fbpx
LOGO

Sindrom Usus Bocor, Kondisi Medis yang Dianggap Tak Nyata

October 21, 2020
IMG

Usus dilindungi oleh satu lapisan sel epitel khusus yang dihubungkan oleh protein junction ketat. Namun ada suatu kondisi pencernaan yang memengaruhi lapisan usus, dan ini dinamakan sindrom usus bocor atau permeabilitas usus.

 

Pada sindrom usus bocor, bakteri dan patogen lainnya dapat memasuki aliran darah dan usus melalui celah pada dinding usus. 

 

Meskipun para ahli belum tahu persis apa yang menyebabkan sindrom usus bocor, namun terdapat berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan kondisi ini terjadi seperti respon autoimun, pemilihan makanan yang buruk, stres kronis, keracunan, dan ketidakseimbangan bakteri usus (dysbiosis).

 

Hingga kini belum ada hubungan sebab akibat yang secara resmi ditetapkan, namun usus bocor berkorelasi dengan sejumlah besar masalah dan penyakit. Hanya saja, penderita usus bocor lebih cenderung memiliki sejumlah masalah kesehatan lainnya.

 

 

Gejala  Sindrom Usus Bocor

 

Berikut ini beberapa tanda sindrom usus bocor:

 

1. Menjadi lebih peka terhadap antigen dalam makanan tertentu (terutama  gluten  dan susu)

Dalam studi yang mengaitkan usus bocor dan alergi makanan yang melibatkan tikus dan anak-anak manusia, peneliti meyakini alergi menjadi salah satu gejala usus bocor yang paling umum.

 

2. Penyakit radang usus

Penelitian tahun 2012 mengatakan permeabilitas usus yang tinggi seringkali terlokalisasi pada usus besar pada orang yang menderita sindrom iritasi usus besar dan  kolitis ulserativa (1). Penelitian lebih lanjut dengan skala besar diperlukan untuk mengetahui kaitan keduanya.

 

3. Penyakit autoimun

Usus bocor dapat menyebabkan penyakit autoimun jalur zonulin. Zonulin terlibat dalam pengangkutan makromolekul dan keseimbangan toleransi atau respon imun.

 

Ketika jalur zonulin yang disetel halus dideregulasi pada individu yang rentan secara genetik, gangguan autoimun usus dan ekstraintestinal, inflamasi, dan neoplastik dapat terjadi. Ini dapat dipicu oleh gluten, yang mengarah pada peningkatan permeabilitas usus terhadap makromolekul (2, 3).

 

Berita baiknya adalah, peran usus bocor dalam kondisi autoimun dapat dibalik dan berpotensi meredakan beberapa respons imun yang bermasalah ini (4).

 

4. Masalah tiroid atau penyakit Hashimoto

Usus bocor seringkali ditandai dengan hipotiroidisme (fungsi tiroid rendah), gangguan metabolisme, kelelahan, depresi, penambahan berat badan dan sejumlah masalah lainnya.

 

5. Malabsorpsi nutrisi

Orang dengan sindrom usus bocor akan mengalami defisiensi nutrisi, termasuk vitamin B12, magnesium, dan  enzim pencernaan.

 

6. Masalah pada kulit

Kesehatan sus dan pencernaan telah lama dikaitkan dengan kondisi kulit. Hal ini juga terlihat dalam kondisi sindrom usus bocor yang dapat menyebabkan banyak masalah kulit, terutama jerawat dan psoriasis (5).

 

7. Masalah suasana hati dan autisme

Usus bocor telah terbukti menyebabkan berbagai gangguan neurokognitif, salah satunya depresi.

 

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutritional Neuroscience  menggambarkan hubungan antara gangguan sistem kekebalan tubuh, dysbiosis, usus bocor, dan senyawa neurokimia sebagai lingkaran setan.

 

Mereka juga menunjukkan bahwa autisme mungkin berkaitan dengan masalah di mikrobioma usus, terutama dalam tahun pertama kehidupan. Hal ini sejalan dengan hipotesis umum dalam sains modern (6, 7).

 

 

Mitos Usus Bocor

 

Sebagian besar dokter konvesional tidak menganggap sindrom usus bocor nyata, karena usus merupakan organ sistem kekebalan tubuh terbesar manusia, dan mereka masih menganggap ini sebagai misteri medis.

 

National Health Service (NHS) Inggris pun ikut memperlihatkan kebingungannya dengan mengatakan bahwa saat ini hanya ada sedikit bukti untuk mendukung teori  usus bocor sebagai penyebab langsung dari banyak masalah kesehatan (8).

 

Namun, sebuah ulasan menyetujui bahwa perubahan pelindung usus mungkin dapat menimbulkan berbagai penyakit tergantung pada faktor seperti genetik atau  epigenetik.

 

Meningkatnya signifikansi pelindung usus dan translokasi bakteri menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana kita dapat meningkatkan fungsi pelindung usus dan mikrobiota usus.

 

 

Perawatan dan Pengobatan

 

Walaupun tidak semua lembaga dan komunitas menganggap sindrom usus bocor adalah nyata, namun jika Anda ingin mencoba mengobatinya terdapat empat langkah dasar yang direkomendasikan untuk mengobati usus bocor:

 

1. Hilangkan makanan dan faktor lain yang dapat menyebabkan kerusakan usus

 

2. Ubah menu makanan Anda dengan menu diet penyembuhan usus bocor

 

3. Memperbaiki usus bocor dengan konsumsi suplemen usus bocor spesifik, seperti asam butirat

 

4. Jaga keseimbangan mikrobioma usus Anda dengan probiotik (bakteri baik)

 

Sebisa mungkin hilangkan makanan olahan dalam menu makan Anda, termasuk biji-bijian yang tidak bertunas, gula tambahan, GMOs (Genetically modified organisms), minyak olahan, aditif sintetis dan produk susu konvensional.

 

Anda dapat melakukan diet  penyembuhan sindrom usus bocor, dengan makanan yang terdiri dari:

Kaldu tulang

Produk susu (seperti kefir, yogurt, amasai, mentega, dan raw cheese)

Sayuran fermentasi dan makanan probiotik lainnya

Produk kelapa

Biji kecambah (seperti biji chia, biji rami dan biji rami)

Rempah rempah

Makanan dengan asam lemak omega-3 , terutama salmon dan ikan tangkapan liar lainnya

 

Makanan padat nutrisi lainnya (seperti daging sapi yang diberi makan rumput, domba, sayuran segar lainnya dan sebagian besar buah-buahan, cuka sari apel, sayuran laut, dan makanan super lainnya).

 

Anda juga dapat berkonsultasi dengan dokter untuk masalah ini.

 

 

Referensi

Axe J. (2018). Leaky gut syndrome: 7 signs you may have it, diakses pada 28 Oktober 2019.

Eske J. (2019). What to know about leaky gut syndrome. Medical News Today. Diakses pada 28 Oktober 2019.

Gecse K, Róka R. Leaky gut in patients with diarrhea-predominant irritable bowel syndrome and inactive ulcerative colitis. Digestion. (2012).

Fasano A. Zonulin and its regulation of intestinal barrier function: the biological door to inflammation, autoimmunity, and cancer. Physiol Rev. (2011).

Drago S, El Asmar R, et al. Gliadin, zonulin and gut permeability: Effects on celiac and non-celiac intestinal mucosa and intestinal cell lines. Scand J Gastroenterol. (2006).

Fasano A. Zonulin, regulation of tight junctions, and autoimmune diseases. Ann N Y Acad Sci. (2012).

Bowe WP, Logan AC. Acne vulgaris, probiotics and the gut-brain-skin axis – back to the future?. Gut Pathogens. (2011). 

Mezzelani A, Landini M, Facchiano F, et al. Environment, dysbiosis, immunity and sex-specific susceptibility: A translational hypothesis for regressive autism pathogenesis. Nutr Neurosci. (2015).

Coury DL, Ashwood P, et al. Gastrointestinal conditions in children with autism spectrum disorder: Developing a research agenda. Pediatrics. (2012).

NHS. (2018). Leaky gut syndrome. NHS. Diakses pada 28 Oktober 2019.


Tags: