fbpx
LOGO

Presentase Obesitas dan Diabetes di Indonesia Semakin Menanjak

September 9, 2020
IMG

Masalah obesitas dan diabetes di Indonesia tampaknya semakin meningkat sejak tahun 2007. Masalah obesitas dikaitkan dengan negara berpenghasilan rendah, gizi buruk, dan minimnya pengetahuan orang tua. 

 

Survei yang dilakukan WHO pada tahun 2016 menyebutkan bahwa pravelensi diabetes dan faktor risiko menyentuh angka 7%, sementara persentase kejadian obesitas dan kelebihan berat badan masing-masing 24,4% dan 5,7%.

 

Kematian yang disebabkan oleh diabetes menyentuh angka 6% dengan kelompok usia 30-69 tahun mencapai 20.100 jiwa untuk laki-laki dan 28.200 untuk perempuan, dan kelompok usia diatas 70 tahun keatas mencapai 16.300 jiwa untuk laki-laki dan 34.800 untuk perempuan.

 

Survei Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang melibatkan 300.000 keluarga atau sekitar 1,2 juta orang, menemukan bahwa sekitar sepertiga orang Indonesia berusia 15 tahun ke atas memiliki lingkar pinggang yang tidak sehat, dan sepertiga (35,4%) dari sekitar 260 juta populasi orang dewasa berusia 18 tahun ke atas mengalami kelebihan berat badan. 

 

Menurut sebuah makalah penelitan yang diterbitkan pada PLOS ONE di tahun 2016, peningkatan kasus anak obesitas dan kegemukan sangat berkebalikan dengan kasus anak yang kekurangan gizi di Indonesia.

 

Menurut mereka, anak-anak lebih cenderung kelebihan berat badan atau obesitas pada rentang usia 2 hingga 2,9 tahun, berjenis kelamin laki-laki, memiliki orang tua yang kelebihan berat badan atau obesitas, dan memiliki ayah dengan pendidikan formal yang tinggi.

 

Di tahun yang sama, makalah yang diterbitkan dalam Public Health Nutrition mengatakan bahwa anak-anak yang terhambat secara signifikan lebih cenderung kelebihan berat badan daripada anak-anak dengan tinggi badan yang sehat. Penelitian ini mengungkapkan faktor risiko yang terkait dengan kejadian obesitas pada anak yaitu usia muda, penyapihan pada anak setelah usia enam bulan, memiliki ibu pendek dan tinggal di daerah pedesaan.

 

 

Pemerintah tampaknya harus berusaha lebih keras untuk mengatasi kondisi ini. Semakin murahnya makananan cepat saji dan banyaknya pilihan jajanan kaki lima, kemudahan akses internet untuk mendapatkan barang yang diinginkan (termasuk makanan pesan antar) tentunya merubah pola hidup dan pola makan.

 

Semakin banyak orang yang mengonsumsi makanan tidak sehat dan tidak menghiraukan kandungan nutrisi pada makanan tersebut, serta kurang beraktivitas menjadikan kejadian obesitas yang semakin banyak.

 

Gangguan kesehatan akan menyertai orang dengan obesitas seperti kesulitan bernapas, kolestrol meningkat, peningkatan tekanan darah (hipertensi), kesulitan tidur, resiko terserang penyakit diabetes tipe 2, ostearthritis, hati, ginjal dan masalah lain terkait dengan timbunan lemak pada tubuh akibat berta badan berlebih (1). 

 

Upaya untuk menghentikan tren obesitas adalah membatasi konsumsi gula terutama produk-produk yang menggunakan fruktosa, mengubah pola hidup lebih sehat, serta rajin berolahraga.

 

Tentunya hal ini harus dimulai dari diri sendiri untuk meningkatkan kesehatan dan mendapatkan kesejahteraan hidup yang lebih baik. 

 

 

Referensi:

University of Sidney. (2016). Obesity on the rise in Indonesia: The ‘double burden of malnutrition. Science Daily. Diakses pada 15 Agustus 2019.

The Jakarta Post. (2018). One in five Indonesian adults obese: National survey. The Jakarta Post. Diakses pada 15 Agustus 2019.

WHO. (2016). Diabetes country profiles 2016: Indonesia. WHO. Diakses pada 14 Agustus 2019.

Ratini M. (2019). Health problems related to obesity. WebMD. Diakses pada 14 Agustus 2019.


Tags: ,