.

Price, Annie. (2019). How melatonin can benefit sleep and other health issues. Dr Axe. Diakses pada 18 Juni 2019.

WebMD. (2018). Melatonin. Examine. Diakses pada 18 Juni 2019.

Link, Rachael. (2018). Melatonin: Benefits, uses, side effects and dosage. Healthline. Diakses pada 18 Juni 2019

Lyseng-Williamson KA. Melatonin prolonged release: In the treatment of insomnia in patients aged ≥55 years. Drugs Aging. (2012).

Kurdi MS, Muthukalai SP. The efficacy of oral melatonin in improving sleep in cancer patients with insomnia: A randomized double-blind placebo-controlled study. Indian J Palliat Care. (2016).

Ferracioli-Oda E, Qawasmi A, Bloch MH. Meta-analysis: Melatonin for the treatment of primary sleep disorders. PLoS One. (2013). 

Forsling ML, Wheeler MJ, Williams AJ. The effect of melatonin administration on pituitary hormone secretion in man. Clin Endocrinol (Oxf). (1999).

Genade S, Genis A, Ytrehus K, Huisamen B, Lochner A. Melatonin receptor-mediated protection against myocardial ischaemia/reperfusion injury: role of its anti-adrenergic actions. J Pineal Res. (2008).

Pereira Rde S. Regression of gastroesophageal reflux disease symptoms using dietary supplementation with melatonin, vitamins and aminoacids: comparison with omeprazole. J Pineal Res. (2006). 

Kandil TS, Mousa AA, El-Gendy AA, Abbas AM. The potential therapeutic effect of melatonin in gastro-esophageal reflux disease. BMC Gastroenterol. (2010).

Bellipanni G, Bianchi P, Pierpaoli W, Bulian D, Ilyia E. Effects of melatonin in perimenopausal and menopausal women: A randomized and placebo controlled study. Exp Gerontol. (2001). 

Hussain SA, Al-Khalifa II, Jasim NA, Gorial FI. Adjuvant use of melatonin for treatment of fibromyalgia. J Pineal Res. (2011).

Fathollahi A, Daneshgari F, Hanna-Mitchell AT. Melatonin and its role in lower urinary tract function: An article review. Current Urology. (2015).

Han JH, Chang IH, et al. A novel pathway underlying the inhibitory effects of melatonin on isolated rat urinary bladder contraction. Korean J Physiol Pharmacol. (2012). 

Hurtuk A, Dome C, Holloman CH, et al. Melatonin: Can it stop the ringing?. Ann Otol Rhinol Laryngol. (2011).

Rossignol DA, Frye RE. Melatonin in autism spectrum disorders: a systematic review and meta-analysis. Dev Med Child Neurol. (2011).


Tags: , , , , , , , , , , , ,