fbpx
LOGO

Mengulik Khasiat Minyak CBD yang Berpotensi Sebagai Anti-Kanker

August 9, 2020
IMG

CBD (cannabidiol) merupakan cannabinoid atau kandungan aktif dan merupakan kandungan terbanyak  kedua pada tanaman ganja (Cannabis sativa) setelah tetrahydrocannabinol (THC).

 

Produk CBD didapat dari biji hemp dengan kandungan THC sebesar 0,3% dan digunakan dengan tujuan medis untuk mengatasi kecemasan, depresi, nyeri, dan gangguan tidur. Minyak CBD juga terbukti memiliki manfaat nootropik

 

Manfaat CBD juga diteliti untuk mengobati dua bentuk epilepsi langka, yakni sindrom Lennox-Gastaut dan Dravet, serta berpotensi untuk mencegah kanker.

 

Akan tetapi, penggunaan CBD masih belum jelas legalitasnya. Di Amerika Serikat, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) belum mengambil keputusan tegas atas penggunaan CBD.

 

Pada tahun 2018, FDA melarang penggunaan CBD, tetapi melegalkan penggunaan dua merek CBD (Epidiolex dan Nabiximols atau Sativex). DEA dan beberapa negara lain, termasuk Indonesia, juga memiliki persepsi yang berbeda mengenai cannabidiol.

 

Adapun di Indonesia, Badan Narkotika Nasional (BNN) Indonesia masih belum memasukkan cannabidiol kedalam lampiran Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Meski begitu, BNN menggolongkan cannabidiol sebagai new psychoactive substances atau zat psikoaktif baru karena itu merupakan substansi haram yang dapat menyebabkan kecanduan.

 

Sejauh ini, BNN berupaya memasukkan cannabidiol ke dalam daftar zat terlarang yang diakui oleh UU, dan dapat dikatakan penggunaan CBD adalah ilegal di Indonesia.

 

 

Manfaat

 

1. Menurunkan Kecemasan

Beberapa penelitian menyatakan bahwa mengonsumsi CBD dapat mengurangi kecemasan pada orang dengan gangguan kecemasan sosial. Sebuah penelitian membuktikan bahwa CBD dan ipsapirone memiliki sifat anxiolytic.

 

Partisipan yang menerima kombinasi ipsapirone dan CBD menunjukkan penurunan kecemasan signifikan sebelum dan setelah tes simulasi public speaking (SPS) (1).

 

Penelitian lain yang dilakukan pada manusia juga menunjukkan hasil yang sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CBD memiliki sifat antagonis dengan  delta 9-THC, sehingga efektif memblokir kecemasan yang dipicu oleh delta 9-THC (2, 3, 4).

 

2. Mengurangi Rasa Sakit

Meski bukti penelitian terbatas, CBD dipercaya mampu membantu mengurangi beberapa jenis nyeri kronis. Sebuah penelitian acak menguji efek pereda nyeri pada pasien yang memiliki multiple sclerosis, cedera tulang belakang, dan kondisi lain dengan gejala-gejala ini.

 

Meskipun beberapa pasien tidak menyelesaikan percobaan, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengurangan nyeri pada pertisipan yang menerima CBD (5).

 

Pada penelitian lain juga didapatkan hasil yang sama. Pemberian CBD dikatakan mampu menghilangkan rasa sakit kronis dari vaksin HPV pada perempuan usia muda, serta terdapat pengurangan rasa nyeri tubuh dan fungsi yang lebih baik. CBD juga mengurangi rasa sakit pada pasien yang menjalani transplantasi ginjal (6, 7).

 

3. Mengobati Epilepsi

Cannabidiol dipercaya dapat mengobati epilepsi parah, termasuk Dravet dan Lennox-Gastaut Syndromes. Sebuah penelitian dilakukan pada pasien sindrom Lennox-Gastaut  yang berusia 2 hingga 55 tahun.

 

Partisipan diberikan cannabidiol dengan dosis 10 mg atau 20 mg per hari ke dalam pengobatan antiepilepsi konvensional. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengurangan frekuensi kejang yang lebih besar dibandingkan plasebo (8).

 

Penelitian lain juga menemukan hasil yang sama, dimana cannabidiol efektif menurunkan kejang pada pasien dengan sindrom Dravet, Lennox-Gastaut, dan epilepsi yang tidak bisa diatasi dengan berbagai penyebab dan jenis. Para penelitia juga menambahkan bahwa cannabidiol aman digunakan pada pasien anak-anak dan remaja dengan epilepsi yang tahan terhadap pengobatan (9).

 

Penelitian lain yang melibatkan 56 partisipan dengan 18 pasien epilepsi yang juga didiagnosa Tuberous sclerosis complex (TSC) menunjukkan bahwa terdapat penurunan frekuensi kejang mingguan hingga 48,4% setelah 3 bulan pengobatan menggunakan CBD (10).

 

4. Mengurangi Gejala Skizofrenia

Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa suplementasi cannabidiol empat kali sehari selama 4 minggu mampu menurunkan gejala psikotik, dan memiliki efektivitas setara dengan obat antipsikotik amisulpride.

 

Sebuah penelitian dilakukan selama 6 bulan yang melibatkan 88 partisipan skizofrenia. Partisipan diberikan 1000 mg cannabidiol per hari atau plasebo. Setelah 6 minggu pengobatan, partisipan yang menerima CBD mengalami gejala psikotik positif yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok plasebo. Partisipan juga mengalami peningkatan dalam fungsi kognitif secara keseluruhan (11).

 

 

 

Sumber 

 

Cannabis sativa

 

 

Dosis Pemakaian

 

Dosis penggunaan minyak CBD dapat bervariasi menurut indikasi klinis, dari kurang dari 5 mg / hari hingga lebih dari 100 mg / hari. Disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sebelum memulai penggunaan minyak CBD.

 

 

Efek Samping

 

• Kantuk

• Kelelahan

• Berkurangnya nafsu makan

• Diare

• Gangguan memori

• Gangguan koordinasi

 

 

Kontraindikasi

 

Ibu hamil dan menyusui

Penyakit parkinson

 

Berhati-hati dalam mengombinasikan minyak CBD dengan:

Obat antiepleptik, seperti clobazam, rufinamide, topiramate, zonisamide, dan eslicarbazepine

Omeprazole

Risperidone

Warfarin

Diklofenak

Antibiotik

 

 

Referensi

Patel, Kamal. (2019). Cbd. Examine. Diakses pada 24 Juli 2019.

WebMD. (2018). Cannabidiol. WebMD. Diakses pada 24 Juli 2019.

CNN Indonesia. (2018). BNN Sita 22 botol minyak biji ganja kiriman dari jerman. CNN Indonesia. Diakses pada 24 Juli 2019. 

Zuardi AW, Cosme RA, Graeff FG, Guimarães FS. Effects of ipsapirone and cannabidiol on human experimental anxiety. J Psychopharmacol. (1993). 

Linares IM, Zuardi AW, Pereira LC, et al. Cannabidiol presents an inverted U-shaped dose-response curve in a simulated public speaking test. Braz J Psychiatry. (2019). 

Zuardi AW, Rodrigues NP, Silva AL, et al. Inverted u-shaped dose-response curve of the anxiolytic effect of cannabidiol during public speaking in real life. Front Pharmacol. (2017). 

Zuardi AW, Shirakawa I, Finkelfarb E, Karniol IG. Action of cannabidiol on the anxiety and other effects produced by delta 9-THC in normal subjects. Psychopharmacology (Berl). (1982). 

Wade DT, Robson P, House H, Makela P, Aram J. A preliminary controlled study to determine whether whole-plant cannabis extracts can improve intractable neurogenic symptoms. Clin Rehabil. (2003). 

Palmieri B, Laurino C, Vadalà M. Short-term efficacy of cbd-enriched hemp oil in girls with dysautonomic syndrome after human papillomavirus vaccination. Isr Med Assoc J. (2017). 

Cuñetti L, Manzo L, Peyraube R, Arnaiz J, Curi L, Orihuela S. Chronic pain treatment with cannabidiol in kidney transplant patients in uruguay. Transplant Proc. (2018). 

Devinsky O, Patel AD, Cross JH, et al. Effect of cannabidiol on drop seizures in the lennox-gastaut syndrome. N Engl J Med. (2018). 

Devinsky O, Marsh E, Friedman D, et al. Cannabidiol in patients with treatment-resistant epilepsy: an open-label interventional trial [published correction appears in Lancet Neurol. 2016 Apr;15(4):352]. Lancet Neurol. (2016). 

Hess EJ, Moody KA, Geffrey AL, et al. Cannabidiol as a new treatment for drug-resistant epilepsy in tuberous sclerosis complex. Epilepsia. (2016). 

McGuire P, Robson P, Cubala WJ, et al. Cannabidiol (cbd) as an adjunctive therapy in schizophrenia: A multicenter randomized controlled trial. Am J Psychiatry. (2018).


Tags: ,