fbpx
LOGO

Tiamin (Thiamine), Vitamin B Pertama Sebagai Nootropik

September 17, 2020
IMG

Vitamin B1 atau tiamin adalah vitamin B pertama yang ditemukan oleh peneliti. Tiamin adalah koenzim yang digunakan oleh tubuh untuk memetabolisme makanan untuk energi, serta untuk mempertahankan fungsi jantung, saraf, dan otak yang tepat. 

 

Tiamin merupakan salah satu obat nootropik. Nootropik adalah suplemen yang bekerja sebagai penguat otak, diantaranya termasuk meningkatkan fungsi kognisi, memori, kemampuan belajar, fokus, mengurangi stres, dan tanpa menghasilkan efek samping yang signifikan.

 

Sebagai contoh, Tiamin yang terkandung di dalam susu menyebabkan suasana hati lebih baik dan mampu meningkatkan fungsi kognitif di waktu bersamaan. Efek yang sama bahkan lebih bisa didapat melalui suplementasi Tiamin, tanpa mengkonsumsi susu. 

 

Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai nootropik, Anda dapat membaca artikel kami lainnya dengan judul Apa itu nootropik?

 

Sulbutiamin merupakan turunan tiamin dan lebih tersedia secara biologis daripada tiamin standar, sehingga dikatakan jauh lebih efektif. Sulbutiamin larut dalam lemak, sementara tiamin larut dalam air, yang membantunya lebih mudah melewati sawar darah-otak. Sayangnya tubuh hanya menyimpan vitamin B1 selama 14 hari.

 

 

Manfaat

 

1. Mengoptimalkan kinerja & kesehatan otak

Tiamin sangat penting untuk kesehatan dan kinerja otak, seperti meningkatkan fokus, proses pembelajaran, tingkat energi, dan mencegah hilangnya ingatan. Tiamin juga memiliki sifat anti-inflamasi serta berperan dalam pengambilan keputusan yang baik.

 

Hal ini dikarenakan tiamin memproduksi neurotransmitter asetilkolin (Ach) yang berperan dalam mengkomunikasikan sinyal antar sel di otak (1).

 

2. Meningkatkan suasana hati

Tiamin berperan dalam meningkatkan suasana hati, termasuk melawan depresi dan kecemasan. Hal ini dikarenakan tiamin berfungsi meningkatkan energi tubuh, sehingga membantu tubuh bertahan dalam keadaan tertekan. Para peneliti mengatakan tiamin merupakan anti-depresan yang sangat efektif.

 

3. Mencegah sindrom Wernicke-Korsakoff

Tiamin meningkatkan kadar tiamin pirofosfat (TPP). TPP terlibat langsung dalam siklus asam sitrat (siklus Krebs yaitu siklus yang digunakan organisme aerobic untuk menghasilkan energy berupa ATP dalam tubuh) di otak.

 

Siklus ini memecah asam lemak, asam amino dan monosakarida menjadi molekul yang lebih kecil yang menghasilkan energi adenosin trifosfat (ATP) untuk mitokondria, dan menyediakan blok bangunan molekul yang dibutuhkan untuk menghasilkan sel-sel otak.

 

Kekurangan TPP dapat menyebabkan gangguan pada otak yang disebut sindrom Wernicke-Korsakoff. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh alkoholisme kronis. Namun juga bisa terjadi setelah tindakan operasi obesitas (bariatric), penyakit Crohn, anoreksia, diabetes, dan dialisis ginjal.

 

Gejala sindrom Wernicke-Korsakoff antara lain kebingungan, ketidakmampuan untuk membentuk ingatan, kehilangan ingatan dan koordinasi otot, omongan (mengarang cerita), perubahan penglihatan, dan pada akhirnya dapat dengan sangat cepat menyebabkan koma dan kematian.

 

4. Mengatasi gejala fibromyalgia

Fibromyalgia merupakan kondisi rasa nyeri yang dirasakan di sekujur tubuh, dan sering ditandai dengan perubahan suasana hati, kelelahan, gangguan tidur. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak gejala fibromyalgia dikaitkan dengan defisiensi tiamin ringan akibat disfungsi transpor aktif tiamin dari darah ke mitokondria. 

 

Sebuah penelitian kecil yang melibatkan 3 pasien wanita fibromyalgia menemukan bahwa suplementasi tiamin dengan dosis 600 mg hingga 1800 mg per hari mampu mengurangi kelelahan dan rasa sakit. Suplementasi tiamin juga tidak menghasilkan efek samping signifikan (2).

 

5. Mengatasi kelelahan kronis

Penelitian terdahulu menemukan bahwa kelelahan dan gangguan terkait seperti penyakit radang usus membaik setelah terapi dengan tiamin dosis tinggi. Hal ini terbukti dalam sebuah penelitian di Italia.

 

Pemberian tiamin dosis tinggi mampu mengurangi kelelahan kronis pada pasien stroke. Para peneliti menyimpulkan bahwa kelelahan pasca-stroke dan gangguan terkait bisa menjadi manifestasi dari defisiensi tiamin. Hal ini mungkin dikarenakan disfungsi transportasi intraseluler tiamin, atau kelainan enzim lainnya (3).

 

Pada pasien penderita sindrom Tiroiditis Hashimoto, mengonsumsi suplemen tiamin juga dapat mengurangi kelelahan parsial ataupun kelelahan total dalam beberapa jam atau hari. Tiroiditis Hashimoto adalah penyakit autoimun dan merupakan penyebab hipotiroidisme (4).

 

 

 

Sumber Alami Tiamin 

 

Tiamin dapat ditemukan pada makanan dan minuman yang sering ditemui yaitu:

 

• Lentil atau miju-miju (jenis kacang-kacangan dengan bentuk yang menyerupai kacang hijau). 

 

• Biji-bijian utuh atau whole grain seperti gandum, oat, jagung, beras, quinoa, sorghum dan barley.

 

Daging merah (daging sapi, daging domba, daging kambing dan daging kuda serta daging bebek ataupun angsa).

 

Ragi.

 

Kacang-kacangan.

 

• Biji bunga matahari.

 

Kacang polong.

 

Susu.

 

Kembang kol.

 

Bayam.

 

 

Rekomendasi Dosis Vitamin B1 

 

Untuk mendapat manfaat nootropik, Anda bisa mengonsumsi vitamin B1 dengan dosis 50 – 100 mg per hari. Adapun dosis harian yang disarankan untuk ibu hamil atau menyusui adalah 1,4 mg per hari. 

 

 

Interaksi Sinergi

 

Tiamin aman dikombinasikan dengan suplemen nootropik lain, terutama keluarga racetam seperti piracetam dan aniracetam.

 

 

Defisiensi

 

Kasus defisiensi yang tidak terlalu parah adalah kelelahan, penurunan berat badan, mudah marah, dan kebingungan. Kekurangan tiamin akan menyebabkan kurangnya kadar tiamin pirofosfat (TPP) dan berakhir pada sindrom Wernicke-Korsakoff.

 

 

Efek Samping

 

Keringat berlebih

Gelisah

Kelelahan

Reaksi alergi parah (anafilaksis)

Perubahan warna kulit

Pembengkakan kulit

Mual

 

 

Kontraindikasi

 

Beberapa kondisi yang harus diperhatikan dalam mengonsumsi Tiamin yaitu:

Alergi terhadap vitamin B1

Hipersensitif

 

 

Referensi:

Tomen D. (2018). Vitamin b1(thiamine). Nootropics Expert. Diakses pada 23 September 2019.

Chunha JP. (2018). Thiamine. RxList. Diakses pada 23 September 2019.

Martin PR, Singleton CK, Hiller–Sturmhöfel S. The role of thiamine deficiency in alcoholic brain disease. Alcohol Research & Health. (2003). 

Costantini A, Pala MI, Tundo S, Matteucci P. High-dose thiamine improves the symptoms of fibromyalgia. BMJ Case Rep. (2013).

Costantini A, Pala MI, Catalano ML, Notarangelo C, Careddu P. High-dose thiamine improves fatigue after stroke: A report of three cases. J Altern Complement Med. (2014). 

Costantini A, Pala MI. Thiamine and Hashimoto’s thyroiditis: A report of three cases. J Altern Complement Med. (2014).


Tags: , , , ,