fbpx
LOGO

Mengetahui Kualitas Protein yang Dikonsumsi

October 8, 2020
IMG

Mengonsumsi produk yang berkualitas tentu akan berdampak pada kesehatan secara keseluruhan. Jika menilai kualitas suatu produk sudah dapat dilakukan dengan mudah, bagaimana dengan menilai nutrisi berkualitas yang tentunya tampak rumit?

 

Protein merupakan salah satu makronutrien penting yang dibutuhkan dalam tubuh. Protein membentuk sekitar 15 persen dari berat tubuh seseorang, dan digunakan untuk membangun massa otot, membantu metabolisme tubuh, dan membantu meningkatkan kekebalan tubuh.

 

Untuk alasan ini, Anda mungkin khawatir apakah Anda sudah cukup mendapat asupan protein, dan bagaimana kualitas protein yang Anda konsumsi.

 

 

Skala Parameter Kualitas Protein

 

Ada beberapa skala untuk menilai kualitas protein sesuai dengan bioavailabilitas dan profil asam aminonya. Hal tersebut membantu memandu Anda dalam memilih protein terbaik. 

 

1. Bioavailabilitas atau ketersediaan hayati

Protein dianggap sangat tersedia secara hayati jika mudah dicerna, diserap, dan dapat diubah menjadi protein lain (setelah diubah menjadi asam amino penyusunnya). 

 

Terdapat tiga skala peringkat untuk menilai biovailibilitas protein, yaitu:

Nilai biologis (BV)

Utilisasi Protein Bersih (NPU)

• Tingkat Nitrogen Balance (NB)

 

Ketiga skala tersebut menilai protein berdasarkan pengukuran nitrogennya, berapa banyak nitrogen yang dikeluarkan, protein yang diwakilkan, dan membandingkan jumlah ini dengan berapa banyak protein yang dicerna.

 

2. Profil asam amino

Protein terdiri dari asam amino, dan beberapa di antaranya tidak dapat disintesis oleh tubuh. Asam amino esensial (EAAs) adalah protein yang belum disintesis dan dibutuhkan tubuh, sehingga perlu dicerna.

 

Di antara itu, asam amino rantai cabang (BCAA) sangat penting untuk otot Anda, dan jika digabungkan dengan leusin akan menjadi sangat anabolik.

 

Protein diet dianggap lengkap jika mengandung cukup masing-masing asam amino yang dibutuhkan tubuh namun belum dapat disintesis. Beberapa skala peringkat protein, seperti skala PDCAAS, memeringkat protein berdasarkan tidak hanya pada ketersediaan hayati tetapi juga pada profil asam amino. 

 

Contohnya adalah kedelai, kacang polong, dan beras. Menurut tabel jumlah asam amino yang dibutuhkan manusia, protein dalam kedelai, kacang polong, dan beras hampir dianggap lengkap. Walaupun beras relatif miskin lisin, dan kedelai dan kacang polong kurang dalam metionin, mengombinasikan ketiganya dapat dilakukan untuk menjadikannya protein lengkap.

 

 

 

Skala Pengukuran FDA

 

Meskipun skala BV masih digunakan sampai sekarang, tetapi skala resmi yang digunakan oleh FDA (Food and Drug Administration) adalah Protein Digestibility Corrected Amino Acid Score atau Skor Asam Amino Dikoreksi Digestibilitas Protein (PDCAAS), yang memperhitungkan ketersediaan hayati protein dan profil asam amino.

 

Bukan berarti skala BV tidak akurat, tetapi skala PDCAAS lebih relevan. Tetapi Food and Agriculture Organization telah mengusulkan untuk mengganti skala PDCAAS dengan skala lain, yaitu Digestible Indispensable Amino Acid Score atau Skor Asam Amino yang Sangat Dapat Dicerna (DIAAS).

 

Keduanya juga mengambil sampel yang berbeda. Skala PDCAAS mengambil sampel feses, sementara skala DIAAS menganalisis konten ileum. Dengan kata lain, PDCAAS melihat berapa banyak protein yang diserap setelah melewati usus kecil dan besar, sedangkan DIAAS melihat berapa banyak protein yang diserap setelah meninggalkan usus kecil.

 

Tetapi skala DIAAS tidak membahas masalah utama dari semua skala peringkat protein. Skala ini tidak memperhitungkan bioavailabilitas, profil asam amino, kecernaan ileum, glukoneogenesis, kecepatan pencernaan, dan efek latihan pada protein endogen (otot). 

 

 

Referensi:

Leaf A. (2019). How can you assess protein quality?. Examine. Diakses pada 09 Oktober 2019.