fbpx
LOGO

Mengenal Kitosan, Suplemen Penghancur Lemak yang Ampuh

July 20, 2020
IMG

Chitosan atau kitosan merupakan glukosamin alami, dimana komponennya merupakan serat biodegradasi dan dapat hancur dengan proses alam. Kitosan terbuat dari kitin, senyawa yang diperoleh dari kerangka keras luar kerang, dan hewan laut lainnya termasuk kepiting, lobster, dan udang.

 

Kitosan juga ditemukan pada kerangka serangga dan jamur. Beberapa orang bahkan menyebut kitin sebagai senyawa “pelindung alam” karena ketahanan dan kekokohannya yang ekstrem.

 

Secara umum, kitosan memiliki dua jenis sediaan yakni kitosan pil, hidrogel, nanopartikel dan berupa obat balutan. Sedangkan sediaan kedua berupa kitosan oligosakarida yang telah melalui proses sedemikian rupa sehingga memiliki partikel yang lebih kecil, penyerapan lebih baik, serta lebih kaya manfaat.

 

Kitosan disebut-sebut ampuh dalam membantu menurunkan berat badan, kolesterol, meningkatkan regenerasi kulit dan sendi, menyembuhkan  gagal ginjal, anemia, dan insomnia. Beberapa orang bahkan mengaplikasikan kitosan secara langsung pada gusi untuk mengobati peradangan yang dapat menyebabkan kehilangan gigi (periodontitis), atau mengunyah permen karet yang mengandung kitosan untuk mencegah gigi berlubang (karies gigi).

 

 

Manfaat Kitosan

 

1. Membantu Menurunkan Berat Badan

Ketika kitosan masuk ke dalam tubuh dan melewati sistem pencernaan, kitosan akan mengikat lemak dan mengeluarkannya melalui feses. Pada beberapa penelitian, kitosan terbukti efektif membantu menurunkan berat badan hingga 3 kg selama 3 bulan, dibandingkan dengan plasebo yang hanya menurunkan 1 kg (1)

 

Pada penelitian dengan tikus gemuk menunjukkan bahwa suplementasi kitosan dapat menurunkan kolesterol dan trigliserida, serta meningkatkan penanda yang disebut indeks aterogenik (rasio trigliserida darah dan kolesterol baik HDL), yang memprediksi kemungkinan penyakit jantung dan akumulasi lemak perut yang berbahaya (2, 3).

 

Di sisi lain, penelitian pada tikus menunjukkan kitosan mampu menurunkan insulin dan meningkatkan kadar hormon leptin. Menurunkan insulin dapat mencegah resistensi insulin, sementara leptin bekerja sebagai penanda rasa kenyang. Secara umum, leptin meningkatkan penurunan berat badan dan mencegah makan berlebihan (4, 5).

 

2. Mengikat Lemak dan Menurunkan Kolesterol

Kitosan adalah serat yang non-digestible (tidak dapat diserap oleh tubuh), sehingga ketika dikonsumsi molekul kitosan justru mengikat lemak, racun, serta kolesterol dalam saluran pencernaan kemudian mengeluarkan bersama dengan feces. Itulah sebabnya kitosan dikenal dengan istilah ‘fat binder’ atau pengikat lemak. 

 

Karena lemak berlebih diikat dan dikeluarkan oleh kitosan, secara otomatis kitosan menurunkan kolesterol dengan mengurangi penyerapannya dalam tubuh. Mencampurkan kitosan pada makanan dapat menurunkan kadar kolesterol total darah sebanyak 6 hingga 40% dan kadar kolesterol jahat (LDL) sebesar 15 hingga 35% (6, 7).

 

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Cochrane, menunjukkan bahwa suplementasi kitosan selama minimal 4 minggu berturut-turut mampu menurunkan rata-rata berat badan hingga 1.7 Kg, menurunkan kadar kolesterol total hingga 0.2 mmol/L darah, serta secara signifikan menurunkan tekanan sistolik maupun diastolik dibandingkan kelompok penerima plasebo (8). 

 

Meski kitosan menunjukkan kemampuan yang sangat baik dalam mengikat lemak, pengguna kitosan wajib mewaspadai terjadinya efek samping yang tidak diinginkan karena pengeluaran lemak berlebih oleh kitosan. Hal ini juga dapat meningkatkan kehilangan berbagai mineral penting seperti kalsium, vitamin A dan vitamin D yang merupakan nutrisi dan mineral larut lemak (9).

 

3. Membantu Mengobati Penyakit Ginjal

Suplementasi kitosan kepada 40 orang dengan gagal ginjal terbukti dapat meningkatkan kekuatan, nafsu makan, dan kualitas tidur setelah 12 minggu penelitian. Kitosan juga terbukti meningkatkan hemoglobin dan mengurangi kadar kreatinin darah dan urea, yang menunjukkan potensinya untuk meningkatkan fungsi ginjal (10).

 

Selain itu, kompleks besi kitosan mampu mengurangi kadar fosfor darah dengan cara mengikat fosfor lebih kuat daripada kebanyakan pengikat fosfor lain yang tersedia. Kadar fosfor yang tinggi ini sangat terkait dengan risiko kematian yang lebih tinggi pada orang dengan penyakit ginjal kronis (11, 12).

 

 

 

4. Meningkatkan Tenaga dan Kinerja

Pada penelitian yang melibatkan hewan, kandungan oligosakarida pada kitosan dapat meningkatkan energi dan daya tahan, serta mengurangi kelelahan pada tikus yang kurang tidur. Ini juga melindungi dari efek kelelahan, seperti penurunan berat badan dan imobilitas (13, 14).

 

Manfaat tersebut dipercaya  berasal dari kemampuan oligosakarida pada kitosan untuk meningkatkan massa mitokondria dan kepadatan. Peningkatan aktivitas mitokondria dapat membantu mengatasi kelelahan dan mempertahankan pasokan energi selama periode waktu yang lama.

 

Selain itu, kitosan mampu menurunkan kadar hormon stres kortisol berlebih pada tikus yang kelelahan dan meningkatkan kadar antioksidan penting yang disebut superoksida dismutase (SOD) (15).

 

5. Mempercepat Penyembuhan Luka dan Regenerasi Kulit

Sebuah penelitian review sistematis dan meta-analisis berhasil menunjukkan efektivitas gel kitosan yang dioleskan dalam balutan luka secara signifikan mempercepat penyembuhan luka dan memperbaiki hemostasis akibat oprasi, menurunkan derajat bengkak, serta memberhentikan perdarahan. Penelitian tersebut melibatkan berbagai penelitian klinis acak terkontrol pada total 268 orang pasien dengan kasus perlukaan paska operasi sinus endoskopik (16).

 

Pemberian gel kitosan secara topikal atau dioleskan langsung pada kulit dapat menstimulasi produksi kolagen, meningkatkan respon imun (komponen IL-1b dan IL-10 yang sangat dibutuhkan pada regenerasi kulit dan penyembuhan luka), percepatan regenerasi jaringan, serta mencegah terjadinya keloid atau pertumbuhan daging abnormal pada bekas luka (17, 18). 

 

6. Menjaga Kesehatan Mulut 

Kitosan diketahui memiliki efek anti mikroba yang berfungsi menekan pertumbuhan bakteri jahat yang menyebabkan berbagai penyakit infeksi pada rongga mulut. Sebuah penelitian in vitro dilaksanakan dengan pemberian 0.1% kitosan pada sekelompok bakteri Actinobacillus actinomycetemcomitans dan Streptococcus mutans penyebab periodontis atau infeksi gusi dan rongga mulut pada manusia.

 

Setelah diamati setelah 30 – 120 menit pemberian, secara signifikan kitosan mampu menghancurkan membran sel bakteri. Penelitian ini juga menyarankan penggunaan kitosan sebagai manajemen perawatan yang baik untuk mencegah periodontis akibat infeksi bakteri berlebihan dalam rongga mulut (19). 

 

Dalam penelitian lain, berkumur dengan 0.5% kitosan selama 30 detik per hari secara efektif menurunkan produksi plak pada gigi serta menurunkan jumlah Streptococcus mutans, bakteri penyebab periodontis dalam air liur partisipan. Kitosan merupakan bahan alam yang sangat potensial digunakan untuk mengatasi plak serta menjaga kesehatan gigi mulut secara umum (20). 

 

 

Sumber Makanan

 

Kitosan dapat ditemukan pada:

Kerangka kerang, termasuk kepiting, lobster, dan udang

Kerangka serangga

Kerangka jamur

 

 

Dosis Pemakaian

 

Dosis umum yang digunakan untuk tujuan menurunkan berat badan dan menurunkan kolesterol adalah 2.4 gram per hari. Disarankan mengikuti petunjuk penggunaan pada label atau berkonsultasi dengan profesional kesehatan

 

Menurunkan tekanan darah tinggi (hipertensi): Konsumsi Symbiosal (garam dapur dengan kandungan kitosan) sebanyak 3 gram per hari. 

 

Sediaan yang umum ditemukan adalah sediaan kapsul dengan dosis berkisar antara 700 – 1800 per kapsulnya. Selain itu juga terdapat sediaan gel dan sprai, ataupun telah tersedia dalam balutan luka yang siap untuk digunakan langsung pada perawatan luka

 

Percepatan luka operasi sinus: Aplikasikan gel kitosan pada luka pasca operasi sinus untuk mempercepat penyembuhan luka. 

 

Sebaiknya dikonsumsi bersama dengan makanan karena akan membantu meningkatkan jumlah lemak yang dikeluarkan melalui feses. Bagi yang sedang diet dan menurunkan berat badan, kitosan dapat digunakan sesekali bersama makanan tinggi lemak yang Anda hindari (cheat meal). 

 

 

Interaksi Sinergi

 

Mengkombinasikan kitosan dengan glukomanan dapat mempercepat penurunan berat badan dan meningkatkan daya ikat kitosan terhadap kolesterol sehingga menurunkan kadar kolesterol secara signifikan.

 

 

Kontraindikasi

 

Anak-anak

Ibu hamil dan menyusui

Alergi terhadap kerang dan seafood (makanan laut)

 

Hindari mengonsumsi kitosan bersama dengan vitamin K dan warfarin (obat pengencer darah) karena justru dapat menyebabkan pendarahan dan bengkak. 

 

Hindari mengonsumsi bersama dengan pil kontrasepsi dan obat-obatan antivirus seperti acyclovir karena dapat menurunkan efektivitas obat .

 

 

Efek Samping

 

Dapat menurunkan penyerapan mineral dan kandungan mineral tulang

Dapat menghalangi penyerapan beberapa obat

Mual

Sakit perut

Sembelit ringan

 

 

Referensi:

Goluskin, Nina. (2019). 12 Chitosan benefits (incl. weight loss) + reviews. Selfhacked. Diakses pada 06 Juli 2019.

WebMD. (2018). Chitosan. WebMD. Diakses pada 06 Juli 2019.

Reid, Faye. (2018). Fat binders. what are they? how do they work?. My Protein. Diakses pada 06 Juli 2019. 

Trivedi VR, Satia MC, Deschamps A, et al. Single-blind, placebo controlled randomised clinical study of chitosan for body weight reduction. Nutr J. (2016). 

Niroumand S, Khajedaluee M, Khadem-Rezaiyan M, et al. Atherogenic index of plasma (AIP): A marker of cardiovascular disease. Med J Islam Repub Iran. (2015).

Shen SW, Lu Y, Li F, et al. Atherogenic index of plasma is an effective index for estimating abdominal obesity. Lipids Health Dis. (2018). 

Bahijri SM, Alsheikh L, Ajabnoor G, Borai A. Effect of supplementation with chitosan on weight, cardiometabolic, and other risk indices in wistar rats fed normal and high-fat/high-cholesterol diets ad libitum. Nutr Metab Insights. (2017). 

Egan ÁM, O’Doherty JV, Vigors S, Sweeney T. Prawn shell chitosan exhibits anti-obesogenic potential through alterations to appetite, affecting feeding behaviour and satiety signals in vivo. PLoS One. (2016). 

Bokura H, Kobayashi S. Chitosan decreases total cholesterol in women: a randomized, double-blind, placebo-controlled trial. Eur J Clin Nutr. (2003).

Ylitalo R, Lehtinen S, Wuolijoki E, Ylitalo P, Lehtimäki T. Cholesterol-lowering properties and safety of chitosan. Arzneimittelforschung. (2002).

Jull AB, Mhurchu CN, Bennett DA, Dunshea-Mooij CAE, Rodgers A. Chitosan for overweight or obesity. Cochrane Systematic Review. (2008).

Deuchi K, Kanauchi O, Shizukuishi M, Kobayashi E. Continuous and massive intake of chitosan affects mineral and fat-soluble vitamin status in rats fed on a high-fat diet. Biosci Biotechnol Biochem. (1995). 

Jing SB, Li L, Ji D, Takiguchi Y, Yamaguchi T. Effect of chitosan on renal function in patients with chronic renal failure. J Pharm Pharmacol. (1997). 

Baxter J, Shimizu F, Takiguchi Y, Wada M, Yamaguchi T. Effect of iron(III) chitosan intake on the reduction of serum phosphorus in rats. J Pharm Pharmacol. (2000). 

Cernaro V, Santoro D, Lacquaniti A, et al. Phosphate binders for the treatment of chronic kidney disease: role of iron oxyhydroxide. Int J Nephrol Renovasc Dis. (2016).

Jeong HW, Cho SY, Kim S, et al. Chitooligosaccharide induces mitochondrial biogenesis and increases exercise endurance through the activation of Sirt1 and AMPK in rats. PLoS One. (2012).

Cho SY, Lee JH, Song MJ, et al. Effects of chitooligosaccharide lactate salt on sleep deprivation-induced fatigue in mice. Biol Pharm Bull. (2010).

Younus H. Therapeutic potentials of superoxide dismutase. Int J Health Sci (Qassim). (2018). 

Zhou JC, Zhang JJ, Zhang W, Ke ZY, Zhang B. Efficacy of chitosan dressing on endoscopic sinus surgery: A systematic review and meta-analysis. Eur Arch Otorhinolaryngol. (2017).

Fong D, Hoemann CD. Chitosan immunomodulatory properties: perspectives on the impact of structural properties and dosage. Future Sci OA. (2017).

Mezzana P. Clinical efficacy of a new chitin nanofibrils-based gel in wound healing. Acta Chir Plast. (2008).

Choi BK, Kim KY, Yoo YJ, Oh SJ, Choi JH, Kim CY. In vitro antimicrobial activity of a chitooligosaccharide mixture against actinobacillus actinomycetemcomitans and Streptococcus mutans. Int J Antimicrob Agents. (2001). 

Sano H, Shibasaki K, Matsukubo T, Takaesu Y. Effect of chitosan rinsing on reduction of dental plaque formation. Bull Tokyo Dent Coll. (2003). 


Tags: , , ,