fbpx
LOGO

Mengenal Capsaicin, Perasa Pedas pada Cabai

July 14, 2020
IMG

Capsaicin adalah ekstrak alkaloid dan pemberi rasa pedas pada cabai. Senyawa ini menciptakan rasa terbakar atau panas pada jaringan yang bersentuhan dengannya.

 

Capcaisin tidak memiliki kandungan khusus seperti kalori atau nutrisi tambahan, tapi efek panas yang dihasilkan melalui reseptor adrenalin dan TRPV1 dapat membakar lemak tubuh dan menyebabkan reaksi peradangan ringan yang dimaksudkan untuk memperbaiki sel-sel yang bersentuhan dengan zat ini. Bersama dengan reaksi inilah banyak manfaat kesehatan dari capsaicin yang dapat dinikmati.

 

 

Manfaat

 

1. Membantu Mengobati Kanker

Sebuah penelitian menunjukkan capsaicin memiliki efek positif pada penyusutan tumor, mencegah metastasis (pertumbuhan tumor baru yang ditemukan jauh dari situs kanker asli), menyebabkan apoptosis pada berbagai model kanker dan bahkan berpotensi mencegah pertumbuhan kanker berulang di lokasi pertama (1).

 

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa capsaicin dapat memperlambat pertumbuhan sel kanker dan bahkan menyebabkan kematian sel untuk berbagai jenis kanker, termasuk kanker prostat, pankreas dan kulit, serta mengurangi ukuran dan frekuensi tumor paru-paru (3).

 

Sebuah penelitian yang diterbitkan tahun 2006 menyatakan bahwa capsaicin memiliki efek antiproliferatif mendalam pada kanker prostat, dan dapat menghentikan penyebaran sel kanker prostat serta menyebabkan apoptosis (kematian sel) pada lebih dari satu jenis sel kanker prostat (4).

 

Capsaicin juga terbukti mampu menginduksi apoptosis pada sel kanker payudara dan sel tambahan, yaitu sel induk kanker payudara. Sel induk yang tersisa setelah kematian sel lainnya merupakan sel yang menyebabkan kekambuhan kanker, sehingga apoptosis sel induk sangatlah penting dalam proses penyembuhan kanker (5).

 

2. Membantu Menurunkan Berat Badan

Sebuah penelitian menyatakan capsaicin dapat menurunkan berat badan, mempercepat metabolisme, membantu membakar lemak dan menekan nafsu makan pada hewan coba (6). Penelitian lain menunjukkan capsaicin dalam cabai rawit membantu mengurangi rasa lapar yang dipercaya akibat aktivitasnya dalam mengurangi produksi hormon lapar bernama ghrelin (7, 8, 9).

 

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa seseorang yang mengonsumsi suplemen capsaicin diketahui makan 10% lebih sedikit, sedangkan mereka yang mengonsumsi minuman yang mengandung capsaicin makan 16% lebih sedikit. Para partisipan juga melaporkan rasa kenyang yang lebih lama serta memakan lebih sedikit kalori dari biasanya (10).

 

Konsumsi capsaicin juga meningkatkan kinerja atletik dan ketahanan fisik secara keseluruhan sehingga bermanfaat bagi mereka yang mengkombinasikan olahraga dan pendekatan nutrisi untuk menurunkan berat badan (11). 

 

 

 

3. Menghilangkan Rasa Nyeri

Mengaplikasikan krim capsaicin pada area yang sakit dapat meredakan dan menghilangkan rasa nyeri. Hal ini karena capsaicin membantu mengurangi jumlah zat P, yakni suatu neuropeptida yang diproduksi oleh tubuh yang bergerak menuju otak untuk mengantarkan sinyal rasa sakit. Semakin sedikit jumlah zat P, maka semakin berkurang ambang nyeri yang dirasakan (12, 13). 


Krim capsaicin sendiri seringkali digunakan untuk mengobati rasa sakit yang berhubungan dengan osteoartritis, rheumatoid arthritis dan fibromyalgia, nyeri sendi dan otot, nyeri punggung bagian bawah, nyeri setelah operasi, dan nyeri karena infeksi pada persyarafan seperti infeksi oleh virus herpes zoster (14, 15).

 

4. Mengurangi Sakit Kepala Cluster

Berbeda dari migrain atau sakit kepala karena tegang, sakit kepala cluster digambarkan sebagai rasa sakit terburuk, yang terasa jauh di dalam kepala atau di sekitar satu sisi kepala. Beberapa wanita bahkan membandingkannya dengan rasa sakit saat melahirkan.

 

Meski jarang terjadi, sakit kepala jenis ini dapat bertahan selama enam hingga dua belas minggu. Mengaplikasikan krim capsaicin menjadi alternatif pengobatan dalam mengurangi sakit kepala cluster, atau biasa disebut sakit kepala gugus (16). 

 

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Institute of Internal Medicine and Clinical Farmacology di University of Florence, Italia, subyek yang menderita sakit kepala dioleskan krim capsaicin pada bagian dalam lubang hidung salah satu sisi, secara berulang selama 60 hari. Setelah evaluasi dilaksanakan, para responden menunjukkan penurunan frekuensi sakit kepala yang signifikan (17).

 

5. Mengobati Psoriasis

Psoriasis adalah salah satu penyakit autoimun yang menyebabkan kulit bercak merah, gatal, dan bersisik. Kandungan zat P dalam krim capsaicin diketahui dapat membantu meringankan rasa gatal dan memperbaiki penampilan kulit yang terkena psoriasis.

 

Meskipun beberapa pasien melaporkan bahwa aplikasi awal krim capsaicin menimbulkan sedikit rasa terbakar, gatal dan menyengat, namun rasa ini akan menghilang dengan sendirinya setelah beberapa kali aplikasi (18, 19, 20).

 

Sebuah penelitian juga menunjukkan aplikasi krim capsaicin pada pasien psoriasis dapat mengurangi kerak, kemerahan, dan kekakuan secara signifikan dibandingkan dengan pasien psoriasis yang menerima krim plasebo (21). 

 

6. Menunjang Pengobatan Diabetes 

Capsaicin sangat bermanfaat dalam mencegah dan menangani diabetes termasuk komplikasi dari diabetes yaitu gejala neuropati atau kumpulan gangguan persyarafan akibat regulasi gula darah yang kurang baik.

 

Mengonsumsi capsaicin secara teratur sebesar 5 gram per hari terbukti mampu menurunkan kadar gula darah postpandrial (2 jam setelah makan), meregulasi kadar insulin serta menurunkan kadar kolesterol total dan trigliserida darah pada kelompok ibu hamil dengan diabetes (diabetes gestasional). Dalam penelitian ini, pemberian capsaicin juga diketahui menurunkan kejadian berat janin yang terlalu besar dan tidak sesuai dengan usia kehamilan (22). 

 

Penggunaan koyo yang mengandung 8% capsaicin selama 30 – 60 menit bersama dengan pemberian perawatan standar diabetes pada kelompok pasien penderita nyeri akibat diabetes neuropati diketahui berhasil menurunkan ambang nyeri neuropati, rendah resiko efek samping dan kejadian komplikasi lainnya (23). 

 

 

Sumber Makanan

 

Capsaicin terdapat dalam semua jenis cabai kecuali paprika. Beberapa jenis cabai yang banyak mengandung capsaicin antara lain:

Cabai merah

Cabai hijau

Cabai rawit

Cabai gendot

Cabai jalapeno dan cayenne

 

 

Dosis Pemakaian

 

Capsaicin dapat dinikmati dengan cara mengonsumsi langsung maupun tersedian dalam bentuk suplemen pil. Dosis standarnya adalah 3 gram per hari.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Piperine: Piperine merupakan senyawa yang terdapat dalam lada hitam. Mengombinasikan capsaicin bersama dengan piperine secara efektif menurunkan peradangan pada saluran pencernaan akibat infeksi bakteri H. pylori yang merupakan bakteri penyebab kanker lambung. 

 

 

Kontraindikasi

 

Luka terbuka: Hindari mengaplikasikan krim capsaicin pada luka terbuka atau kulit yang mengalami pecah-pecah.

 

Penderita masalah pencernaan: Hindari mengonsumsi capsaicin jika Anda memiliki gangguan pencernaan karena dapat menyebabkan refluks asam.

 

Hindari mengonsumsi capsaicin bersama dengan obat pengencer darah (warfarin) karena dapat meningkatkan risiko pendarahan, konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen atau berbagai bahan makanan yang banyak mengandung capsaicin.

 

Hindari mengonsumsi cacpsaicin bersama dengan obat tekanan darah tinggi (terutama jenis inhibitor ACE). Mengonsumsi suplemen maupun mengleskan krim capsaicin dapat menyebabkan batuk. Konsultasikan dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan atau mengonsumsi bersamaan.

 

 

Efek Samping

 

Sakit perut

Mual

Diare

Reaksi alergi, seperti nyeri sendi, kulit memerah, masalah pencernaan, atau respon peradangan lainnya.

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2018). Capsaicin. Examine. Diakses pada 29 Juni 2019.

Edwards, Rebekah. (2017). Capsaicin brings the heat as a disease-fighting powerhouse. Dr Axe. Diakses pada 29 Juni 2019.

Raman, Ryan. (2017). 8 Impressive health benefits of cayenne pepper. Healthline. Diakses pada 29 Juni 2019.

Clark R, Lee SH. Anticancer properties of Capsaicin Against Human Cancer. Anticancer Res. (2016). 

Jang JJ, Kim SH, Yun TK. Inhibitory effect of capsaicin on mouse lung tumor development. In Vivo. (1989).

Mori A, Lehmann S, O’Kelly J, et al. Capsaicin, a component of red peppers, inhibits the growth of androgen-independent, p53 mutant prostate cancer cells. Cancer Res. (2006). 

Shim Y, Song JM. Quantum dot nanoprobe-based high-content monitoring of notch pathway inhibition of breast cancer stem cell by capsaicin. Mol Cell Probes. (2015). 

Yu Q, Wang Y, Yu Y, et al. Expression of TRPV1 in rabbits and consuming hot pepper affects its body weight. Mol Biol Rep. (2012). 

Yoshioka M, St-Pierre S, Drapeau V, et al. Effects of red pepper on appetite and energy intake. Br J Nutr. (1999). 

Tremblay A, Arguin H, Panahi S. Capsaicinoids: A spicy solution to the management of obesity?. Int J Obes (Lond). (2016). 

Smeets AJ, Westerterp-Plantenga MS. The acute effects of a lunch containing capsaicin on energy and substrate utilisation, hormones, and satiety. Eur J Nutr. (2009).

Westerterp-Plantenga MS, Smeets A, Lejeune MP. Sensory and gastrointestinal satiety effects of capsaicin on food intake. Int J Obes (Lond). (2005).

Winter J, Bevan S, Campbell EA. Capsaicin and pain mechanisms. Br J Anaesth. (1995).

Sprouse-Blum AS, Smith G, Sugai D, Parsa FD. Understanding endorphins and their importance in pain management. Hawaii Med J. (2010). 

Chrubasik S, Weiser T, Beime B. Effectiveness and safety of topical capsaicin cream in the treatment of chronic soft tissue pain. Phytother Res. (2010).

Groninger H, Schisler RE. Topical capsaicin for neuropathic pain #255. J Palliat Med. (2012).

Ruggeri C. (2016). How lifestyle changes & diet can manage cluster headaches. Dr Axe. Diakses pada 29 Juni 2019.

Sicuteri F, Fusco BM, Marabini S, et al. Beneficial effect of capsaicin application to the nasal mucosa in cluster headache. Clin J Pain. (1989).

Bernstein JE, Parish LC, Rapaport M, Rosenbaum MM, Roenigk HH Jr. Effects of topically applied capsaicin on moderate and severe psoriasis vulgaris. J Am Acad Dermatol. (1986). 

Shenefelt PD. Herbal treatment for dermatologic disorders. In: Benzie IFF, Wachtel-Galor S, editors. Herbal medicine: Biomolecular and clinical aspects. 2nd edition. Boca Raton (FL): CRC Press/Taylor & Francis; (2011). 

Ellis CN, Berberian B, Sulica VI, et al. A double-blind evaluation of topical capsaicin in pruritic psoriasis. J Am Acad Dermatol. (1993). 

Bernstein JE, Parish LC, Rapaport M, Rosenbaum MM, Roenigk HH Jr. Effects of topically applied capsaicin on moderate and severe psoriasis vulgaris. J Am Acad Dermatol. (1986).

Yuan LJ, Qin Y, Wang L, et al. Capsaicin-containing chili improved postprandial hyperglycemia, hyperinsulinemia, and fasting lipid disorders in women with gestational diabetes mellitus and lowered the incidence of large-for-gestational-age newborns. Clin Nutr. (2016). 

Vinik AI, Perrot S, Vinik EJ, et al. Capsaicin 8% patch repeat treatment plus standard of care (SOC) versus SOC alone in painful diabetic peripheral neuropathy: A randomised, 52-week, open-label, safety study. BMC Neurol. (2016).


Tags: , , , , , , ,