fbpx
LOGO

Mengenal Manfaat N-Asetil L-Sistein (NAC) Sebagai Nootropik

October 22, 2020
IMG

N-Asetil L-Sistein (NAC atau N-asetilsistein) adalah turunan N-asetil dari asam amino L-sistein yang terbentuk secara alami.

 

NAC berperan penting dalam mengatur kadar glutamat dan dopamin di otak serta membantu mengembalikan glutathione, antioksidan alami tubuh (γ-glutamylcysteinylglycine; GSH). NAC juga bertugas membantu mengurangi kerusakan akibat radikal bebas di otak.

 

NAC merupakan salah satu obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tidak menghasilkan efek samping yang signifikan. 

 

Sebagai contoh, yogurt mengandung NAC yang menyebabkan suasana hati lebih baik dan mampu meningkatkan fungsi kognisi di waktu bersamaan. Efek yang sama bahkan lebih baik didapatkan melalui suplementasi NAC, tanpa perlu mengonsumsi yogurt.

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

Secara historis, NAC telah digunakan untuk mengobati kondisi keracunan Tylenol (asetaminofen) dan keracunan karbon monoksida penyebab kerusakan dan kegagalan fungsi hati.

 

 

Manfaat

 

1. Mengurangi stres oksidatif

Stres oksidatif akan menyebabkan banyak masalah pada otak seperti kerusakan protein dan DNA, inflamasi, kerusakan jaringan, hingga apoptosis (kematian sel) yang memicu neurodegenerasi seperti Alzheimer dan Parkinson.

 

Uji coba dengan tikus mendapatkan bahwa NAC mencegah neurotoksisitas atau keracunan otak dan sistem saraf dengan cara meningkatkan fungsi neurologis, menekan peradangan otak, dan respon terhadap stres oksidatif pada kelompok tikus yang diberikan NAC (1).

 

2. Mengurangi kecemasan dan depresi

Inflamasi dan stres oksidatif diketahui dapat memicu terjadinya gangguan depresi. Hal ini disebabkan karena peradangan dan stres oksidatif menyebabkan penurunan protein yang merangsang pertumbuhan neuron (neurotropin), peningkatan apoptosis (kematian sel), dan berkurangnya produksi energi dalam mitokondria.

 

NAC diketahui memiliki banyak efek positif untuk mengurangi gejala depresi. NAC juga memiliki kemampuan mengurangi gejala skizofrenia, serta kecanduan opioid seperti kokain, ganja, dan tembakau (2).

 

Penelitian lain juga menunjukkan NAC aman dan efektif digunakan untuk mengurangi depresi pada penderita bipolar dan mampu meningkatkan suasana hati (3).

 

3. Membantu mengobati Parkinson

Sebuah penelitian dilaksanakan pada tahun 2016 untuk mengetahui efek pemberian NAC terhadap berbagai gejala penyakit Parkinson.

 

Studi ini melibatkan dua kelompok pasien Parkinson, dimana kelompok pertama menerima 50 mg / kg NAC suntik sekali seminggu, dan 600 mg NAC oral dua kali sehari. Sedangkan kelompok kedua (kontrol) hanya menerima perawatan Parkinson standar dan plasebo.

 

Pasien dievaluasi pada awal penelitian dan 3 bulan kemudian. Evaluasi terdiri dari Unified Parkinson’s Disease Rating Scale (UPDRS), dan pemindaian otak SPECT (Single Photon Emission Computed Tomography) yang bertujuan mengukur jumlah transporter dopamin di otak.

 

Hasilnya setelah dibandingkan dengan kelompok plasebo, kelompok NAC mengalami peningkatan signifikan dalam rerata masing-masing skor UPDRS dan kadar dopamin.

 

Studi ini merupakan studi pertama yang dilaksanakan untuk mengatahui efek langsung NAC pada sistem dopamin. Penelitian ini juga membuktikan kemampuan NAC untuk menstimulasi dopamin dalam memulihkan fungsi normal neuron pada pasien Parkinson (4).

 

4. Mengatasi cedera otak traumatis

Cedera otak traumatis (TBI – Traumatic Brain Injury) merupakan sebuah kondisi kerusakan otak yang disebabkan adanya cedera otak akibat kecelakaan atau pengaruh lingkungan seperti paparan suara ledakan frekuensi tinggi di medan perang.

 

Gejalanya mirip dengan penyebab TBI lainnya, yaitu pusing, gangguan pendengaran, sakit kepala, kehilangan ingatan, gangguan tidur, dan disfungsi neurokognitif. Individu yang selamat akan mengalami disfungsi neurokognitif jangka panjang bahkan permanen.

 

Hal ini mempengaruhi kognisi, fungsi motorik (gerakan) dan kepribadian. Pada otak seseorang yang mengalami TBI juga terjadi toksisitas glutamat, cedera radikal bebas pada sel otak, ketidakseimbangan elektrolit, disfungsi mitokondria, peradangan, apoptosis (kematian sel), hingga stroke.

 

Pemberian NAC diklaim dapat mengurangi kerusakan otak akibat TBI (5).

 

Dalam sebuah penelitian, pemberian NAC selama 7 hari pada anggota militer dengan riwayat terpapar ledakan frekuensi tinggi membuktikan bahwa NAC aman untuk mengatasi gejala TBI akibat kondisi tersebut.

 

Namun dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui efek jangka panjang dan potensi penggunaan NAC dalam mengatasi berbagai gejala dari TBI (6).

 

 

Sumber Makanan

 

NAC dapat ditemukan secara alami pada:

Daging unggas (ayam, bebek, kalkun)

Yogurt

Gandum

Granola

Keju ricotta dan keju cottage

 

 

Dosis

 

Untuk mendapat manfaat nootropik, dosis NAC 600 mg dapat diminum hingga tiga kali sehari dengan dosis maksimumnya 2.000 mg per hari.

 

 

Interaksi Sinergi 

 

Penggunaan jangka panjang NAC dapat menyebabkan gangguan penyerapan zinc dalam tubuh, sehingga sangat direkomendasikan mengombinasikan NAC dengan suplemen zinc dan suplemen tembaga (Cu) dosis rendah.

 

 

Defisiensi 

 

Kondisi stres akut, sakit, dan kurangnya variasi dalam menu makanan harian dapat menyebabkan penurunan kadar L-sistein dalam tubuh dan otak manusia.

 

 

Efek Samping

 

Suplementasi NAC dapat menyebabkan:

Sakit kepala

Kantuk

Diare atau sembelit

Ruam pada kulit

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu menyusui

Alergi terhadap asetilsistein

Asma

Gangguan pendarahan

Pasien pra operasi

Cystinuria (kondisi genetis pembentukan batu sistein dalam ginjal, ureter, maupun kandung kemih akibat penggunaan berlebih NAC)

 

Hindari mengombinasikan NAC dengan nitrogliserin atau zat arang aktif.

 

 

Referensi:

Tomen D. (2017). N-acetyl l-cysteine. Nootropics Expert. Diakses pada 13 September 2019.

WebMD. (2018). N-acetyl cystein. WebMD. Diakses pada 13 September 2019.

Saleh AAS. Anti-neuroinflammatory and antioxidant effects of N-acetyl cysteine in long-term consumption of artificial sweetener aspartame in the rat cerebral cortex. The Journal of Basic Applied Zoology. (2015).

Science Daily. (2013). Amino acid offers potential therapeutic alternative in psychiatric disorders. Science Daily. Diakses pada 13 September 2019.

Berk M, Copolov DL, Dean O, Lu K, Jeavons S, Schapkaitz I, Anderson-Hunt M, Bush AI. N-acetyl cysteine for depressive symptoms in bipolar disorder–a double-blind randomized placebo-controlled trial. Biol Psychiatry. (2008).

Monti DA, Zabrecky G, et al. N-acetyl cysteine may support dopamine neurons in parkinson’s disease: Preliminary clinical and cell line data. Plos One. (2016).

Farkas O, Povlishock JT. Cellular and subcellular change evoked by diffuse traumatic brain injury: a complex web of change extending far beyond focal damage. Prog Brain Res. (2007).

Hoffer ME, Balaban C, Slade MD, Tsao JW, Hoffer B. Amelioration of acute sequelae of blast induced mild traumatic brain injury by N-acetyl cysteine: A double-blind, placebo controlled study. PLoS One. (2013).


Tags: ,