fbpx
LOGO

Sugar Rush Hanyalah Mitos, Begini Penjelasannya

August 17, 2020
IMG

Karbohidrat dipercaya dapat meningkatkan serotonin, zat alami pada tubuh manusia yang mengatur suasana hati seseorang dan mencegah depresi, bahkan dapat meningkatkan kinerja kognitif. Salah satu yang termasuk karbohidrat sederhana adalah gula. Gula dianggap dapat mempengaruhi suasana hati dan kinerja sesorang. Mengonsumsi gula dalam jumlah besar dapat menghasilkan efek fisik dan psikologis yang tinggi. 

 

Dari akhir 1970-an hingga awal 2000-an, asupan energi dari minuman manis meningkat sebesar 135 persen. Iklan minuman ringan manis seringkali mengklaim produknya mampu meningkatkan suasana hati dan mencegah kelelahan. Data sebuah penelitian selama 1988-1994 dan 1999-2000 menemukan bahwa penyumbang nomor satu asupan energi untuk kedua periode tersebut adalah minuman ringan. 

 

Klaim tersebut menghasilkan istilah baru yang disebut dengan sugar rush. Sugar rush adalah kondisi dimana seseorang merasa berenergi dan menjadi sangat aktif. Semburan energi tersebut akan menghasilkan kelelahan karena banyaknya energi yang terpakai. 

 

 

Sugar Rush: Mitos atau Fakta?

 

Selama 25 tahun, istilah sugar rush sangat populer. Hal tersebut dapat terlihat bahwa makanan dan minuman manis dipercaya dapat meningkatkan energi. 

 

Sebuah hipotesis tentang serotonin menyatakan bahwa mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat rendah protein mampu meningkatkan jumlah neurotransmitter serotonin karena meningkatkan jumlah triptofan di otak. Semakin tinggi karbohidrat, maka semakin tinggi pula serotonin dalam otak yang mampu memengaruhi kesejahteraan emosional.

 

Teori tersebut didukung oleh laporan individu yang menderita gangguan mood seperti depresi dan kecemasan yang cenderung melakukan swa-medikasi (pengobatan sendiri oleh pasien) dengan mengonsumsi makanan tinggi karbohidrat (1).

 

Namun, penelitian yang dilakukan pada tahun 1980-an gagal mengamati peningkatan triptofan atau serotonin setelah makan, kecuali pada makanan yang bebas protein. Kemampuan protein makanan berbeda dengan karbohidrat dalam menekan peningkatan rasio triptofan plasma yang diinduksi karbohidrat (2, 3).  Penelitian tersebut menyimpulkan sejumlah kecil protein dapat mengganggu peningkatan serotonin.

 

Meta-analisis yang diterbitkan pada tahun 1995 juga menunjukkan bahwa gula tidak memiliki efek positif pada perilaku atau kinerja kognitif pada anak-anak (4). Bahkan, mengonsumsi gula dalam dosis tinggi dan jangka panjang dapat menghasilkan efek negatif pada kesehatan mental (5).

 

Sebuah meta-analisis RCT mengevaluasi efek konsumsi karbohidrat terisolasi akut dalam berbagai parameter psikologis, termasuk kewaspadaan, depresi, ketenangan, kelelahan, kebingungan, ketegangan, dan kemarahan. Mereka juga melihat efek dari asupan gula setelah jangka waktu yang berbeda, dengan menjalankan analisis terpisah pada menit ke – 30, 60, dan lebih dari 60 menit.

 

Meta-analisis ini menguji 31 studi dengan total 1.259 peserta dengan usia rata-rata di bawah 30 tahun. Sebagian besar penelitian menggunakan glukosa (n = 16), sukrosa (n = 4), atau kombinasi keduanya (n = 3), sementara beberapa menggunakan maltodekstrin (n = 1) atau karbohidrat yang tidak ditentukan (n = 7) (6).

 

Hasil ulasan tersebut menunjukkan efek positif pada suasana hati di menit ke-60 setelah konsumsi karbohidrat. Namun, tidak ada efek positif konsisten yang ditemukan antara asupan karbohidrat dan suasana hati. Disisi lain, hasil penelitian lain menemukan efek merugikan. Mengonsumsi gula dapat menurunkan tingkat kewaspadaan dan menyebabkan kelelahan setelah satu jam konsumsi. Sehingga, hasil gagasan bahwa karbohidrat dapat meningkatkan suasana hati tidak terbukti (7, 8).

 

Dari hasil penelitian yang telah diuraikan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa sugar rush hanyalah mitos. Salah satu peneliti, Prof Elizabeth Maylor dari University of Warwick berharap agar temuan tersebut mampu menghilangkan mitos ‘demam gula’ (sugar rush) dan menyarankan masyarakat untuk mengonsumsi gula secara bijak (9).

 

 

Benarkah gula dapat meningkatkan memori?

 

Otak membutuhkan sekitar 100-150 gram glukosa per hari agar dapat berfungsi secara maksimal. Akan tetapi, sebuah studi menunjukkan bahwa keton (metabolit lemak) dapat mengisi 60-70% dari kebutuhan energi otak, dan organ hati dapat membuat glukosa yang cukup untuk istirahat (10).

 

Namun, sebuah tinjauan menunjukkan bahwa 25 gram glukosa dapat memfasilitasi memori, tetapi diperlukan penelitian lebih lanjut untuk meneliti kemanjuran karbohidrat untuk tugas-tugas kognitif lainnya, seperti kecepatan pemrosesan dan pemecahan masalah. 

 

 

 

Kesimpulan

 

Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa sugar rush hanyalah mitos belaka. Namun, para peneliti juga menjelaskan bahwa dibutuhkan lebih banyak penelitian tambahan untuk memahami bagaimana gula dapat mempengaruhi kelompok orang yang berbeda dan interaksinya dengan bahan-bahan lain.

 

Penelitian di masa depan perlu mengeksplorasi potensi manfaat gula dalam populasi lain, misalnya individu dengan gangguan mood, dan potensinya terhadap kenaikan berat badan. Selain itu, peneliti juga harus mampu memastikan apakah asupan karbohidrat terisolasi seperti makanan ringan (cokelat batangan dan keripik) memiliki efek positif. Hal ini karena banyak orang tertarik membeli cokelat batangan ketika mereka ingin melawan kelelahan dan meningkatkan mood mereka.

 

 

Referensi:

Patel, Kamal. (2019). The myth of the sugar rush. Examine. Diakses pada 01 Agustus 2019. 

Wurtman RJ, Wurtman JJ. Brain serotonin, carbohydrate-craving, obesity and depression. Obes Res. (1995). 

Teff KL, Young SN, Blundell JE. The effect of protein or carbohydrate breakfasts on subsequent plasma amino acid levels, satiety and nutrient selection in normal males. Pharmacol Biochem Behav. (1989). 

Yokogoshi H, Wurtman RJ. Meal composition and plasma amino acid ratios: Effect of various proteins or carbohydrates, and of various protein concentrations. Metabolism. (1986).

Wolraich ML, Wilson DB, White JW. The effect of sugar on behavior or cognition in children: A meta-analysis. JAMA. (1995). 

Knüppel A, Shipley MJ, Llewellyn CH, et al. Sugar intake from sweet food and beverages, common mental disorder and depression: prospective findings from the Whitehall II study. Sci Rep. (2017).

Mantantzis K, Schlaghecken F, Sünram-Lea SI, Maylor EA. Sugar rush or sugar crash? A meta-analysis of carbohydrate effects on mood. Neuroscience & Biobehavioral Reviews. (2019). 

van de Rest O, van der Zwaluw NL, de Groot LCPGM. Effects of glucose and sucrose on mood: A systematic review of interventional studies. Nutr Rev. (2018).

Lieberman HR, Falco CM, Slade SS. Carbohydrate administration during a day of sustained aerobic activity improves vigilance, as assessed by a novel ambulatory monitoring device, and mood. Am J Clin Nutr. (2002). 

Newman, Tim. (2019). Is the ‘sugar rush’ a myth?. Medical News Today. Diakses pada 01 Agustus 2019.

Owen OE, Morgan AP, Kemp HG, Sullivan JM, Herrera MG, Cahill GF Jr. Brain metabolism during fasting. J Clin Invest. (1967).