fbpx
LOGO

Roti Gandum vs Roti Putih, Mana yang Lebih Baik?

October 20, 2020
IMG

Roti adalah makanan pokok di banyak negara dan telah dikonsumsi di seluruh dunia selama ribuan tahun. Di Indonesia sendiri, roti seringkali dijadikan pengganti nasi untuk meringkas waktu sarapan.

 

Roti umumnya dibuat dari adonan yang terdiri dari tepung dan air, dan tersedia dalam berbagai jenis, termasuk sourdough, roti manis, roti soda dan banyak lainnya.

 

Seiring dengan popularitasnya, roti kerap kali dijuluki sebagai makanan rendah nutrisi karena sedikit mengandung protein, lemak, serat, vitamin dan mineral. Meski begitu, kandungan setiap jenis roti dapat berbeda-beda.

 

Contohnya, satu lembar roti gandum (33 gram) mengandung kalori, karbohidrat, lemak total, protein, serat, dan nutrisi lain yang lebih banyak dibandingkan dengan satu lembar roti putih (25 gram).

 

Karena terbuat dari biji-bijian, roti juga mengandung antinutrien, senyawa yang menghalangi tubuh untuk menyerap mineral tertentu.

 

Bagi peserta diet sehat dan menyeluruh, antinutrien tidak terlalu berdampak pada mereka. Namun untuk vegan, vegetarian, dan peserta diet yang fokus pada biji-bijian dan kacang-kacangan, antinutrien dapat menyebabkan defisiensi nutrisi yang serius.

 

Dalam beberapa hal, roti gandum dikatakan lebih baik dari roti putih. Berdasarkan kandungan nutrisinya yang lebih banyak, roti gandum merupakan pilihan terbaik untuk menurunkan berat badan atau meningkatkan kesehatan tubuh. 

 

Beberapa jenis roti gandum juga dibuat dari biji-bijian yang kurang diproses, yang dicerna lebih lambat dan dapat membawa lebih banyak manfaat kesehatan.

 

Namun, sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2017 menyebabkan banyak orang berpikir, apakah roti gandum benar-benar lebih baik dari roti putih.

 

 

Apa kata penelitian?

 

Uji coba cross-over acak ini melibatkan 20 subjek sehat. Mereka diminta untuk mengonsumsi roti putih selama seminggu dan diikuti mengonsumsi roti gandum selama seminggu setelah periode pencucian, atau sebaliknya.

 

Subjek diberikan 3-4 iris roti untuk sarapan dan hanya boleh mengonsumsi roti jenis yang sama sepanjang hari. Mereka tidak boleh mengonsumsi produk berbasis gandum lainnya seperti pasta atau jenis roti lain yang tidak termasuk dalam penelitian.

 

Setelah penelitian, tim tidak menemukan adanya perbedaan  dalam kenaikan gula darah setelah para peserta mengonsumsi roti putih ataupun roti gandum.

 

Tim justru menemukan perbedaan respon glikemik individu, yang dalam beberapa kasus bertentangan dengan apa yang mereka perkirakan dari nilai Indeks Glikemik roti. Beberapa orang memiliki respons glikemik yang lebih tinggi terhadap roti gandum daripada roti putih.

 

Peneliti menemukan perbedaan ini berkaitan dengan perbedaan flora usus dan menyarankan bahwa di masa depan faktor ini harus diperhitungkan ketika memberikan saran diet.

 

Sayangnya, studi ini berskala kecil dengan durasi penelitian yang singkat. Di sisi lain, penelitian ini tidak melakukan pengukuran asupan makanan dan oleh karena itu tidak mungkin untuk melihat apakah faktor diet lain dapat memengaruhi hasil.

 

Subjek juga diminta untuk mengonsumsi roti dalam jumlah yang cukup besar, yang mungkin bukan pola makan yang realistis. Tentunya, temuan ini harus dikonfirmasi lebih lanjut dengan penelitian skala besar dan durasi penelitian yang lebih lama. 

 

 

Jika Anda akan mengonsumsi makanan berbasis gandum, pilihlah roti gandum dan makanan gandum lainnya, seperti yang direkomendasikan dalam Panduan Eatwell karena asupan serat jauh di bawah rekomendasi 30g per hari.

 

 

Referensi

Nutrition. (2017). Wholegrain bread no better than white?. Nutrition. Diakses pada 25 Oktober 2019.

Link R. (2018). Is bread bad for you? nutrition facts and more. Healthline. Diakses pada 25 Oktober 2019.


Tags: