fbpx
LOGO

Mengenal Khasiat Berberin Sebagai Nootropik Terkuat

September 30, 2020
IMG

Berberin adalah alkaloid berwarna kuning cerah yang diekstrak dari berbagai tanaman seperti Indian barberry (kunyit pohon), Oregon grape, dan goldenseal. Berberin telah digunakan dalam pengobatan tradisional India, Ayurvedic, dan Cina sebagai antibakteri, anti-inflamasi, anti-diare, anti-mikroba, anti-protozoa, dan digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh selama ribuan tahun.

 

Berberin merupakan salah satu jenis obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tidak memiliki efek samping yang signifikan. 

 

Sebagai contoh, kunyit mengandung berberin yang menyebabkan suasana hati lebih baik dan mampu meningkatkan fungsi kognisi di waktu bersamaan. Efek yang sama bahkan lebih baik bisa didapat melalui suplementasi berberin, tanpa mengonsumsi kunyit.

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

Berberin merupakan suplemen yang unik dan dikenal sebagai sumber nootropik terkuat. Pada berbagai penelitian dan pengalaman klinis penggunaan berberin hingga 5 tahun mampu mengatasi berbagai penyakit, termasuk Alzheimer.

 

Berberin adalah salah satu dari sedikit suplemen nootropik yang diketahui mampu mengaktifkan AMPK (Adenosine Monophospate-activated protein kinase). Aktivasi AMPK sangat dibutuhkan bagi penderita diabetes, pra-diabetes, kelebihan berat badan, dan semua kondisi yang yang dapat meningkatkan risiko kesehatan terhadap fungsi kognitif.

 

Ketika dikombinasikan dengan nootropik lain, berberin juga terbukti mampu meningkatkan kadar kolesterol, menurunkan tekanan darah, meningkatkan suasana hati, melindungi otak dari kerusakan, dan membantu memperbaiki daya ingat.

 

 

Manfaat Berberin

 

Sebagai nootropik, berberin mampu meningkatkan hormon di otak (dopamin, serotonin, dan norepinefrin), meningkatkan pembelajaran dan memori, meningkatkan energi, sensitivitas insulin, dan pembakaran lemak di mitokondria. 

 

1. Meningkatkan daya ingat dan pembelajaran

Berberin berperan besar dalam pembentukan memori dan proses belajar. Manfaat ini berasal dari mekanisme berberin dalam menghambat aktivitas AchE (acetylcholinesterase) dan meningkatkan peptida seperti glukagon (GLP-1) (1).

 

Enzim AchE memecah asetilkolin (ACh) yang sangat diperlukan untuk pembentukan konsentrasi, fokus, dan memori. Mencegah kerusakan Ach akan menghasilkan lebih banyak neurotransmiter untuk proses pembelajaran, memori, dan ingatan.

 

Sedangkan GLP-1 adalah hormon peptida yang terlibat dalam kognisi, pembelajaran, dan perlindungan saraf. Pada penelitian tingkat sel GLP-1 menunjukkan potensi dalam meningkatkan plastisitas sinaptik di hipokampus, mengurangi agregasi protein β amiloid (Aβ), dan protein terkait mikrotubulus yang dapat memicu risiko Alzheimer (2).

 

Uji coba pada hewan juga menunjukkan sifat antioksidan berberin berfungsi menurunkan stres oksidatif, serta memperbaiki kerusakan memori yang disebabkan oleh skopolamin. Skopolamin merupakan jenis obat yang dapat menghambat produksi asetilkolin, dan penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan amnesia serta gangguan kognitif (3, 4, 5). 

 

2. Sebagai anti-depresan

Beberapa orang yang mengonsumsi berberin melaporkan terjadinya peurunan gejala depresi. Meski penelitian pada manusia masih sangat terbatas, penelitian klinis pada hewan mendukung pernyataan tersebut.

 

Pada uji coba dengan tikus, suplementasi berberin terbukti meningkatkan norepinefrin sebsar 31%, serotonin 47%, dan dopamin 31%. Ketiga neurotransmiter ini memiliki efek positif pada suasana hati, kecemasan, dan anti-depresi. Berberin juga diketahui memiliki kemiripan dengan L-Deprenyl dalam menghambat monoamin oksidase-A (MAO-A) (6).

 

Enzim MAO terlibat dalam penurunan kadar norepinefrin dan dopamin di otak. Beberapa penelitian juga telah menunjukkan bahwa MAO-A dan B yang berlebihan terjadi seiring bertambahnya usia. Menghambat produksi MAO-A akan meningkatkan norepinefrin dan dopamin di otak sehingga dapat meningkatkan mood atau suasana hati (7, 8).

 

3. Membantu menormalkan kadar gula darah

Glukosa merupakan sumber energi untuk tubuh. Otak merupakan bagian tubuh yang paling banyak menggunakan glukosa, yakni setengah dari sumber energi tubuh yang tersedia. Fungsi otak sangat bergantung dengan kadar glukosa. Kekurangan glukosa (hipoglikemia) dapat menyebabkan kerusakan neuron yang berdampak pada fungsi dan kinerja otak (9).

 

Adapun kadar gula berlebih atau hiperglikemia dapat menyebabkan diabetes tipe 1 dan 2. Hal ini juga mempengaruhi sambungan sel otak dan membatasi aliran darah ke otak sehingga dapat menyebabkan penyusutan otak. Kondisi ini akan meningkatkan risiko demensia (10).

 

 

 

Sumber Makanan

 

Berberin dapat ditemukan secara alami pada:

Kunyit

Anggur oregon

Berberis

Coptis

Goldenseal

Phellodendron

 

 

Dosis Pemakaian

 

Dosis berberin yang disarankan adalah 900 – 1.500 mg per hari yang dibagi menjadi 3 kali sehari.

 

Suplemen berberin dapat dikonsumsi 30 menit sebelum makan.  Sebagai permulaan, dianjurkan untuk mengonsumsinya pada dosis terendah.

 

 

Interaksi Sinergi

 

Berberin dapat dikombinasikan dengan sodium caprate (minyak kelapa) untuk meningkatkan penyerapan berberin ke dalam tubuh.

 

 

Efek Samping

 

Diare

Dapat menurunkan kadar gula darah

Dapat menurunkan tekanan darah

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil atau menyusui tidak disarankan mengonsumsi berberin. Kalaupun ingin, bisa berkonsultasi dengan dokter sebelum penggunaan untuk menyesuaikan dosis dengan kondisi. 

 

Berhati-hati dalam mengombinasikan berberin dengan antibiotik, obat penurun gula darah, dan obat-obatan yang dipecah oleh hati karena dapat menghasilkan interaksi obat yang tidak diinginkan.

 

 

Referensi:

Tomen D. (2018). Berberine. Nootropics Expert. Diakses pada 03 September 2019.

Hwang JT, Kwon DY, Yoon SH. AMP-activated protein kinase: a potential target for the diseases prevention by natural occurring polyphenols. N Biotechnol. (2009).

Perry T, Lahiri DK, Sambamurti K, Chen D, Mattson MP, Egan JM, Greig NH. Glucagon-like peptide-1 decreases endogenous amyloid-beta peptide (Abeta) levels and protects hippocampal neurons from death induced by Abeta and iron. J Neurosci Res. (2003). 

Bhutada P, Mundhada Y, Bansod K, Tawari S, Patil S, Dixit P, Umathe S, Mundhada D. Protection of cholinergic and antioxidant system contributes to the effect of berberine ameliorating memory dysfunction in rat model of streptozotocin-induced diabetes. Behav Brain Res. (2011). 

Kalalian-Moghaddam H, Baluchnejadmojarad T, Roghani M, Goshadrou F, Ronaghi A. Hippocampal synaptic plasticity restoration and anti-apoptotic effect underlie berberine improvement of learning and memory in streptozotocin-diabetic rats. Eur J Pharmacol. (2013). 

Lee B, Sur B, Shim I, Lee H, Hahm DH. Phellodendron amurense and its major alkaloid compound, berberine ameliorates scopolamine-induced neuronal impairment and memory dysfunction in rats. Korean J Physiol Pharmacol. (2012).

Kulkarni SK, Dhir A. On the mechanism of antidepressant-like action of berberine chloride. Eur J Pharmacol. (2008). 

Caliceti C, Rizzo P, Cicero AF. Potential benefits of berberine in the management of perimenopausal syndrome. Oxid Med Cell Longev. (2015).

Kulkarni SK, Dhir A. Sigma-1 receptors in major depression and anxiety. Expert Rev Neurother. (2009).

Harvard Medical School. (2018). Sugar and the brain. Harvard Medical School. Diakses pada 03 September 2019. 

Yin J, Xing H, Ye J. Efficacy of berberine in patients with type 2 diabetes mellitus. Metabolism. (2008). 


Tags: , , ,