fbpx
LOGO

Meski Dilarang di Indonesia, Minyak CBD Bermanfaat Sebagai Nootropik

September 18, 2020
IMG

Minyak CBD (Cannabidiol) berasal dari tanaman hemp atau Cannabis sativa, salah satu tanaman ganja. Minyak CBD menyumbang 40% dari ekstrak tanaman ganja.

 

Minyak CBD mengandung senyawa THC yang paling rendah (0,3% THC) dibandingkan dengan varian tanaman ganja lainnya, sehingga tidak menimbulkan efek psikosomatis dan kecanduan. Meski demikian, Indonesia masih belum meloloskan penggunaan senyawa ini.

 

Minyak CBD merupakan salah satu obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tanpa menghasilkan efek samping yang signifikan.

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

Sebagai nootropik, minyak CBD bermanfaat sebagai anti-kecemasan, antidepresan, membantu mengurangi rasa sakit, stres oksidatif, peradangan serta berperan sebagai anti-tumor.

 

Selama beberapa tahun, penelitian terhadap minyak CBD juga menunjukkan potensinya dalam mengobati peradangan saraf, epilepsi, gangguan pencernaan, skizofrenia, maupun masalah neurodegeneratif lainnya.

 

 

Cara Kerja CBD (Cannabidiol)

 

Di dalam tubuh, terdapat endocannabinoid atau cannabinoid endogen. Sistem cannabinoid endogen (ECS) merupakan kelompok reseptor yang tersebar di seluruh tubuh yang terlibat dalam berbagai proses termasuk nafsu makan, suasana hati, ingatan, sensasi sakit, respon stres, keseimbangan energi dan metabolisme, serta reproduksi wanita.

 

CBD (Cannabidiol) juga dikenal sebagai cannabinoid yang akan berinteraksi dengan reseptor ECS. CBD kemudian akan meningkatkan aktivitasi sistem endocannabinoid asli dengan meningkatkan kepadatan reseptor cannabinoid, dan menghambat FAAH (asam lemak amidahidrolase) yang meningkatkan kadar endocannabinoid seperti molekul blananandamide

 

CBD juga merupakan agonis reseptor serotonin 5-HT1a. Kombinasi peningkatan aktivitas anandamide dan serotonin kemungkinan memberikan efek anti-kecemasan dan efek anti depresan pada CBD. 

 

 

Manfaat Minyak CBD

 

1. Sebagai Anti-kecemasan

Minyak CBD bekerja sebagai anxiolytic atau anti-kecemasan (1).

 

Sebuah penelitian mengenai minyak CBD melibatkan partisipan sehat berusia 27 tahun. Para peserta diminta untuk tidak menggunakan ganja 15 hari sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi CBD dan THC mampu mengurangi kecemasan (2).

 

Pemberian 400 mg CBD juga secara signifikan menurunkan derajat kecemasan dibandingkan plasebo. Para peneliti menemukan bahwa CBD meningkatkan aktivitas otak yang berkaitan dengan aksi ansiolitik atau anti-kecemasan. Selain itu terdapat kesimpulan bahwa CBD mengubah aliran darah di area tertentu di otak (3).

 

2. Sebagai Antidepresan

Banyak pengguna minyak CBD secara teratur melaporkan adanya efek antidepresan setelah menggunakan senyawa ini. Efek antidepresan dari CBD berasal dari peningkatan kadar endocannabinoid seperti anandamide dengan menghambat kerusakannya (4).

 

Baik pada manusia maupun hewan, minyak CBD memfasilitasi tindakan lain di otak yang dapat berkontribusi pada peningkatan suasana hati, termasuk memodifikasi fungsi beberapa reseptor yang berkaitan dengan depresi berat seperti CB1, CB2, GPR55, TRPV1 dan 5-HT1A.

 

CBD juga menghambat asam lemak amida hidrolase (FAAH) yang meningkatkan kadar molekul anandamide bliss, dan menghambat transporter adenosin yang akan meningkatkan kadar adenosin. Semua ini berkontribusi pada suasana hati yang lebih baik dan penurunan depresi (5).

 

3. Membantu Mengobati Gejala Epilepsi

Beberapa uji klinis telah menyimpulkan bahwa CBD efektif dalam mengurangi kejang epilepsi pada anak-anak dengan sindrom Dravet, kondisi epilepsi langka yang tidak dapat diatasi oleh obat apapun. 

 

Mayoritas anak-anak yang mengalami kondisi langka ini mengalami mutasi dalam saluran reseptor dan diekspresikan dengan terhalangnya produksi GABA di otak. Modulasi langsung reseptor GABA oleh CBD kemungkinan berkontribusi pada efek terapeutik pada mereka dengan epilepsi parah.

 

Sebuah penelitian sel dilakukan di Universitas Sidney untuk menyelidiki efek CBD pada reseptor GABA manusia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian CBD bersama 2-AG mampu memodulasi arus listrik melalui perubahan aktivitas reseptor GABA. Keduanya memberikan efek pada reseptor yang tidak menanggapi benzodiazepin.

 

Studi ini juga menemukan bahwa CBD memiliki selektivitas mengikat yang lebih tinggi daripada 2-AG. Hal ini menandakan bahwa CBD memiliki efektivitas yang sama seperti obat GABA yang mampu mengurangi gejala kecemasan tanpa sedasi (6).

 

 

 

Sumber Makanan

 

 

Minyak CBD umumnya diekstrak dari hemp (Cannabis sativa L.), salah satu jenis tanaman ganja (Cannabis).

 

 

Rekomendasi Dosis Pemakaian Minyak CBD

 

Dosis awal penggunaan minyak CBD yang disarankan adalah 4 – 45 mg per hari. Adapun dosis untuk berbagai macam kondisi yakni:

 

Mengatasi epilepsi: Konsumsi 200 – 300 mg CBD per hari.

• Penyakit Huntington (definisi singkat): Konsumsi 10 mg CBD per kilogram berat badan.

Mengatasi gangguan tidur: Konsumsi 40 – 160 mg minyak CBD per hari.

Skizofrenia: Konsumsi minyak CBD dosis 40 – 1280 mg per hari.

Glaukoma: Konsumsi minyak CBD dosis 20 – 40 mg per hari.

Mengatasi nyeri kronis: Konsumsi minyak CBD 2,5 – 20 mg per hari.

 

Dosis minyak CBD tergantung pada beberapa kondisi masing-masing orang seperti kondisi kesehatan, berat badan, dan reaksi tubuh terhadap cannabidiol. 

 

 

Efek Samping

 

Gangguan pencernaan ringan

Diare

Mulut kering

 

 

Kontraindikasi

 

Wanita hamil dan menyusui

Penyakit Parkinson

 

Berhati-hati dalam mengombinasikan CBD dengan obat anti epileptik (seperti clobazam, rufinamide, topiramate, zonisamide, dan eslicarbazepine), anti mual omeprazole, risperidone, obat pengencer darah (warfarin), diklofenak, dan berbagai jenis antibiotik.

 

 

Referensi:

Tomen D. (2018). Cbd oil. Nootropics Expert. Diakses pada 06 September 2019.

WebMD.(2018). Cannabidiol. WebMD. Diakses pada 06 September 2019.

Patel K.(2019). Cbd. Examine. Diakses pada 06 September 2019.

Schier AR, Ribeiro NP, Silva AC, et al. Cannabidiol, a cannabis sativa constituent, as an anxiolytic drug. Braz J Psychiatry. (2012).

Zuardi AW, Shirakawa I, Finkelfarb E, Karniol IG. Action of cannabidiol on the anxiety and other effects produced by delta 9-THC in normal subjects. Psychopharmacology (Berl). (1982).

Crippa JA, Zuardi AW, Garrido GE, et al. Effects of cannabidiol (CBD) on regional cerebral blood flow. Neuropsychopharmacology. (2004).

Campos AC, Guimarães FS. Involvement of 5HT1A receptors in the anxiolytic-like effects of cannabidiol injected into the dorsolateral periaqueductal gray of rats. Psychopharmacology (Berl). (2008).

Campos AC, Moreira FA, Gomes FV, Del Bel EA, Guimarães FS. Multiple mechanisms involved in the large-spectrum therapeutic potential of cannabidiol in psychiatric disorders. Philos Trans R Soc Lond B Biol Sci. (2012). 

Bakas T, van Nieuwenhuijzen PS, Devenish SO, McGregor IS, Arnold JC, Chebib M. The direct actions of cannabidiol and 2-arachidonoyl glycerol at GABAA receptors. Pharmacological Research. (2017).


Tags: , , , ,