fbpx
LOGO

Selain Mengatasi Mual, Ini Manfaat Lain Mengonsumsi Jahe

July 21, 2020
IMG

Jahe (Zingiber officinale) adalah tanaman rempah yang memiliki hubungan erat dengan kunyit dan kapulaga. Tanaman ini umum digunakan pada pengobatan tradisional Cina dan Ayurveda India. Kandungan antioksidan, sifat anti-inflamasi dan kandungan senyawa terapeutik seperti gingerol, shogaol, paradol, dan zingerone.

 

Selain itu, jahe juga kaya akan kandungan vitamin dan mineral seperti potasium, zat besi, fosfor, magnesium, vitamin C, B3, dan B6. Hal ini menjadikan jahe memiliki manfaat luas bagi kesehatan antara lain memerangi infeksi, menurunkan kolesterol, meningkatkan penurunan berat badan, menghilangkan mabuk, hingga menjaga kesehatan otak. 

 

Jahe memiliki rasa pedas yang khas dan dapat dikonsumsi secara langsung atau ditumbuk. Suplemen ekstrak jahe juga tersedia dalam bentuk kapsul, ataupun minyak atsiri tanpa mengurangi atau menghilangkan manfaat sehat yang terkandung di dalamnya.

 

 

Manfaat

 

1. Menjaga Kesehatan Pencernaan

Jahe telah terbukti dapat menjaga kesehatan saluran pencernaan termasuk mencegah dispepsia yakni gangguan pencernaan kronis yang ditandai dengan nyeri, mulas, rasa penuh dan tidak nyaman pada perut akibat gerak atau motilitas lambung yang berlebihan.

 

Menurut sebuah penelitian di World Journal of Gastroenterology, pemberian jahe sebesar 1.2 gram per hari pada pasien dengan dispepsia membantu mempercepat pengosongan perut sebesar 25% dan mengurangi gejala ketidaknyamanan di perut dibandingkan dengan plasebo (1). 

 

Penelitian lain dilaksanakan terhadap 24 orang sehat menemukan bahwa mengonsumsi 1.2 gram bubuk jahe sebelum makan dapat mempercepat pengosongan lambung sebesar 50% (2).

 

Jahe juga diketahui mampu menurunkan kadar protein inflamasi dan menghalangi aktivitas enzim yang menyebabkan tukak lambung atau maag. Dalam penelitian percobaan pada hewan, bahwa bubuk jahe dapat mencegah tukak lambung yang diinduksi oleh aspirin (obat analgesik atau anti nyeri umum yang memiliki efek samping merusak dinding lambung apabila digunakan secara berkepanjangan)(3).

 

2. Mengobati Mual dan Muntah

Jahe telah digunakan secara historis sebagai pengobatan alami untuk mengatasi mabuk laut dan mual di pagi hari. Beberapa penelitina menunjukkan efektivitasnya sama seperti obat umum untuk anti mual dan muntah (4, 5).

 

Sebuah ulasan penelitian mengamati hasil 12 penelitian yang melibatkan 1.278 wanita hamil, dan menemukan fakta bahwa mengonsumsi 1,1 – 1,5 gram jahe per hari secara signifikan menurunkan gejala mual pada wanita hamil. Selain itu mengonsumsi jahe dengan dosis < 1,5 gram tidak menimbulkan risiko keguguran maupun efek samping lain seperti rasa terbakar di ulu hati ataupun mengantuk berlebihan (6). 

 

Beberapa penelitian lain juga menunjukkan manfaat jahe dalam membantu meredakan mual dan muntah pada pasien kanker yang menerima kemoterapi. Sebuah penelitian dilaksanakan dengan pemberian 0.5 – 1 gram kapsul berisi ekstrak jahe yang dikonsumsi 2 kali perhari selama 6 hari (3 hari sebelum dan 3 hari sesudah kemoterapi) pada pasien kanker dewasa. Setelah dievaluasi, kapsul jahe secara signifikan menurunkan rasa mual  pada saat menjalani kemoterapi (7, 8, 9).

 

3. Meredakan Nyeri Sendi dan Otot

Sifat anti-inflamasi pada jahe juga telah terbukti efektif untuk melawan nyeri otot akibat olahraga. Pada sebuah penelitian dilaksanakan pemberian 2 gram jahe per hari, selama 11 hari. Setelah dievaluasi, hasilnya secara signifikan menunjukkan penurunan nyeri otot terutama pada kelompok partisipan yang melakukan latihan siku (10).

 

Mengonsumsi ekstrak jahe, terutama dikombinasikan dengan obat pereda nyeri juga dapat mengurangi rasa ketidak nyamanan akibat osteoartritis lutut. Kombinasi tersebut dapat menurunkan rasa nyeri lutut pada waktu berjalan dan berdiri, dan juga diketahui membutuhkan lebih sedikit obat penghilang rasa sakit dibandingkan dengan kelompok penerima plasebo.

 

Namun konsumsi ekstrak jahe dapat menyebabkan efek samping ringan pada saluran pencernaan (11).

 

Studi lain menemukan bahwa mengoleskan krim yang mengandung kombinasi jahe, damar wangi, kayu manis dan minyak wijen, 2 kali per hari selama 6 minggu berturut-turut, dapat mengurangi rasa sakit dan kekakuan pada pasien osteoartritis. Penelitian ini juga menunjukkan efektivitas krim kombinasi herbal yang setara dengan penggunaan krim salisilat umum yang digunakan mengatasi nyeri persendian (12).

 

 

 

4. Meringankan Nyeri Menstruasi

Nyeri haid (dismenore) mengacu pada nyeri yang dirasakan selama siklus menstruasi pada wanita. Kandungan dalam jahe terbukti dapat membantu meringankan rasa nyeri dan sakit.

 

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2009 menyatakan bahwa mengonsumsi jahe dengan dosis 500 miligram tiga kali perhari selama 3 hari awal siklus menstruasi datang hingga 3 hari siklus baru dapat mengurangi intensitas dan durasi rasa sakit dibandingkan mengonsumsi jahe hanya pada 3 hari awal siklus menstruasi (13).

 

Penelitian lain juga dilaksankana dengan partisipan berjumlah 150 orang wanita yang diberikan terapi 1 gram bubuk jahe per hari, selama 3 hari pertama periode menstruasinya. Hasil penelitian tersebut menemukan bahwa jahe memiliki efektivitas yang sama dalam mengurangi rasa sakit seperti obat asam mefenamat dan ibuprofen (14).

 

5. Sebagai Anti – Kanker

Meskipun peradangan dapat menjadi respon imun yang normal dan sehat terhadap cedera dan infeksi, peradangan kronis diyakini sebagai penyebab utama untuk kondisi seperti penyakit jantung, obesitas, diabetes dan kanker.

 

Sebuah ulasan yang diterbitkan dalam International Journal of Preventive Medicine mencatat bahwa senyawa anti-inflamasi, seperti gingerol, shogaol, paradol dan zingerone dalam ekstrak jahe dapat membantu menghambat penanda peradangan sel kanker (15).

 

Penelitian lain yang menguji manfaat konsumsi jahe dalam menurunkan jumlah eikosanoid, yakni jenis penanda peradangan atau inflamasi yang meningkatkan risiko kanker pada usus besar dan usus halus.

 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama 28 hari, mengonsumsi 2 gram ekstrak jahe setiap hari mampu mengurangi eikosanoid pro-inflamasi di usus besar dan memberikan perlindungan terhadap kanker usus besar atau setidaknya mengurangi risiko terhadap jenis keganasan ini (16).

 

6. Melawan Infeksi Bakteri dan Jamur

Senyawa gingerol dalam jahe diketahui sangat baik dalam melawan berbagai infeksi yang disebabkan oleh bakteri dan jamur. Sebuah penelitian di tingkat sel menunjukkan bahwa gingerol dari jahe mampu menekan pertumbuhan bakteri gram negatif penyebab periodontis atau radang gigi dan gusi hingga 30 mikrogram/ml (17).

 

Selain itu kombinasi ekstrak bawang putih dan jahe diketahui dapat menekan pertumbuhan berbagai bakteri resisten yang kebal antibiotik, termasuk menekan pertumbuhan bakteri Psudomonas aeruginosa sebagai penyebab penyakit pneumonia atau infeksi kronis pada paru-paru (18).  

 

Pada infeksi jamur, ekstrak jahe diketahui merupakan ekstrak herbal yang paling efektif menekan pertumbuhan berbagai jamur patogen yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia. Bahkan dapat membunuh jamur yang resisten atau kebal terhadap obat jamur konvensional seperti amphotericin B dan ketoconazole (19). 

 

7. Mengatur Gula Darah

Diabetes merupakan salah satu penyakit gangguan regulasi gula darah yang terjadi akibat penurunan kualitas maupun kuantitas insulin penderitanya. Jahe juga bersifat reseptor antagonis bagi serotonin, menekan produksi serotonin sehingga meningkatkan sel beta pankreas untuk melepaskan insulin dalam aliran darah (20).

 

Sebuah penelitian dilaksanakan dengan memberikan 2 gram bubuk jahe per hari untuk dikonsumsi pasien diabtetes tipe 2 selama 12 minggu berturut-turut. Hasilnya secara signifikan dapat menurunkan gula darah puasa hingga 12%, menurunkan kadar HbA1-c serta menstabilkan kondisi kelebihan kolesterol pada partisipan (21). 

 

Pada penderita kelebihan berat badan atau obesitas, pemberian jahe sebesar 2 gram per hari bersama dengan makanan tinggi karbohidrat meningkatkan rerata metabolisme kalori hingga 43±21 kkal. Jahe menciptakan rasa kenyang lebih lama dan menekan nafsu makan pada partisipan (22). 

 

8. Memperbaiki Fungsi Kognitif 

Pada kelompok wanita lanjut usia, bubuk jahe diberikan sebanyak 400 – 800 miligram satu kali per hari selama dua bulan berturut-turut. Setelah dievaluasi, kelompok penerima terapi jahe memiliki fungsi kognitif dan daya ingat yang lebih baik dibandingkan kelompok penerima plasebo (23).

 

Gingerol dan shogaol dipercaya sebagai senyawa antioksidan dan anti peradangan yang dapat terikat pada asetilkolin sehingga mencegah terjadinya  kerusakan sel neuron pada penderita Alzheimer (24). 

 

 

Sumber Makanan

 

Akar tanaman jahe (Zingiber officinale)

 

 

Dosis Pemakaian

 

• Mencegah mual, morning sickness pada kehamilan, mabuk perjalanan, dan mual karena kemoterapi: Konsumsi 1-3 gram jahe per hari.

 

Meningkatkan motilitas usus: Konsumsi 1 gram jahe per hari.

 

• Nyeri haid (dismenore): Konsumsi 250 miligram ekstrak jahe spesifik (merk Zintoma, Goldaru) empat kali sehari, dimulai 3 hari pertama menstruasi. Bisa juga konsumsi 1500 miligram bubuk jahe setiap hari dalam hingga tiga dosis terbagi, dimulai sejak dua hari sebelum menstruasi dan berlanjut selama 3 hari pertama dari siklus menstruasi.

 

 

Interaksi Sinergi

 

• Magnolia officinalis: Mengonsumsinya bersamaan dengan jahe dapat meningkatkan efektivitas Magnolia officinalis sebagai anti-depresan.

 

Bawang putih: Kombinasi keduanya menjadi anti mikroba yang sangat baik untuk mencegah terjadinya pneumonia atau infeksi paru-paru kronis.

 

 

Efek Samping

 

Ketidaknyamanan perut

Mulas

Diare

Pendarahan menstruasi yang berlebih

Iritasi kulit

 

 

Kontraindikasi

 

Anak-anak: Aman diminum hingga 4 hari oleh remaja wanita pada awal siklus haid.

 

Ibu hamil dan menyusui: Dosis konsumsi jahe maksimum yang aman untuk ibu hamil adalah 1 gram per hari. Sebelum menggunakan jahe selama kehamilan atau menyusui, bicarakan dengan dokter Anda.

 

Gangguan pendarahan: Mengonsumsi jahe dapat meningkatkan risiko pendarahan.

 

Diabetes: Jahe dapat meningkatkan kadar insulin dan / atau menurunkan gula darah. Akibatnya, obat diabetes Anda mungkin perlu disesuaikan oleh penyedia layanan kesehatan Anda.

 

Kondisi jantung: Mengonsumsi jahe dalam dosis tinggi dapat memperburuk beberapa kondisi jantung.

 

Hindari mengkombinasikan jahe dengan beberapa obat-obatan berikut:

Antikoagulan seperti phenprocoumon dan warfarin (obat pengencer darah)

Obat anti-diabetes

Obat tekanan darah tinggi

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2014). Ginger. Examine. Diakses pada 08 Juli 2019.

Link, Rachael. (2018). 12 Major benefits of ginger for body and brain. Dr Axe. Diakses  pada 08 Juli 2019.

Leech, Joe. (2017). 11 Proven health benefits of ginger. Healthline. Diakses pada 08 Juli 2019.

WebMD. (2018). Ginger. WebMD. Diakses pada 08 Juli 2019.

Hu ML, Rayner CK, Wu KL, et al. Effect of ginger on gastric motility and symptoms of functional dyspepsia. World J Gastroenterol. (2011). 

Wu KL, Rayner CK, Chuah SK, et al. Effects of ginger on gastric emptying and motility in healthy humans. Eur J Gastroenterol Hepatol. (2008).

Wang Z, Hasegawa J, Wang X, et al. Protective effects of ginger against aspirin-induced gastric ulcers in rats. Yonago Acta Med. (2011).

Ernst E, Pittler MH. Efficacy of ginger for nausea and vomiting: a systematic review of randomized clinical trials. Br J Anaesth. (2000).

Schmid R, Schick T, Steffen R, Tschopp A, Wilk T. Comparison of seven commonly used agents for prophylaxis of seasickness. J Travel Med. (1994).

Viljoen E, Visser J, Koen N, Musekiwa A. A systematic review and meta-analysis of the effect and safety of ginger in the treatment of pregnancy-associated nausea and vomiting. Nutr J. (2014). 

Ryan JL, Heckler CE, Roscoe JA, et al. Ginger (Zingiber officinale) reduces acute chemotherapy-induced nausea: a URCC CCOP study of 576 patients. Support Care Cancer. (2012).

Chaiyakunapruk N, Kitikannakorn N, Nathisuwan S, Leeprakobboon K, Leelasettagool C. The efficacy of ginger for the prevention of postoperative nausea and vomiting: a meta-analysis. Am J Obstet Gynecol. (2006).

Pillai AK, Sharma KK, Gupta YK, Bakhshi S. Anti-emetic effect of ginger powder versus placebo as an add-on therapy in children and young adults receiving high emetogenic chemotherapy. Pediatr Blood Cancer. (2011).

Black CD, Herring MP, Hurley DJ, O’Connor PJ. Ginger (Zingiber officinale) reduces muscle pain caused by eccentric exercise. J Pain. (2010).

Altman RD, Marcussen KC. Effects of a ginger extract on knee pain in patients with osteoarthritis. Arthritis Rheum. (2001). 

Zahmatkash M, Vafaeenasab MR. Comparing analgesic effects of a topical herbal mixed medicine with salicylate in patients with knee osteoarthritis. Pak J Biol Sci. (2011). 

Rahnama P, Montazeri A, Huseini HF, Kianbakht S, Naseri M. Effect of Zingiber officinale R. rhizomes (ginger) on pain relief in primary dysmenorrhea: a placebo randomized trial. BMC Complement Altern Med. (2012). 

Ozgoli G, Goli M, Moattar F. Comparison of effects of ginger, mefenamic acid, and ibuprofen on pain in women with primary dysmenorrhea. J Altern Complement Med. (2009).

Mashhadi NS, Ghiasvand R, Askari G, Hariri M, Darvishi L, Mofid MR. Anti-oxidative and anti-inflammatory effects of ginger in health and physical activity: Review of current evidence. Int J Prev Med. (2013). 

Zick SM, Turgeon DK, Vareed SK, et al. Phase II study of the effects of ginger root extract on eicosanoids in colon mucosa in people at normal risk for colorectal cancer. Cancer Prev Res (Phila). (2011). 

Park M, Bae J, Lee DS. Antibacterial activity of [10]-gingerol and [12]-gingerol isolated from ginger rhizome against periodontal bacteria. Phytother Res. (2008). 

Karuppiah P, Rajaram S. Antibacterial effect of Allium sativum cloves and Zingiber officinale rhizomes against multiple-drug resistant clinical pathogens. Asian Pac J Trop Biomed. (2012). 

Ficker CE, Arnason JT, Vindas PS, et al. Inhibition of human pathogenic fungi by ethnobotanically selected plant extracts. Mycoses. (2003). 

Heimes K, Feistel B, Verspohl EJ. Impact of the 5-HT3 receptor channel system for insulin secretion and interaction of ginger extracts. Eur J Pharmacol. (2009). 

Khandouzi N, Shidfar F, Rajab A, Rahideh T, Hosseini P, Mir Taheri M. The effects of ginger on fasting blood sugar, hemoglobin a1c, apolipoprotein B, apolipoprotein a-I and malondialdehyde in type 2 diabetic patients. Iran J Pharm Res. (2015). 

Mansour MS, Ni YM, Roberts AL, Kelleman M, Roychoudhury A, St-Onge MP. Ginger consumption enhances the thermic effect of food and promotes feelings of satiety without affecting metabolic and hormonal parameters in overweight men: A pilot study. Metabolism. (2012).

Saenghong N, Wattanathorn J, Muchimapura S, et al. Zingiber officinale improves cognitive function of the middle-aged healthy women. Evid Based Complement Alternat Med. (2012). 

Azam F, Amer AM, Abulifa AR, Elzwawi MM. Ginger components as new leads for the design and development of novel multi-targeted anti-Alzheimer’s drugs: A computational investigation. Drug Des Devel Ther. (2014).


Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,