fbpx
LOGO

5 Hal Ini dapat Menjauhkan Anda dari Penyakit Alzheimer

July 29, 2020
IMG

Penyakit Alzheimer merupakan salah satu penyakit penurunan kognitif progresif yang disebabkan oleh kematian sel otak secara gradual sehingga dikenal dengan istilah penyakit neurodegeneratif. Alzheimer juga menjadi salah satu penyakit yang umum dialami oleh lansia (lanjut usia) serta menjadi penyakit yang paling banyak ditakuti oleh kelompok masyarakat yang beranjak tua. 

 

Meski Alzheimer lebih sering menyerang pada orang dengan usia lebih dari 65 tahun, tak menutup kemungkinan dewasa muda dapat terkena Alzheimer. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Neurology menemukan bahwa gejala awal Alzheimer dapat terlihat semenjak usia remaja, dimulai sejak usia 15 hingga 20 tahun (1).

 

Dikutip pula dari Mayo Clinic, sebanyak 5% dari seluruh pasien penderita Alzheimer mengalami gejala Alzheimer sebelum usia 65 tahun, yang disebut juga dengan gejala Alzheimer awal atau onset dini (2).

 

Untuk mengetahui onset gejala penyakit Alzheimer, Anda dapat membaca artikel kami yang lain tentang Alzheimer.

 

 

Penyebab Terjadinya Penyakit Alzheimer

 

Penyakit Alzheimer merupakan penyakit yang cukup kompleks. Hingga kini, para peneliti belum mengetahui secara pasti penyebabnya. Namun, besar kemungkinan Alzheimer disebabkan oleh lebih dari faktor tunggal. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kombinasi faktor genetik, infeksi, ketidakseimbangan bakteri di usus, dan penuaan sangat berperan dalam terjadinya penyakit Alzheimer. 

 

Kombinasi tersebut dapat menyebabkan peradangan otak, stres oksidatif, penumpukan beta-amiloid, dan ketidakseimbangan neurotransmiter, sehingga terjadilah degradasi atau hilangnya sel otak dan berbagai penurunan fungsi kognitif lainnya. Disisi lain, diabetes tipe 2 dan penyakit jantung sangat terkait dengan perkembangan penyakit Alzheimer. 

 

Dengan menurunkan risiko penyakit kronis, juga akan menurunkan risiko terhadap berbagai penyakit lain (3, 4, 5). Konsumsi makanan yang sehat dan berolahraga secara teratur merupakan pilihan yang tepat untuk mencegah terjadinya penyakit Alzheimer. 

 

 

Cara Mencegah Alzheimer

 

Walaupun dikatakan tidak ada obat yang dapat mengobati penyakit ini, terdapat beberapa langkah untuk mencegah atau memperlambat penyakit Alzheimer. Pencegahan ini disarankan untuk dilakukan sedini mungkin dan sangat mudah untuk dilakukan.

 

1. Melakukan Aktivitas Mental dan Sosial

Aktivitas mental membantu mencegah atau menunda timbulnya demensia dan kelainan kognitif lain yang menyertai penuaan. Melakukan aktivitas mental dan sosial akan merangsang otak sehingga meningkatkan koneksi antara sel-sel otak, ukuran otak, dan kesehatan subtansia alba atau materi putih (jaringan ikat terletak di antara sel neuron dalam sistem saraf pusat).

 

Anda juga dapat membaca, bermain game, melakukan teka-teki atau bahkan menari untuk membantu mempertahankan ketajaman ingatan. 

 

Selain itu, habiskan waktu yang Anda miliki dengan belajar. Dengan belajar, Anda sedang membangun cadangan kognitif Anda. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk belajar, maka sel otak akan menciptakan dinding pertananan yang baik terhadap perkembangan penyakit Alzheimer. Orang yang gemar belajar memiliki risiko lebih rendah terkena gangguan ini. 

 

Saat Anda mempelajari topik baru dan mendapatkan pengetahuan yang kompleks, serangkaian koneksi akan diperkuat di antara neuron dalam otak. Koneksi yang kuat dan beragam membuat Anda lebih tahan terhadap penurunan kognitif.

 

Ketika koneksi terputus akibat penuaan atau perkembangan penyakit Alzheimer, otak dapat mengimbanginya dengan membuat jalur komunikasi alternatif antar neuron yang dibangun selama tahun-tahun dengan proses pembelajaran, terutama pada usia muda (6, 7, 8).

 

2. Berolahraga dan Jauhi Rokok

Olahraga akan melancarkan sirkulasi darah, membuat lebih banyak darah mengalir ke otak, sehingga membuat otak Anda lebih sehat. Studi menunjukkan bahwa olahraga adalah salah satu cara yang paling penting dan efektif untuk mencegah atau menurunkan risiko demensia atau penyakit pikun dan penyakit Alzheimer.

 

Olahraga meningkatkan aliran darah otak, meningkatkan ukuran hippocampus (pusat memori otak), dan merangsang kelahiran sel-sel otak baru (9, 10).

 

Sebuah tinjauan penelitian yang melibatkan lebih dari 160 ribu orang menemukan bahwa olahraga fisik mengurangi risiko terkena penyakit Alzheimer. Terutama olahraga berjenis aerobik atau kardio sangat baik untuk mengurangi risiko terjadinya gangguan kognitif dan demensia akibat bertambahnya usia (11, 12). Sangat direkomendasikan untuk rutin berolahraga di pagi hari, minimal 30 menit selama 5 hari atau lebih, dalam setiap minggu.

 

Selain itu, berhenti merokok terbukti sangat bermanfaat dalam meningkatkan kesehatan otak dan menurunkan risiko mengidap penyakit Alzheimer. Berdasarkan sebuah penelitian terbaru, merokok memicu stres oksidatif dan merusak sel-sel otak, sehingga sangat meningkatkan risiko terkena penyakit Alzheimer di masa tua (13, 14).

 

3. Mendapatkan Cukup Tidur

Ketika tidur, otak akan membersihkan produk limbah seperti protein beta-amiloid yang menumpuk di otak. Kurang tidur atau sering mengalami gangguan tidur akan menyebabkan penumpukan produk limbah dan kerusakan neuron hingga berujung pada gangguan kognitif seperti Alzheimer (15, 16, 17).

 

4. Konsumsi Makanan dengan Gizi Seimbang

Sebuah penelitian menyebutkan, mengikuti diet Mediterania dapat mengurangi risiko penyakit Alzheimer. Diet ini merupakan jenis diet yang merekomendasikan konsumsi menu makanan lengkap yang terdiri dari buah-buahan, sayuran, minyak zaitun, serta makanan laut, terutama jenis makanan laut yang mengandung banyak asam lemak omega-3 (DHA) (18, 19).

 

Diet ketogenik dan puasa intermiten juga dapat meningkatkan daya ingat pada penderita Alzheimer dengan meningkatkan pertahanan antioksidan dan fungsi mitokondria di tingkat sel. Proses ketosis yang terjadi setelah melaksanakan diet ketogenik atau berpuasa akan mengurangi kerusakan oksidatif di otak dan meningkatkan pelepasan energi dari sel-sel otak.

 

Akan terjadi pula peningkatan produksi glutathion, yakni senyawa antioksidan utama dalam sel hippocampal (yang menyimpan memori) dan mengurangi kelebihan glutamat (20, 21).

 

Selain kedua jenis diet diatas, Anda juga dapat mengimbangi dengan menambahkan suplemen atau konsumsi makanan yang kaya akan kandungan vitamin B, D dan E, polifenol, mangan, asiklovir, melatonin, huperzine A, phosphatidylserine dan DHA, asam ferulic, dan tinggi asam folat.

 

Beberapa rempah atau herbal seperti kunyit, saffron, ginkgo biloba, teh hijau, kafein, gotu kola (pegagan), dan minyak cannabidiol (CBD) juga terbukti dapat mencegah dan memperlambat gejala penyakit Alzheimer dan demensia.

 

5. Melindungi Diri dari Penyebab Trauma Kepala

Sebuah tinjauan penelitian yang melibatkan lebih dari 2 juta partisipan menemukan bahwa cedera pada kepala dapat meningkatkan risiko penyakit Alzheimer sebesar 50% dan meningkatkan risiko terjadinya seluruh jenis demensia lebih dari 60% (22). 

 

Maka dari itu, ingatlah untuk selalu melindungi kepala Anda dari cedera, terutama pada orang-orang dengan profesi seperti atlet.  Sebuah hasil penelitian menyatakan pemain sepak bola empat kali lebih mungkin terkena gangguan neurodegeneratif (23). 

 

Bagi pekerja yang melibatkan barang-barang berat, selalu lengkapi diri Anda dengan Alat Pelindung Diri dan Keselamatan Kerja (APD K3). Gunakan helm ketika berkendara dengan roda dua guna melindungi kepala.

 

 

Kesimpulan

 

Meskipun hingga kini belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit Alzheimer, banyak strategi yang dapat Anda lakukan untuk mencegah dan memperlambat perkembangannya. Di antara yang paling banyak diteliti adalah dengan melakukan aktivitas mental dan sosial, cukup tidur, menjauhi rokok, berolahraga di pagi hari, serta mengonsumsi makanan sehat seimbang seperti mengikuti diet mediteranian atau diet keto.

 

Konsumsilah makanan yang kaya akan kandungan nutrisi seperti vitamin E, antioksidan resveratrol yang banyak terkandung dalam buah anggur merah, serta rempah-rempah seperti kunyit. Selain itu, pertimbangkan pula konsumsi suplemen berjenis huperzine A, ginko biloba, teh hijau, dan vitamin B untuk memperlambat penurunan kognitif.

 

Mengonsumsi suplemen melatonin juga dapat menyeimbangkan ritme sirkadian (waktu normal tubuh untuk tidur dan beristirahat). Melatonin sangat dibutuhkan tubuh, terutama jika Anda menderita Alzheimer.

 

 

Referensi :

Julajak, Jimmy. (2019). Can Alzheimer’s disease be cured naturally?. Self Hacked. Diakses pada 26 Agustus 2019.

Julajak, Jimmy. (2019). 13 Natural strategies for Alzheimer’s disease prevention. Self Hacked. Diakses pada 26 Agustus 2019.

Julajak, Jimmy. (2019). Is Alzheimer’s genetic? the real causes of Alzheimer’s. Self Hacked. Diakses pada 26 Agustus 2019.

Lava, Neil. (2018). Can you prevent Alzheimer’s disease?. WebMD. Diakses pada 26 Agustus 2019.

Radford, J. G. (2019). Early-onset alzheimer’s: When symptoms begin before age 65. Mayo Clinic. Diakses pada 10 Januari 2020.

Musiek ES, Bihmasani M, Zangrilli MA, et al. Circadian rest-activity pattern changes in aging and preclinical Alzheimer disease. JAMA Neurol. (2018).

Mayo Clinic Staff. (2019). Young-onset Alzheimer’s: When symptoms begin before age 65. Mayo Clinic. Diakses pada 10 Januari 2020.

Justin BN, Turek M, Hakim AM. Heart disease as a risk factor for dementia. Clin Epidemiol. (2013). 

de Bruijn RF, Ikram MA. Cardiovascular risk factors and future risk of Alzheimer’s disease. BMC Med. (2014). 

Barbagallo M, Dominguez LJ. Type 2 diabetes mellitus and Alzheimer’s disease. World J Diabetes. (2014). 

Stern Y. Cognitive reserve. Neuropsychologia. (2009).

Evans DA, Hebert LE, Beckett LA, et al. Education and other measures of socioeconomic status and risk of incident Alzheimer disease in a defined population of older persons. Arch Neurol. (1997).

Stern Y. Cognitive reserve in ageing and Alzheimer’s disease. Lancet Neurol. (2012). 

Cass SP. Alzheimer’s disease and exercise: A literature review. Curr Sports Med Rep. (2017).

Maliszewska-Cyna E, Lynch M, Oore JJ, Nagy PM, Aubert I. The benefits of exercise and metabolic interventions for the prevention and early treatment of Alzheimer’s disease. Curr Alzheimer Res. (2017).

Ahlskog JE, Geda YE, Graff-Radford NR, Petersen RC. Physical exercise as a preventive or disease-modifying treatment of dementia and brain aging. Mayo Clin Proc. (2011). 

Hamer M, Chida Y. Physical activity and risk of neurodegenerative disease: A systematic review of prospective evidence. Psychol Med. (2009). 

Durazzo TC, Mattsson N, Weiner MW. Alzheimer’s disease neuroimaging initiative. smoking and increased Alzheimer’s disease risk: A review of potential mechanisms. Alzheimers Dement. (2014). 

Rusanen M, Kivipelto M, Quesenberry CP Jr, Zhou J, Whitmer RA. Heavy smoking in midlife and long-term risk of Alzheimer disease and vascular dementia. Arch Intern Med. (2011). 

Cedernaes J, Osorio RS, Varga AW, Kam K, Schiöth HB, Benedict C. Candidate mechanisms underlying the association between sleep-wake disruptions and Alzheimer’s disease. Sleep Med Rev. (2017). 

Shi L, Chen SJ, Ma MY, et al. Sleep disturbances increase the risk of dementia: A systematic review and meta-analysis. Sleep Med Rev. (2018). 

Ju YE, Lucey BP, Holtzman DM. Sleep and Alzheimer disease pathology–a bidirectional relationship. Nat Rev Neurol. (2014). 

Scarmeas N, Luchsinger JA, Mayeux R, Stern Y. Mediterranean diet and Alzheimer disease mortality. Neurology. (2007). 

Vassilaki M, Aakre JA, Syrjanen JA, et al. Mediterranean diet, its components, and amyloid imaging biomarkers. J Alzheimers Dis. (2018). 

Henderson ST. Ketone bodies as a therapeutic for Alzheimer’s disease. Neurotherapeutics. (2008).  Paoli A,

Bianco A, Damiani E, Bosco G. Ketogenic diet in neuromuscular and neurodegenerative diseases. Biomed Res Int. (2014). 

Li Y, Li Y, Li X, et al. Head injury as a risk factor for dementia and Alzheimer’s disease: A systematic review and meta-analysis of 32 observational studies. PLoS One. (2017). 

Lehman EJ, Hein MJ, Baron SL, Gersic CM. Neurodegenerative causes of death among retired national football league players. Neurology. (2012).


Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , ,